5/5 (1) Sejarah Perang Diponegoro (1825 – 1830)

Sejarah Perang Diponegoro (1825 – 1830) – Sejarah Perang Diponegoro adalah sejarah perang yang membekas di hati penduduk pulau Jawa, terlebih Yogyakarta. Perang yang mampu membuat tagihan Belanda membengkak ini benar-benar tetap dikenang sepanjang masa.

Kecerdikan Pangeran Diponegoro dalam menjalankan siasat perang tak pelak membuat Belanda harus kehilangan beribu pasukannya dan menderita kekosongan kas.

Perang ini pertamanya dipicu oleh kesenjangan kekuasaan di wilayah keraton. Terutama pihak keraton yang tak menginginkan Pangeran Diponegoro memiliki takhta di sana. Pangeran Diponegoro sempat kecewa karena justru keponakannya, Sultan Hamengkubuwono Ke V yang menduduki takhta raja.

Itu pun ada campur tangan Belanda di sana. Karena keraton yang sudah tercampur dengan doktrin Belanda, Pangeran Diponegoro memutuskan pergi dadi keraton.

Belanda yang merasa Pangeran Diponegoro akan menjadi ancaman serius, sengaja memperkeruh suasana. Mereka, melalui Patih Danu Reja IV, memutuskan untuk melakukan pembangunan jalan. Rute jalan yang awalnya melalui Muntilan dibelokkan hingga melalui tanah milik Pangeran Diponegoro di daerah Tegalrejo. Bahkan patok yang ditancapkan pun tepat berada di atas makam leluhur Pangeran Diponegoro.

Meletusnya Perang Diponegoro

Tindakan Belanda itu berhasil membuat Pangeran Diponegoro marah. Beliau meminta rakyat untuk mencabut patok tersebut. Sayangnya, patok kembali ditancapkan oleh Belanda. Merasa tidak ada perubahan, Pangeran Diponegoro mengganti patok itu dengan tombak. Hal yang sekaligus menjadi pemicu utama meletusnya Perang Diponegoro ini.

Karena Belanda merasa mempunyai alasan logis menangkap pangeran, mereka kemudian melakukan pengepungan di kediaman pangeran yang berada di Tegalrejo pada 20 Juli 1825. Sayangnya hal itu tidak berhasil karena pangeran dan kerabatnya berhasil meloloskan diri hingga desa Dekso di Kabupaten Kulon Progo.

Pelolosan diri sang pangeran pun berlanjut hingga Goa Selarong. Goa yang berada di Kentongan Lor, Guwosari, Pajangan, Bantul ini. Goa ini kemudian dijadikan tempat pertapaan beliau.

Di bawah pimpinan sang pangeran, rakyat pribumi sangat bersemangat melawan Belanda. Pangeran Diponegoro kemudian dibantu oleh spiritualnya Kyai Mojo yang juga merangkap sebagai pemimpin pemberontakan.

Dalam perjuangannya, Pangeran Diponegoro menerapkan siasat perang gerilya. Yaitu perang yang berpindah-pindah tempat dengan cara diam-diam. Dan siasat ini pun berhasil untuk waktu yang cukup lama.

Kyai Mojo sendiri selalu menekankan pada pasukan pangeran bahwa apa yang sedang mereka lakukan ini adalah perang Jihad. Perang Jihad sendiri adalah perang yang dilakukan umat Islam untuk memberantas penderitaan dalam segala bidang kehidupan.

Kemenangan demi kemenangan pun diraih sang pangeran dan beberapa utusannya. Hampir seluruh wilayah pulau Jawa berhasil dikuasai sang pangeran. Hal ini membuat Belanda geram karena kerugian yang harus mereka tanggung.

Pada 1827, Jenderal van de Kock memberlakukan siasat Benteng Stelsel. Siasat ini dijalankan dengan membangun benteng pertahanan sebagai penghalau gerak pasukan Pangeran Diponegoro dalam berorganisir dengan daerah lain. Siasat lain yang mereka gunakan adalah membujuk pimpinan perang agar mau menyerah. Kembali, siasat ini terbukti berhasil.

Kemunduran Pangeran Diponegoro

Pada 28 Maret 1830, setelah berunding dua kali dan gagal, Belanda mengajukan perundingan ketiga. Ternyata Jenderal van de Kock berkhianat. Ketika pangeran hendak meninggalkan meja perundingan, beliau ditangkap dan dilucuti senjatanya. Pangeran yang tidak siap dengan kondisi perang pun hanya pasrah.

Di tanggal dan hari yang sama, pangeran diasingkan ke Ungaran, lalu dibawa ke Gedung Karesidenan Semarang dan dibawa ke Batavia menggunakan kapal Pollux  5 April 1830.

11 April 1830 kapal itu sampai di Batavia. Sambil menunggu putusan untuk keluarga sang pangeran, beliau ditawan di Stadhius. 3 Mei 1830, 3 hari setelah keputusan dijatuhkan, Pangeran Diponegoro, Raden Ayu Retnoningsih (istrinya), Tumenggung Diposono dan istrinya, serta para pengikut pangeran di bawa ke Manado menggunakan kapal Pollux. Kemudian mereka ditawan di Benteng Amsterdam. 1834, dipindahkan lagi ke Benteng Rotterdam, Makassar. Pangeran Diponegoro wafat pada 5 Januari 1835 dan dimakamkan di sana, Makassar.

Berikan Bintang Untuk Penulis

%d blogger menyukai ini: