Materi Sekolah Terlengkap

Teks Cerita Fiksi (Pengertian, Struktur, Unsur dan Kaidah Kebahasaan)

Teks Cerita Fiksi – Pada artikel kali ini di Budisyaqier.com kita akan mempelajari materi teks cerita fiksi yang meliputi struktur teks cerita fiksi, pengertian teks cerita fiksi, unsur-unsur dan kaidah kebahasaannya. Teks cerita fiksi biasa terdapat di sebuah buku karangan seorang penulis. Cerita karangan atau teks fantasi juga merupakan salah satu contoh teks cerita fiksi.

Pengertian Teks Cerita Fiksi

Teks cerita fiksi adalah karya sastra berupa cerita rekaan yang merupakan hasil pemikiran, imajinasi dan fantasi seorang pengarang. Cerita fiksi tidak didasari oleh kejadian nyata sehingga ceritanya tidak nyata dan hanya fiksi belaka. Teks cerita fiksi dibuat secara intens dan artistik serta diwarnai filosofi, kultur, pengalaman dan latar belakang pengarangnya.

Imajinasi pengarang yang dapat menghasilkan teks cerita fiksi merupakan hasil olahan wawasan, pandangan, tafsiran dan pengalamannya terhadap suatu peristiwa, baik peristiwa nyata maupun tidak. Membaca cerita fiksi secara rutin dapat mengembangkan kemampuan imajinasi kamu.

Ada 3 jenis teks cerita fiksi, yaitu :

  • Novel, karya fiksi berbentuk prosa yang tertulis secara naratif.
  • Cerpen, karya fiksi berbentuk prosa yang lebih padat dan langsung pada tujuannya.
  • Roman, karya fiksi bergenre asmara atau keromantisan.

Struktur Teks Cerita Fiksi

Berikut struktur teks cerita fiksi.

1. Abstrak

Abstrak merupakan bagian inti yang singkat dari teks cerita fiksi. Bagian ini bersifat opsional yang berarti boleh ada dan boleh tidak ada.

2. Orientasi

Orientasi adalah pengenalan tema, latar belakang dan tokoh-tokoh dari cerita. Bagian ini terletak di awal dan merupakan penjelasan awal mula cerita.

3. Komplikasi

Komplikasi adalah klimaks cerita. Karena pada bagian ini berbagai masalah mulai bermunculan, dan bagian ini juga yang menjadi daya tarik tersendiri untuk pembaca.

4. Evaluasi

Evaluasi adalah bagian yang berisi pembahasan masalah yang akan diselesaikan dalam cerita.

5. Resolusi

Resolusi merupakan inti pemecahan dan penyelesaian dari tiap-tiap masalah yang dialami tokoh utama cerita.

6. Koda

Dan koda adalah amanat atau pesan moral yang dapat dipetik dari cerita.

Unsur-Unsur Teks Cerita Fiksi

Sama seperti teks cerpen, teks cerita fiksi memiliki unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik.

Unsur intrinsik adalah unsur yang membangun teks cerita fiksi dari dalam cerita itu sendiri. Berikut unsur-unsur intrinsik teks cerita fiksi.

  • Tema, gagasan dasar yang menjadi penopang cerita fiksi.
  • Tokoh, pelaku yang berperan dalam cerita. Tokoh dalam sebuah karya sastra dibagi menjadi 2, yaitu tokoh utama dan tokoh tambahan.
  • Alut/plot, urutan kejadian cerita yang saling dihubungkan dengan sebab-akibat sehingga satu peristiwa dapat disebabkan atau menyebabkan peristiwa lainnya.
  • Konflik, kejadian penting dari sebuah cerita. Merupakan unsur yang paling diperlukan untuk mengembangkan alur cerita.
  • Klimaks, intensitas tertinggi dari sebuah konflik yang tidak dapat dihindari oleh tokoh dan sering menjadi bagian utama dari sebuah cerita.
  • Latar, tempat, waktu dan kondisi sosial peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalam cerita.
  • Amanat, pesan yan disampaikan oleh pengarang berdasarkan persoalan di cerita.
  • Penokohan, cara-cara pengarang menentukan watak atau sifat tokoh cerita.
  • Kesatuan
  • Logika
  • Penafsiran
  • Gaya

Unsur ekstrinsik adalah unsur yang membangun teks cerita fiksi dari luar cerita. Berikut unsur-unsur ekstrinsik teks cerita fiksi.

  • Keadaan individu pengarang yang mempunyai sikap.
  • Keyakinan pengarang.
  • Pandangan hidup pengarang.
  • Psikologi pengarang.
  • Berbagai karya sastra atau seni yang lainnya.

Kaidah Kebahasaan Teks Cerita Fiksi

Masing-masing jenis teks dalam Bahasa Indonesia mmeiliki kaidah kebahasaan yang membedakannya dengan jenis teks lain. Berikut kaidah kebahasaan teks cerita fiksi.

  1. Metafora, perumpamaan yang digunakan untuk membandungkan dua hal yang berbeda secara langsung namun atas dasar sifat yang sama.
  2. Metonimia, gaya bahasa yang mengganti kata sebenarnya dengan kata yang lain.
  3. Simile (persamaan), pembanding bersifat eksplisit yang bermaksud menyatakan suatu hal dengan hal yang lain. Contohnya: selayaknya, seumpama, laksana.

Sekian penjelasan materi pada artikel kali ini tentang teks cerita fiksi.

Share This

Thank you for your vote!
Post rating: 5 from 5 (according 1 vote)
What's your reaction?
1Smile0Lol0Wow0Love0Sad0Angry
%d blogger menyukai ini: