Struktur Lapisan Kulit Bumi (Litosfer) dan Pemanfaatannya

Struktur Lapisan Kulit Bumi (Litosfer) dan Pemanfaatannya – Bertemu lagi bareng kita, budisyaqier.com yang senantiasa membahas mengenai segala ilmu pengetahuan yang pastinya perlu kalian ketahui. Dan kali ini budisyaqier.com berkesempatan untuk membahas Struktur Lapisan Kulit Bumi (Litosfer) dan Pemanfaatannya . Mari langsung saja simak baik-baik ulasan di bawah.

Pengertian Kulit Bumi (Litosfer) dan Susunan Lapisannya

Lapisan kulit bumi sering disebut litosfer. Litosfer berasal dari kata litos berarti batu dan sfer/sphaira berarti bulatan. Litosfer merupakan lapisan batuan atau kulit bumi yang mengikuti bentuk bumi yang bulat dengan ketebalan ± 1.200 km.

Litosfer bumi terdiri atas beberapa lempeng keras. Lempeng ini bergeser dan bergerak di atas lapisan yang lebih lunak yang disebut astenosfer. Tebal kulit bumi tidak merata. Kulit bumi di bagian benua/dataran lebih tebal daripada di bawah samudera. Bumi tersusun atas beberapa lapisan.

Barisfer

Yaitu lapisan inti bumi merupakan bahan padat yang tersusun atas lapisan nife (niccolum = nikel dan ferrum = besi). Jari-jari ± 3.470 km dan batas luarnya ± 2.900 km di bawah permukaan bumi.

Lapisan Pengantara

Yaitu lapisan yang terdapat di atas lapisan nife setebal 1.700 km. Berat jenisnya rata-rata 5 gr/cm3. Lapisan pengantara, disebut juga asthenosfer (mantle), merupakan bahan cair bersuhu tinggi dan berpijar.

Litosfer

Yaitu lapisan yang terletak di atas lapisan pengantara, dengan ketebalan 1.200 km. Berat jenisnya rata-rata 2,8 gr/cm3.

Litosfer (kulit bumi) terdiri atas lapisan sial dan lapisan sima.

  1. Lapisan Sial yaitu lapisan kulit bumi yang tersusun atas logam silisium dan aluminium, senyawanya dalam bentuk SiO2 dan Al2O3. Dalam lapisan ini terdapat batuan sedimen, granit, andesit, jenis- jenis batuan metamorf, dan batuan lain yang terdapat di daratan benua. Lapisan sial disebut juga lapisan kerak yang bersifat padat dan kaku, berketebalan rata-rata ± 35 km. Kerak ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu kerak benua dan kerak samudera.
    a. Kerak benua, merupakan benda padat yang terdiri atas batuan beku granit pada bagian atasnya dan batuan beku basalt pada bagian bawahnya. Kerak ini yang menempati sebagai benua.
    b. Kerak samudera, merupakan benda padat yang terdiri atas endapan di laut pada bagian atas, kemudian di bawahnya batuan-batuan vulkanik dan yang paling bawah tersusun atas batuan beku gabro dan peridotit. Kerak ini menempati sebagai samudera.
  2. Lapisan sima, yaitu lapisan kulit bumi yang disusun oleh logam- logam silisium dan magnesium dalam bentuk senyawa SiO2 dan MgO. Lapisan ini mempunyai berat jenis yang lebih besar daripada lapisan sial karena mengandung besi dan magnesium, yaitu mineral ferromagnesium dan batuan basalt. Lapisan sima merupakan bahan yang bersifat elastis dan mempunyai ketebalan rata-rata 65 km.

Batu-Batuan Kulit Bumi

Batuan kulit bumi tebalnya sekitar 4 – 80 km. Kulit bumi terdiri atas dua lapisan batuan, yaitu lapisan Sial/Silisium-Aluminium dan lapisan Sima/Silisium-Magnesium mempunyai massa jenis 2,6 – 3,0 . Seolah-olah kulit bumi mengapung di atas lapisan mantel (lapisan di bawahnya) karena massa jenisnya lebih kecil. Kerak bumi ini dingin dan padat sehingga nyaman untuk tempat tinggal makhluk hidup.

Lapisan mantel terletak di bawah lapisan kulit bumi, tebalnya 2.900 km.

Massa jenis lapisan mantel antara 3,0 – 8,0. Lapisan inti terletak di bawah lapisan mantel. Terdiri atas inti bagian luar (outer core), tebalnya mencapai 2.100 km dan inti bagian dalam (inner core).

Batu-batuan kulit bumi dapat dibagi menjadi tiga golongan, yaitu batuan beku, batuan sedimen, dan metamorf.

Batuan Beku

Batuan jenis ini ialah batuan yang terbentuk karena magma pijar yang mendingin menjadi padat. Berdasarkan tempat pendinginannya ada tiga macam batuan beku.

  1. Batuan Tubir/Batu Beku Dalam
    Batuan tubir terbentuk jauh di dalam kulit bumi dan hanya terdiri atas kristal saja. Karena pendinginannya lambat sekali maka kristalnya besar-besar, misalnya granit.
  2. Batuan Leleran/Batu Beku Luar
    Batuan ini membeku di luar kulit bumi sehingga temperatur turun cepat sekali. Zat-zat dari magma hanya dapat membentuk kristal-kristal kecil, dan sebagian ada yang sama sekali tidak dapat menjadi kristal. Itu sebabnya batuan leleran ada yang terdiri atas kristal-kristal besar, kristal-kristal kecil dan bahan amorf, misalnya liparit. Ada yang hanya terdiri atas bahan amorf, misalnya batu apung.
  3. Batuan Korok/Batu Beku Gang
    Batuan ini terbentuk di dalam korok-korok atau gang-gang. Karena tempatnya dekat permukaan, pendinginannya lebih cepat. Itu sebabnya batuan ini terdiri atas kristal besar, kristal kecil, dan bahkan ada yang tidak mengkristal. Misalnya bahan amorf dan granit fosfir.

Batuan Sedimen (Batuan Endapan)

Bila batuan beku lapuk maka bagian-bagiannya yang lepas mudah diangkut oleh air, angin, atau es, dan diendapkan di tempat lain. Batuan yang mengendap ini disebut batuan sedimen. Batuan ini mula- mula lunak, tetapi lama-kelamaan menjadi keras karena proses pembatuan. Dilihat dari perantara atau mediumnya, batuan sedimen dapat dibagi menjadi tiga golongan sebagai berikut.

  1. Batuan sedimen aeris atau aeolis
    Pengangkut batuan ini adalah angin. Contohnya tanah los, tanah tuf, dan tanah pasir di gurun.
  2. Batuan sedimen glasial
    Pengangkut batuan ini adalah es. Contohnya moraine.
  3. Batuan sedimen aquatis (aqua = air)
    a. Breksi, yakni batuan sedimen yang terdiri atas batu-batu yang bersudut tajam yang sudah direkat satu sama lain.
    b. Konglomerat, yakni batuan sedimen yang terdiri atas batu-batu yang bulat-bulat yang sudah direkat satu sama lain.
    c. Batu pasir, yakni batuan sedimen yang terdiri atas kristal-kristal

Dilihat dari tempat pengendapannya ada tiga macam batuan sedimen, yaitu batuan sedimen lakustre, kontinental, dan marine.

  1. Batuan sedimen lakustre, yakni batuan sedimen yang diendapkan di danau.
    Contoh : turf danau dan tanah liat danau.
  2. Batuan sedimen kontinental, yakni batuan sedimen yang diendapkan di laut.
    Contoh : tanah los dan tanah gurun pasir.
  3. Batuan sedimen marine, yaitu batuan sedimen yang diendapkan di laut.
    Contoh : lumpur biru di pantai, endapan radiolaria di laut dalam, dan lumpur merah.

Batuan Metamorf

Batuan ini merupakan batuan yang mengalami perubahan yang dahsyat. Asalnya dapat dari batuan beku atau batuan sedimen. Perubahan itu dapat terjadi karena bermacam-macam sebab sebagai berikut.

  1. Karena Suhu Tinggi
    Suhu tinggi berasal dari magma, sebab batuan itu berdekatan dengan dapur magma sehingga metamorfosa ini disebut metamorfosa kontak.
    Contoh : marmer dari batu kapur dan antrasit dari batu bara.
  2. Karena Tekanan Tinggi
    Tekanan tinggi dapat berasal dari adanya endapan-endapan yang tebal sekali di atasnya.
    Contoh : batu pasir dari pasir.
  3. Karena Tekanan dan Suhu Tinggi
    Tekanan dan suhu tinggi kalau ada pelipatan dan geseran waktu terjadi pembentukan pegunungan, metamorfosa seperti ini disebut metamorfosa dinamo.
    Contoh : batu asbak, schist, dan shale.

Siklus Batu-Batuan

Batu-batuan mengalami siklus sebagaimana diperlihatkan dalam bagan di bawah ini.

Siklus batu-batuan di bumi.
Proses ini memerlukan waktu ratusan, bahkan jutaan tahun.

Keterangan :

1.   =   magma, batuan cair pijar di dalam litosfer, sebagai bentuk mula- mula dari siklus.

2.   =   batuan beku

  • Karena pendinginan, makin lama magma makin padat, akhirnya membeku menjadi batuan beku.

3.   =   batuan sedimen klastis

  • Batuan beku yang rusak hancur karena tenaga eksogen (air hujan, panas dingin, es, angin, dan sebagainya), diangkut serta diendapkan menjadi batuan sedimen klastis.

4a. =   batuan sedimen khemis

c1. Larutan di dalam air dan langsung diendapkan menjadi batuan sedimen khemis.

4b. =   batuan sedimen organis

c2. Larutan di dalam air kemudian diambil oleh organisme dan melalui organisme itu membentuk batuan endapan organis.

5.   =   batuan metamorf

  • Karena suhu tinggi, tekanan besar, dan waktu yang lama, batuan beku serta batuan sedimen berubah menjadi batuan metamorf.
  • Ada kemungkinan karena terganggunya keseimbangan antara suhu dan tekanan batu-batuan mencair kembali menjadi magma.