5/5 (1) Sejarah Perang Tondano

Sejarah Perang Tondano – Sejarah Perang Tondano merupakan perang terhebat yang terjadi di tanah Minahasa. pada tahun 1808 – 1809. Perang ini yang melibatkan suku Minahasa melawan pemerintahan Belanda ini, terjadi pada tahun 1808-1809. Tempat menjadi lokasi pertempuran terdahsyat terjadi di semenanjung Sulawesi Utara, tepatnya di Danau Tonando. Perang yang merupakan kisah heroik masyarakat Mihanasa ini tentu saja menjadi kebanggan tersendiri bagi masyarakatnya. Dan sebagai warga Indonesia, kamu juga wajib untuk mengetahuinya.

Perang Tondano  ini terjadi akibat dicabutnya Perjanjian Verbond yang dibuat pada tanggal 10 Januari 1679. Perjanjian Verbond sendiri menandakan sebuah ikatan persahabatan antara Minahasa dan Belanda. Namun sayangnya, Belanda sendiri yang mengingkari perjanjian tersebut.

Pengingkaran janji oleh pihak tentu saja membuat masyarakat Minahasa merasa terhina. Hal tersebut dianggap sebagai penghinaan fantastis terhadap nilai-nilai kebenaran dan keadilan.

Meskipun perang Tondano hanya berlangsung satu tahun, Perang Tondano dikenal dalam dua tahap, yakni:

Perang Tondano I

Perang Tondano I terjadi pada masa kekuasaan VOC. Pada saat itu, hubungan dagang Minahasa dan Spanyol berkembang dengan baik. Namun sayangnya, VOC datang dan mengguncang hubungan baik antara Minahasa dan Spanyol. Pada masa itu, VOC telah sukses memperngaruhi Ternate.  Pemerintahan Batavia pun mempercayakan Simon Cos, Gubernur Ternate untuk melepaskan Minahasa dari bayang-bayang Spanyol. Simon Cos lantas memposisikan kapalnya di selat lambeh, setelah mendapatkan kepercayaan dari Batavia.

Gara-gara kehadiran Belanda, para pedagang, baik pedagang Minahasa maupun Spanyol, mulai tersingkir. Terlebih lagi VOC memaksa agar masyarakat supaya menjual beras mereka ke VOC. Akibat mopopoli di Minahasa ini, meletuslah perang Minahasa melawan VOC.

Perang Tondano II

Atas kebijakan Guberbernur Jendral Deandels, saat pemerintahan kolonial, Perang Tondano II ini terjadi. Karena Deandels memerlukan bala bantuan yang sangat besar untuk melawan Inggris, maka orang-orang pribumi dilibatkannya untuk menjadi prajurit.

Deandels mengumpulkan orang-orang Pemberani dari kalangan masyarakat Madura, Minahasa, dan Dayak untuk ikut berperang. Ia juga menunjuk sorang Kapten bernama Hartiblngh.

Strategi Kapten Hariblng selanjutnya adalah mengumpulkan para ukung, pimpinan wilayah untuk membentuk bala pasukan. Terkumpulah pasukan yang jumlahnya kurang lebih dua ribu orang. Orang-orang tersebut kemudian dikirim ke Jawa. Keinginan ini sangat bertentangan dengan masyarakat Minahasa yang menentang Kolonial Belanda.

Dari sinilah sejaran perang Tonando II terjadi. Salah satu pemimpin perlawanan tersebut adalah Ukong Lonto. Beliau menentang keras tentang rencana Deandles yang ingin mengirimkan sebanyak kurang lebih dua ribu pemuda ke Jawa untuk berperang. Ditambah lagi masyarakat Minahasa menentang kebijakan tentang menyetor beras ke Belanda.

Gubernur Prediger pun merasa terpojokkan. Suasana semakin kritis. Mau tidak mau ia mengirim pasukan untuk menyerang pasukan Minahasa di Tondano.

Pasukan Belanda dengan sengaja membendung sungai Temberan. Agar bisa mengalahkan pejuang Minahasa, Prediger pun membentuk dua pasukan yang tangguh. Pasukan yang pertama untuk menyerang Tondano dari arah bendungan. Pasukan yang kedua dipersiapkan untuk menyerang Minawanua di daratan. Pasukan Belanda berhasil melakukan serangan. Namun, rakyat Minahasa tidak menyerah.Mereka terus berjuang dengan semangat tinggi.

Pada tanggal 23 Oktober 1808 pertempuran berkobar. Pasukan Belanda memborbardir pertahanan Minawanua. Serangan terus berlanjut, sehingga kampung tersebut seakan tidak ada kehidupan. Karena merasa telah menang, Prediger pun mengurangi serangannya.

Akan tetapi, dari perkampungan Minawanua itu orang-orang Tondano muncul. Mereka menyerang dengan gagah berani. Akibatnya beberapa korban dari pihak Belanda berjatuhan. Sayangnya, Belanda terus menyerang dari jarak jauh dengan menghujani meriam ke kampung Minawanua. Krisis makanan juga terjadi.

Puncak perang Tonando II terjadi  pada bulan Agustus 1809. Benteng milik Moroya pun banyak yang hancur.

Demikian  sejarah Perang Tondano yang mungkin dapat menambah wawasan Anda mengenai masa lalu yang pernah terjadi tanah air.

Berikan Bintang Untuk Penulis

%d blogger menyukai ini: