5/5 (1) Sejarah Perang Pattimura (Perang Maluku 1817)

Sejarah Perang Pattimura (Perang Maluku 1817) – Sejarah Perang Pattimura merupakan sejarang perang yang melekat kuat di tiap pembahasan materi IPS di Indonesia. Perang Pattimura sendiri berlangsung di Saparua, Maluku pada 1817.

Thomas Matulessy atau biasa dikenal Kapitan Pattimura ini adalah bekas sersan mayor dinas angkatan perang Inggris. Latar belakang perang Pattimura ini setelah daerah Maluku dialihkan menjadi wilayah Belanda kembali oleh pihak Inggris.

Karena pergantian penguasa tersebut, kebijakan yang diterapkan pun ikut berubah. Belanda menerapkan kembali praktik monopoli perdagangan yang sebelumnya sudah tidak diberlakukan. Selain itu, pemicunya antara lain diadakannya Pelayaran Hongi dan penebangan pohon pala dan cengkeh karena melakukan pelanggaran terhadap aturan monopoli Belanda (ekstirpasi). Diberlakukannya kembali uang kertas sangat tidak disukai rakyat, sistem kerja wajib dan pemerintahan wajib kembali diberlakukan juga menjadi latar belakang perang Pattimura ini.

Meletusnya Perang Pattimura

Penderitaan itu begitu menekan rakyat Maluku sehingga Pattimura tidak bisa diam begitu saja. Beliau mencoba memberikan masukan kepada Belanda dengan wujud keluhan rakyat. Daftar keluhan itu ditandatangani oleh 21 penguasa di Saparua dan Nusa Laut. Namun karena tak kunjung mendapat tanggapan, pada 3 Mei 1817 di Hutan Warlutun, Pattimura bersama 100 orang lainnya sepakat menghancurkan benteng di Saparua dan membunuh semua yang bernaung di sana.

Pada 9 Mei 1817, beberapa orang turut bergabung dalam perkumpulan itu, termasuk Christina Martha Tiahahu. Dari perkumpulan itu pun, terpilihlah Pattimura sebagai pimpinan perang mereka.

Serangan pertama mereka di mulai 15 Mei 1817 dengan taktik gerilya sehingga dengan mudah menyerbu pos Belanda di Pelabuhan Porto. Residen van den Berg dengan penuh perjuangan dapat mereka tawan, walau kemudian dilepaskan. Pada 16 Mei 1817, rakyat Maluku berhasil menguasai Benteng Duurstede dan membunuh residen van den Berg beserta keluarga dan para perwiranya.

Namun kemenangan itu tidak bertahan lama. Pada 17 Mei 1817, Belanda yang memiliki sejumlah pasukan lain di Ambon, memutuskan melakukan ekspedisi. Ekspedisi yang dipimpin Mayor Beetjes ini cukup menempuh perjalanan panjang. Sehingga mereka baru tiba 20 Mei 1817 di Saparua. Pertempuran tak terelakkan lagi. Kemenangan lagi-lagi didapat oleh pasukan Pattimura. Mereka berhasil mengalahkan tentara Belanda dan membunuh mayor mereka.

Tak ingin peperangan semakin berlarut, Belanda mencoba melakukan kesepakatan dengan Pattimura. Sayangnya kesepakatan itu ditolak dengan mudah oleh Pattimura.  Akibatnya, Belanda tiada henti mencoba menghancurkan pasukan Pattimura dengan meriam kebanggaan mereka. Pattimura mundur setelah memilih mengosongkan Benteng Duurstede yang kemudian diduduki Belanda.

Karena perlawanan Belanda yang semakin gencar, rakyat Maluku kewalahan dan akhirnya terdesak. Pattimura dan para pemimpin lainnya akhirnya tertangkap oleh Belanda. Pattimura sendiri kemudian di bawa ke Saparua untuk diajak membuat kesepakatan kembali. Namun, Pattimura menolaknya.

Gugurnya Pattimura

Penolakan Pattimura terhadap kesepakatan yang dijanjikan Belada berujung dengan vonis hukuman gantung yang dijatuhkan padanya. 16 Desember 1817, Benteng Victoria menjadi saksi perjuangan Kapitan Pattimura ini hingga titik darah penghabisannya. Pattimura wafat di usia 34 tahun setelah sebelumnya memberikan seruan yang menggugah, “Pattimura – Pattimura tua boleh dihancurkan, tetapi sekali waktu kelak Pattimura – Pattimura muda akan bangkit.”

Sedangkan rekan Pattimura, Christina Martha Tiahahu sendiri diasingkan ke Pulau Jawa. Beliau meninggal di atas kapal Eversten pada tanggal 2 Januari 1818.

Pattimura telah gugur di tangan Belanda, semangat juang rakyat Maluku pun menurun drastis. Hal itu jelas disebabkan karena kehilangan mereka akan sosok pemipin nasionalis seperti Pattimur. Tak lama Maluku dapat dikuasai Belanda kembali.

Berikan Bintang Untuk Penulis

%d blogger menyukai ini: