5/5 (1) Struktur Sosial Masyarakat di Indonesia

Struktur Sosial Masyarakat di Indonesia – Bertemu lagi bareng kita, budisyaqier.com yang senantiasa membahas mengenai segala ilmu pengetahuan yang pastinya perlu kalian ketahui. Dan kali ini budisyaqier.com berkesempatan untuk membahas Struktur Sosial Masyarakat di Indonesia. Mari langsung saja simak baik-baik ulasan di bawah.

Indonesia sebagai negara yang plural dapat terlihat jelas dari kondisi geografisnya yang terdiri atas kurang lebih 17 ribu pulau yang tersebar lebih dari 3.000 mil dari timur ke barat serta lebih dari 1.000 mil dari utara ke selatan. Ciri dari kemajemukan Indonesia terwujud dalam suku bangsa- suku bangsa yang memiliki kepribadian, sifat, corak, bahasa, serta perilaku budaya yang berbeda-beda. Masing-masing suku bangsa memiliki rasa solidaritas serta kebanggaan (primordialisme) pada kelompoknya yang seringkali berpotensi menciptakan perselisihan antarsuku bangsa. Di dalam struktural sosial masyarakat Indonesia pada dasarnya terdapat dua dimensi sosial, yakni dimensi horizontal serta dimensi vertikal. Dua dimensi ini dapat mengganggu proses integrasi atau persatuan masyarakat Indonesia.

Baca Juga : Dinamika Kebudayaan Antropologi

Dimensi Horizontal Masyarakat Indonesia

Dimensi horizontal mencakup keterkaitan bersama kelompok- kelompok sosial yang berbeda-beda, seperti etnik, keluarga, bahasa, agama, dan rasial di dalam kerangka loyalitas dan lembaga nasional. Secara horizontal, masalah integrasi nasional di Indonesia tidak begitu mengkhawatirkan. Tidak seperti Malaysia, Indonesia tidak terbagi secara tajam menurut garis ras, meskipun di dalamnya terdapat minoritas Cina, India, Arab, dan lainnya. Indonesia juga tidak terbagi secara tajam menurut garis bahasa karena di Indonesia ada bahasa pemersatu, yaitu bahasa Indonesia.

Namun, di sisi lain Indonesia juga menghadapi problem integrasi yang serius. Misalnya, batas-batas provinsi dan kabupaten di Indonesia identik dengan batas kesukuan. Hal itu merupakan warisan kolonial Belanda. Antara satu provinsi dan provinsi lain umumnya berbeda secara kesukuan dan agama. Misalnya, antara Provinsi Aceh dan Sumatra Utara, keduanya berbeda dalam hal suku bangsa, yaitu Aceh dan Batak dan dalam hal agama, yaitu Islam dan Kristen. Demikian pula antara Bali dan Lombok di Nusa Tenggara Timur. Bali didiami suku bangsa Bali yang mayoritas penduduknya beragama Hindu, sedangkan Lombok didiami suku bangsa Sasak yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Hal itu memudahkan munculnya sentimen primordial kedaerahan yang tinggi sehingga mudah menimbulkan perpecahan nasional.

Baca Juga : Integrasi Nasional Antropologi

Dimensi Vertikal Masyarakat Indonesia

Dimensi vertikal meliputi kesenjangan politik, ekonomi, dan budaya antara perkotaan dan pedesaan, antara orang berpendidikan Barat dan tidak berpendidikan, antara kaum elite nasional dan kaum tradisional serta antara orang kaya dan miskin. Penduduk perkotaan, kaum elite politik nasional, dan kaum terdidik pada umumnya memiliki budaya modern metropolitan di dalam bidang politik, gaya hidup, dan kekayaan material. Sementara itu, penduduk pedesaan dengan pola pertanian tradisional umumnya memiliki budaya tradisional yang menjalankan praktik hidup berdasarkan tradisi turun-temurun dan tolok ukur daerah masing-masing. Meskipun dalam masyarakat majemuk ada potensi timbulnya perbedaan sosial yang tajam di antara kelompok-kelompok sosial yang ada, tetapi bukan berarti bahwa di dalam masya- rakat majemuk tidak bisa terjadi proses integrasi sosial atau persatuan nasional. Banyak peluang dalam masyarakat majemuk untuk membentuk suatu proses integrasi nasional.

Berikan Bintang Untuk Penulis

%d blogger menyukai ini: