5/5 (1) Unsur Unsur Kebudayaan Antropologi

Unsur-Unsur Kebudayaan Antropologi – Bertemu lagi bareng kita, budisyaqier.com yang senantiasa membahas mengenai segala ilmu pengetahuan yang pastinya perlu kalian ketahui. Dan kali ini budisyaqier.com berkesempatan untuk membahas Unsur Unsur Kebudayaan Antropologi. Mari langsung saja simak baik-baik ulasan di bawah.

Mempelajari unsur-unsur yang terdapat dalam sebuah kebudayaan sangat penting untuk memahami beberapa unsur kebudayaan manusia. Kluckhon dalam bukunya yang berjudul Universal Categories of Culture membagi kebudayaan yang ditemukan pada semua bangsa di dunia dari sistem kebudayaan yang sederhana seperti masyarakat pedesaan sampai sistem kebudayaan yang kompleks seperti masyarakat perkotaan. Kluckhon membagi sistem kebudayaan menjadi tujuh unsur kebudayaan universal atau disebut dengan kultural universal. Menurut Koentjara- ningrat, istilah universal menunjukkan bahwa unsur-unsur kebudayaan bersifat universal dan dapat ditemukan di dalam kebudayaan semua bangsa yang tersebar di berbagai penjuru dunia. Ketujuh unsur kebudayaan itu merupakan bahasa, sistem pengetahuan, sistem organisasi sosial, sistem peralatan hidup serta teknologi, sistem ekonomi serta mata pencaharian hidup, sistem religi, dan kesenian.

Sistem Bahasa

Bahasa adalah sarana bagi manusia untuk memenuhi keperluan sosialnya untuk berinteraksi atau berhubungan dengan sesamanya. Dalam pengetahuan antropologi, studi tentang bahasa disebut dengan istilah antropologi linguistik. Menurut Keesing, kemampuan manusia dalam membangun tradisi budaya, menciptakan pemahaman tentang fenomena sosial yang diungkapkan dengan simbolik, serta mewariskannya kepada generasi penerusnya sangat bergantung pada bahasa. Dengan demikian, bahasa menduduki porsi yang penting dalam analisa kebudayaan manusia.

Bahasa Salah satu kelebihan manusia adalah adalah komunikasi. Jadi, bahasa merupakan kemampuannya untuk berkomunikasi kan unsur universal kebudayaan yang dengan orang lain dengan menggunakan dikembangkan oleh manusia karena bahasa. Perkembangan bahasa, baik lisan, kebutuhan komunikasi dengan orang lain, tulisan, maupun gerakan (isyarat) berbeda- baik dalam kelompok maupun di luar beda antara kebudayaan yang satu dengan kelompoknya. kebudayaan yang lain. Esensi bahasa

Menurut Koentjaraningrat, unsur bahasa atau sistem perlambangan manusia secara lisan atau tertulis untuk ber- komunikasi adalah deskripsi tentang ciri-ciri terpenting dari bahasa yang diucapkan oleh suku bangsa yang bersangkutan beserta variasi- variasi dari bahasa itu. Ciri-ciri menonjol dari bahasa suku bangsa itu bisa di jabarkan dengan cara membandingkannya dalam klasifikasi bahasa-bahasa sedunia pada rumpun, subrumpun, keluarga serta subkeluarga. Menurut Koentjaraningrat menentukan batas wilayah penyebaran suatu bahasa tidak gampang sebab wilayah perbatasan tempat tinggal individu adalah tempat yang begitu intensif dalam berinteraksi sehingga proses saling memengaruhi perkembangan bahasa sering terjadi.

Baca Juga : Pengertian Wujud Kebudayaan

Selain mempelajari mengenai asal usul suatu bahasa tertentu ditinjau dari kerangka bahasa dunia, dalam antropologi linguistik dipelajari masalah dialek atau logat bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi antara berbagai masyarakat yang tinggal di satu rumpun atau satu daerah seperti Jawa. Dalam bahasa Jawa terdapat bahasa Jawa halus seperti bahasa Jawa dialek Solo serta Yogyakarta, sedang dialek bahasa Jawa yang dianggap kasar seperti dialek bahasa Jawa Timur. Perbedaan bahasa menurut lapisan sosial dalam masyarakat disebut tingkat sosial bahasa atau social levels of speech. Dalam analisis antropologi kontemporer bahasa sering dikaitkan dengan konsep serta teori semiotika atau sintaksis yang tidak dibahas secara mendetail dalam antropologi, tapi dibahas secara mendalam dalam studi ilmu linguistik yang disebut sebagai sosiolinguistik.

Sistem Pengetahuan

Sistem pengetahuan dalam kultural universal terkait dengan sistem peralatan hidup serta teknologi karena sistem pengetahuan berbentuk abstrak serta berwujud di dalam ide manusia. Sistem pengetahuan begitu luas batasannya sebab meliputi pengetahuan manusia mengenai berbagai unsur yang digunakan dalam kehidupannya. Namun, yang menjadi kajian dalam antropologi merupakan bagaimana pengetahuan manusia dipakai untuk menjaga hidupnya. Contohnya, masyarakat umumnya mempunyai pengetahuan akan astronomi tradisional, yaitu perhitungan hari berdasarkan atas bulan atau benda-benda langit yang dianggap memberi tanda- tanda bagi kehidupan manusia.
Masyarakat pedesaan yang hidup dari bertani akan mempunyai sistem kalender pertanian tradisional yang dimaksud sistem pranatamangsa yang sejak dahulu telah dipakai oleh nenek moyang untuk menjalankan aktivitas pertaniannya. Menurut Marsono pranatamangsa dalam masyarakat Jawa telah dipakai sejak lebih dari 2000 tahun yang lalu. Sistem pranatamangsa digunakan untuk menentukan kaitan antara tingkat curah hujan dengan kemarau. Melalui sistem ini para petani akan mengetahui kapan waktu mulai mengolah tanah, waktu menanam, serta waktu memanen hasil pertaniannya karena semua aktivitas pertaniannya didasarkan pada siklus peristiwa alam.
Masyarakat wilayah pesisir pantai yang bekerja sebagai nelayan menggantungkan hidupnya dari laut sehingga mereka harus mengetahui keadaan laut untuk menentukan waktu yang baik untuk menangkap ikan di laut. Pengetahuan tentang kondisi laut itu diperoleh melalui tanda-tanda atau letak gugusan bintang di langit. Pengetahuan dalam penelitian etnografi adalah aktivitas atau kemampuan suatu masyarakat yang dipandang menonjol oleh seorang etnografer atau masyarakat kebudayaan lain. Contohnya, pengetahuan orang Irian yang tinggal di rawa-rawa untuk berburu buaya pada malam hari dengan menggunakan peralatan yang begitu sederhana. Menurut Koentjaraningrat, sistem pengetahuan pada awalnya belum menjadi pokok perhatian dalam penelitian beberapa antropolog sebab mereka beranggapan jika masyarakat atau kebudayaan di luar bangsa Eropa tidak mungkin mempunyai sistem pengetahuan yang lebih maju. Namun, anggapan itu itu mulai bergeser secara lambat laun sebab kesadaran bahwa tidak ada suatu masyarakat pun yang dapat hidup jika tidak memiliki pengetahuan mengenai alam sekelilingnya serta sifat-sifat dari peralatan hidup yang digunakannya.
Banyak suku bangsa yang tidak bisa bertahan hidup apabila mereka tidak mengetahui dengan cermat pada musim-musim apa berbagai jenis ikan pindah ke hulu sungai. Selain itu, manusia tidak dapat membuat alat-alat apabila tidak tahu dengan teliti ciri- ciri bahan mentah yang mereka gunakan untuk membuat alat-alat tersebut . Setiap kebudayaan selalu mempunyai suatu himpunan pengetahuan tentang alam, tumbuh-tumbuhan, binatang, benda, serta manusia yang ada di sekitarnya. Menurut Koentjaraningrat, setiap suku bangsa di dunia mempunyai pengetahuan mengenai, antara lain

  1. alam sekitarnya;
  2. tumbuhan yang tumbuh di sekitar daerah tempat tinggalnya;
  3. binatang yang hidup di daerah tempat tinggalnya;
  4. zat-zat, bahan mentah, dan benda-benda dalam lingkungannya;
  5. tubuh manusia;
  6. sifat-sifat dan tingkah laku manusia;
  7. ruang dan waktu

Pengetahuan tentang alam sekitar, beru- pa pranatamangsa, musim, sifat-sifat gejala alam, dan perbintangan digunakan untuk berburu, berladang, bertani, dan melaut. Pengetahuan tentang tumbuhan dan hewan digunakan untuk melengkapi aktivitas mata pencaharian manusia. Pengetahuan tentang sifat-sifat zat yang ada di lingkungan sekitar manusia berfungsi untuk membuat peralatan dan teknologi bagi kebutuhan hidupnya. Pengetahuan tentang tubuh manusia diguna- kan untuk kebutuhan pengobatan yang dila- kukan dukun yang mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan penyakit seseorang.

Sistem Kekerabatan dan Organisasi Sosial

Unsur budaya berupa sistem kekerabatan serta organisasi sosial adalah usaha antropologi untuk mengerti bagaimana manusia membentuk masyarakat melalui berbagai kelompok sosial. Menurut Koentjaraningrat tiap kelompok masyarakat kehidupannya diatur oleh adat istiadat serta aturan-aturan tentang berbagai macam kesatuan di dalam lingkungan di mana ia hidup serta berkawan dari hari ke hari. Kesatuan sosial yang paling dekat serta dasar merupakan kerabatnya, yakni keluarga inti yang dekat serta kerabat yang lain. Selanjutnya, manusia akan digolongkan ke dalam tingkatan- tingkatan lokalitas geografis untuk membentuk organisasi sosial dalam kehidupannya.
Kekerabatan berkaitan dengan pengertian tentang perkawinan dalam suatu masyarakat sebab perkawinan adalah inti atau dasar pembentukan suatu komunitas atau organisasi sosial. Perkawinan disimpulkan sebagai penggabungan dua orang yang berbeda jenis kelamin untuk membagi sebagian besar hidup mereka bersama- sama. Tetapi, pengertian perkawinan itu dapat diperluas karena aktivitas tersebut mengandung berbagai unsur yang melibatkan kerabat luasnya.

Jenis Perkawinan

Dilihat dari jenis perkawinan, Marvin Harris menge- lompokkan perkawinan menjadi beberapa macam, antara lain sebagai berikut.

  • Monogami, yakni menikah dengan satu orang
  • Poligami, yakni menikah dengan beberapa
  • Poliandri, yakni seorang perempuan menikahi beberapa orang laki-laki.
  • Poligini, yakni satu orang laki-laki menikahi beberapa orang
  • Perkawinan kelompok (group marriage), yakni jenis per- kawinan yang memperbolehkan laki-laki dengan beberapa wanita dapat melakukan hubungan seks satu sama
  • Levirat, yakni perkawinan antara seorang janda dengan saudara laki-laki suaminya yang sudah
  • Sororat, yakni perkawinan antara seorang duda dengan saudara perempuan istri yang sudah

Prinsip Jodoh Ideal

Dalam sistem perkawinan masyarakat terdapat dua jenis pemilihan calon pasangan yang dianggap sesuai menurut adat masyarakat setempat, antara lain sebagai berikut.

Prinsip Endogami

Prinsip endogami adalah memilih calon pasangan dari dalam kerabatnya sendiri. Hal ini bisa dilihat dalam masarakat Jawa kuno yang memilih sepupu jauh sebagai jodoh ideal. Dalam masyarakat yang menganut sistem kasta seperti masyarakat Bali prinsip ini dipegang teguh untuk menjaga kemurnian darah kebangsawanan.

Prinsip Eksogami

Prinsip eksogami adalah memilih calon pasangan yang berasal dari luar kerabat atau klannya. Masyarakat Batak mempraktikkan hal ini dengan konsep dalihan na tolu, yakni menikahkan gadis antarkelompok kekerabatan yang berbeda marga.

Adat Menetap

Adat menetap setelah menikah termasuk juga dalam bahasan tentang kekerabatan. Dalam analisis antropologi Koentjaraningrat mengatakan adanya tujuh macam adat menetap setelah menikah, diantaranya seperti berikut.

  • Utrolokal, yaitu kebebasan untuk menetap di sekitar kediaman kerabat suami atau
  • Virilokal, yaitu adat yang menetapkan pengantin harus tinggal di sekitar pusat kediaman kaum kerabat
  • Uxorilokal, yaitu adat yang menetapkan pengantin untuk tinggal di pusat kediaman keluarga
  • Bilokal, yaitu adat yang menetapkan pengantin untuk tinggal dalam sekitar pusat kediaman kerabat suami dan istri secara
  • Avunlokal, yaitu adat yang menetapkan pengantin untuk tinggal di sekitar tempat kediaman saudara laki-laki dari suami ibu.
  • Natolokal, yaitu adat yang menetapkan pengantin untuk tinggal terpisah dan suami tinggal di rumah
  • Neolokal, yaitu adat yang menetapkan pengantin untuk tinggal di kediaman baru yang tidak mengelompok di rumah kerabat suami ataupun

Keluarga Batih dan Keluarga Luas

Di dalam perkawinan terbentuklah keluarga batih atau keluarga inti yang anggotanya terdiri atas ayah, ibu, dan anak. Keluarga batih atau nuclear family adalah kelompok sosial terkecil dalam masyarakat yang didasarkan atas adanya hubungan darah para anggota. Dari beberapa keluarga inti akan terbentuk keluarga luas (extended family).

Sistem Peralatan Hidup dan Teknologi

Manusia selalu berusaha untuk menjaga hidupnya sehingga mereka akan selalu membuat peralatan atau benda-benda tersebut . Perhatian awal para antropolog dalam mengerti kebudayaan manusia berdasarkan unsur teknologi yang digunakan suatu masyarakat berbentuk beberapa benda yang jadikan sebagai peralatan hidup dengan bentuk serta teknologi yang masih sederhana. Dengan demikian, bahasan tentang unsur kebudayaan yang termasuk dalam peralatan hidup serta teknologi adalah bahasan kebudayaan fisik.
Menurut Koentjaraningrat, pada masyarakat tradisional ada delapan macam sistem peralatan serta unsur kebudayaan fisik yang digunakan oleh kelompok manusia yang hidup berpindah-pindah atau masyarakat pertanian, diantaranya seperti berikut.

Alat-Alat Produktif

Alat-alat produktif adalah alat-alat untuk melaksanakan suatu pekerjaan berupa alat sederhana seperti batu untuk menumbuk gandum atau untuk menumbuk padi dan alat-alat berteknologi kompleks seperti alat untuk menenun kain. Jenis- jenis alat-alat produktif ini dapat dibagi berdasarkan bahan mentahnya, yaitu yang terbuat dari batu, kayu, logam, bambu, dan tulang binatang. Berdasarkan teknik pembuatannya alat- alat produktif dibedakan berdasarkan teknik pemukulan (per- cussion flaking), teknik penekanan (pressure flaking), teknik pemecahan (chipping),dan teknik penggilingan (grinding).

Senjata

Sebagai alat produktif, senjata digunakan untuk mempertahankan diri atau melakukan aktivitas ekonomi seperti berburu dan menangkap ikan. Namun, sebagai alat produk- tif senjata juga digunakan untuk berperang. Berdasarkan bahannya, senjata dibedakan menurut bahan dari kayu, besi, dan logam. Pada saat ini pengertian senjata telah menyempit hanya sebagai alat yang diguna- kan untuk mempertahankan diri dari serangan dan alat untuk berperang seperti senjata modern dan senjata nuklir yang memiliki daya hancur yang relatif tinggi.

Wadah

Alat produktif berupa wadah dalam bahasa Inggris disebut container. Wadah adalah alat untuk menyimpan, menimbun, dan memuat barang. Peralatan hidup berupa wadah banyak dipakai pada zaman prasejarah pada saat manu- sia mulai memanfaatkan alam untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Alat-Alat Menyalakan Api

Masyarakat zaman prasejarah membuat teknologi untuk menyalakan api dengan menggesek-gesekkan dua buah batu. Dengan ditemukannya bahan bakar minyak dan gas maka pembuatan api menjadi lebih mudah dan efisien. Api merupakan unsur penting dalam kehidupan manusia sehingga pembuatannya menuntut teknologi yang semakin maju.

Makanan, Minuman, Bahan Pembangkit Gairah dan Jamu-Jamuan

Dalam sistem pengetahuan cara-cara memasak menarik untuk dikaji karena setiap kelompok masyarakat dan kebudayaan memiliki sistem pengetahuan dan kebiasaan yang berbeda-beda dalam mengolah makan- an atau minuman. Di dalam antropologi jenis- jenis dan bahan makanan tertentu membe- rikan arti atau simbol khusus bagi masyarakat tertentu  atau  dikaitkan dengan  konsepsi

keagamaan tertentu. Misalnya, babi dan katak adalah binatang yang diyakini haram oleh kaum muslim sehingga tidak boleh dimakan. Sebaliknya, dalam masyarakat Papua, babi menjadi simbol makanan penting karena merupakan binatang yang dijadikan mahar dalam pesta perkawinan. Dalam kajian antropologi masyarakat kontemporer, pembahasan mengenai makanan dan minuman disebut dengan istilah kuliner (culinair).

Pakaian dan Tempat Perhiasan

Pakaian merupakan kebutuhan dasar manusia untuk melindungi diri dari perubahan cuaca. Pembahasan fungsi pakaian sebagai alat produktif dalam antropologi adalah pada bagaimana teknik pembuatan serta cara-cara menghias pakaian dan tempat perhiasan. Dalam suatu masyarakat pakaian seolah menjadi bagian dari tradisi atau adat istiadat sehingga setiap negara atau suku bangsa memiliki pakaian adat atau kebesarannya sendiri. Di dalam masyarakat Indonesia yang sangat majemuk setiap suku bangsa memiliki pakaian adatnya masing-masing yang berfungsi sebagai simbol-simbol budaya tertentu yang merepresentasikan adat istiadat dan nilai-nilai suku bangsa tersebut.

Tempat Berlindung dan Perumahan

Rumah atau tempat berlindung meru- pakan wujud kebudayaan yang mengandung unsur teknologi. Manusia membuat tempat tinggalnya senyaman mungkin disesuaikan dengan lingkungan alam sekitarnya. Ma- syarakat Eskimo yang tinggal di daerah kutub utara membuat rumahnya dari susunan balok- balok es untuk menahan serangan dingin. Masyarakat Minangkabau membuat bentuk rumah panggung untuk menghindarkan diri dari binatang buas. Dalam masyarakat Jawa dibuat rumah berarsitektur jendela besar karena suhu udara yang tropis dan lembab. Berdasarkan bangunannya, semua bentuk rumah dalam setiap kelompok masyarakat harus disesuaikan dengan kondisi alam sekitarnya. Pada saat ini banyak dijumpai di perkotaan perumahan dengan istilah realestat, kondominium, apartemen, dan rumah susun. Untuk mengantisipasi dan menanggulangi kepadatan penduduk di daerah perkotaan maka dibangun sistem rumah susun. Semua bentuk rumah atau tempat tinggal merupakan hasil teknologi manusia yang mencerminkan kebudayaannya masing-masing.

Alat-Alat Transportasi

Manusia memiliki sifat selalu ingin bergerak dan berpindah tempat. Mobilitas manusia tersebut semakin lama semakin tinggi sehingga dibutuhkan alat transportasi yang bisa mencukupi kebutuhan untuk memudahkan manusia dan barang. Kebutuhan mobilitas manusia tidak hanya muncul di zaman modern seperti sekarang ini, namun sudah ada sejak saat zaman prasejarah. Menurut fungsinya alat-alat transpor yang terpenting adalah sepatu, binatang, alat seret, kereta beroda, rakit, dan perahu. Masyarakat saat ini sudah menggantungkan kebutuhan transportasinya pada mobil, kereta api, kapal laut, kapal terbang, atau motor dan mening- galkan alat transportasi binatang, seperti kuda, anjing, atau lembu karena dianggap tidak praktis dan efisien. Pada saat ini kuda atau keledai yang dahulu dijadikan alat transportasi atau pengangkut barang sudah lama digantikan dengan truk-truk dan mobil yang dianggap lebih cepat, ekonomis, dan efisien.

Sistem Ekonomi Mata/ Pencaharian Hidup

Mata pencaharian atau aktivitas ekonomi suatu masyarakat menjadi fokus kajian penting etnografi. Penelitian etnografi mengenai sistem mata pencaharian mengkaji bagaimana cara mata pencaharian suatu kelompok masyarakat atau sistem perekonomian mereka untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Sistem ekonomi pada masyarakat tradisional, antara lain

  1. berburu dan meramu;
  2. beternak;
  3. bercocok tanam di ladang;
  4. menangkap ikan;
  5. bercocok tanam menetap dengan sistem irigasi

Sistem Religi

Koentjaraningrat menyatakan bahwa asal mula permasalahan fungsi religi dalam masyarakat adalah adanya pertanyaan mengapa manusia percaya kepada adanya suatu kekuatan gaib atau supranatural yang dianggap lebih tinggi daripada manusia dan mengapa manusia itu melakukan berbagai cara untuk berkomunikasi dan mencari hubungan-hubungan dengan kekuatan-kekuatan supranatural tersebut. Dalam usaha untuk memecahkan pertanyaan mendasar yang menjadi penyebab lahirnya asal mula religi tersebut, para ilmuwan sosial berasumsi bahwa religi suku-suku bangsa di luar Eropa adalah sisa dari bentuk-bentuk religi kuno yang dianut oleh seluruh umat manusia pada zaman dahulu ketika kebudayaan mereka masih primitif.

Baca Juga : Pengertian dan Contoh Prinsip Holistik

Sistem religi juga mencakup mengenai dongeng-dongeng atau cerita yang dianggap suci mengenai sejarah para dewa-dewa (mitologi). Cerita keagamaan tersebut terhimpun dalam buku-buku yang dianggap sebagai kesusastraan suci. Salah satu unsur religi adalah aktivitas keagamaan di mana terdapat beberapa aspek yang penting untuk dilakukan dalam aktivitas tersebut. Unsur tersebut, antara lain sebagai berikut.

  • Tempat dilakukannya upacara keagamaan, seperti candi, pura, kuil, surau, masjid, gereja, wihara atau tempat-tempat lain yang dianggap suci oleh umat
  • Waktu dilakukannya upacara keagamaan, yaitu hari-hari yang dianggap keramat atau suci atau melaksanakan hari yang memang telah ditentukan untuk melaksanakan acara religi
  • Benda-benda dan alat-alat yang digunakan dalam upacara keagamaan, yaitu patung-patung, alat bunyi-bunyian, kalung sesaji, tasbih, dan
  • Orang yang memimpin suatu upacara keagamaan, yaitu orang yang dianggap memiliki kekuatan religi yang lebih tinggi dibandingkan anggota kelompok keagamaan lainnya. Misalnya, ustad, pastor, dan biksu. Dalam masyarakat yang tingkat religinya masih relatif sederhana pemimpin keagamaan adalah dukun, saman atau tetua adat.

Kesenian

Perhatian ahli antropologi mengenai seni bermula dari penelitian etnografi mengenai aktivitas kesenian suatu masyarakat tradisional. Deskripsi yang dikumpulkan dalam penelitian tersebut berisi mengenai benda-benda atau artefak yang memuat unsur seni, seperti patung, ukiran, dan hiasan. Penulisan etnografi awal tentang unsur seni pada kebudayaan manusia lebih mengarah pada teknik- teknik dan proses pembuatan benda seni tersebut. Selain itu, deskripsi etnografi awal tersebut juga meneliti perkembangan seni musik, seni tari, dan seni drama dalam suatu masyarakat.

Berdasarkan jenisnya, seni rupa terdiri atas seni patung, seni relief, seni ukir, seni lukis, dan seni rias. Seni musik terdiri atas seni vokal dan instrumental, sedangkan seni sastra terdiri atas prosa dan puisi. Selain itu, terdapat seni gerak dan seni tari, yakni seni yang dapat ditangkap melalui indera pendengaran maupun penglihatan. Jenis seni tradisional adalah wayang, ketoprak, tari, ludruk, dan lenong. Sedangkan seni modern adalah film, lagu, dan koreografi.

Berikan Bintang Untuk Penulis

%d blogger menyukai ini: