5/5 (1) Sejarah Perang Padri (Perang Saudara 1803 – 1838)

Sejarah Perang Padri (Perang Saudara 1803 – 1838) – Sejarah Perang Padri merupakan sejarah perang yang tak sedikit mencuri perhatian warga Nusantara. Di mana perang tersebut dilatarbelakangi oleh perang dua kaum di Minangkabau hingga perlawanan melawan Belanda.

Latar belakang Perang Padri

sebenarnya bukan hal yang besar dan merugikan. Semuanya diawali ketika tiga tokoh agama terkemuka Kaum Padri pulang dari naik haji. Ketiga tokoh itu (Haji Sumanik, Haji Piobang dan Haji Miskin) mendapatkan Wahabi, yakni ajaran penyempurnaan Islam dengan memberantas segala penyimpangan berdasarkan syariat Al Quran.

Karena Kaum Padri sudah sepakat akan ajaran tersebut, mereka pun mencoba menerapkannya pada Kaum Adat. Kaum Adat waktu itu adalah kaum asli Minangkabau yang sudah memeluk agama Islam namun masih melakukan kebiasaan yang menyimpang dari ajaran Islam. Kebiasaan itu adalah suatu adat yang tertanam dalam benak warga Minang. Di antaranya adalah, menyabung ayam, bermain judi, meminum minuman keras, ataupun bermain madat.

Awalnya Kaum Padri memberikan nasihat dengan cara yang baik. Sayangnya, nasihat itu tidak diindahkan bahkan ditolak oleh kaum yang selalu berpakaian hitam ini. Maka pada 1803, pecahlah perang saudara di Minangkabau ini.

Periode Pertama Perang Padri

Periode pertama ini diawali di Kotalawas. Tak lama meluas ke daerah lain. Kaum Padri yang dipimpin Datuk Bandarso melawan Kaum Adat pimpinan Datuk Sati.

Kepemimpinan Datuk Bandarso tak bertahan lama karena di kemudian hari beliau ditenukan meninggal karena sebuah racun. Tak ingin ada kekosongan pemimpin, Muhammmad Syahab atau Pelo (Pendito) Syarif mulai melanjutkan perjuangan Kaum Padri melawan Kaum Adat. Akhirnya, kemanangan berhasil di bawa pulang Kaum Padri yang dipimpin Pelo Syarif atau kita biasa menyebutnya Tuanku Imam Bonjol.

Karena merasa terdesak, pada 1815 Kaum Adat meminta bantuan kepada Inggris. Kemudian Inggris menyerahkan kepemimpinan kepada Belanda, otomatis Kaum Adat berganti meminta bantuan Belanda (10 September 1821). Kaum Adat menjanjikan kedaulatan penuh Minangkabau jika Belanda bersedia membantu. Tentu saja dengan penawaran itu, Belanda dengan mudah menyetujuinya.

Periode Kedua Perang Padri

Kaum Padri yang dipimpin Tuanku Pasaman menggempur pos pasukan Belanda di beberapa daerah seperti Semawang, Sulit Air dan Sipinan. Tak lama perang ini berhasil membuat banyak korban berjatuhan.

Tuanku Pasaman kemudian mengundurkan diri ke Lintau, Belanda justru kembali menguasai Tanah datar. Bahkan mendirikan dua Benteng di sana. Yakni benteng Fort Van Der Capellen di Batusangkar dan Fort de Kock di Bukittinggi.

Karena merasa kewalahan, Belanda kemudian mengajukan perjanjian dengan Kaum Padri yang disetujui kedua pihak. Untuk sementara, perang ini mereda. Namun hal itu tak bertahan lama karena Belanda mengingkari kesepakatan.

Lagi-lagi Belanda merasa kewalahan menghadapi Kaum Padri. Hal itu dikarenakan mereka sedang fokus dengan Perang Diponegoro di Pulau Jawa. Tak lama perjanjian pu kembali di ajukan. Pada 15 November 1825 terciptalah Perjanjian Padang.

Begitu Perang Diponegoro dimenangkan Belanda, Perjanjian Padang tak ada artinya lagi. Pada 1830, berkobarlah kembali perang antara Belanda dan Kaum Padri ini. Seiring berjalannya perang, Kaum Adat pun menyadari tipu muslihat Belanda. Maka, mereka pun memutuskan bersatu dengan Kaum Padri memerangi Belanda.

Nasionalisme yang berkobar dalam jiwa masyarakat Sumatera Barat tersebut nyatanya mampu meluluhlantakkan pasukan Belanda. Menyadari bahwa perang ini semakin berat, Belanda mencoba mengakhirinya dengan menawarkan Perjanjian Plakat Panjang (1833) dengan para raja di Minangkabau.

Hal itu tak berlangsung sebagaimana mestinya. Justru tahun 1835 Kaum Padri mendapat kemunduran signifikan. Hal itu disebabkan oleh sayap kanan Belanda yang berhasil menutup akses daerah Bonjol dengan daerah luar. Maka, 25 Oktober 1837, Tuanku Imam Bonjol menyerahkan diri untuk berdamai dengan Belanda.

Sayangnya, hal itu justru dimanfaatkan Belanda untuk menangkap kemudian mengasingkan Tuanku Imam Bonjol. Beliau diasingkan ke beberapa daerah. Pertama diasingkan ke Cianjur, kemudian Ambon dan berakhir di Manado. Di sanalah, Tuanku Imam Bonjol kemudian wafat pada tanggal 6 November 1864.

Berikan Bintang Untuk Penulis

%d blogger menyukai ini: