5/5 (1) Ramah dan Sopan Santun Kepada Orang Tua dan Guru

Ramah dan Sopan Santun Kepada Orang Tua dan Guru – Kita semua tentu pernah dan sering dinasihati oleh orangtua untuk selalu berlaku sopan santun kepada siapa saja dan dimana saja. Tahu bagaimana harus bersikap dan membawa diri, hormat kepada yang lebih tua, menghargai yang sebaya, serta menyayangi yang lebih muda.

Pengertian sopan santun 

sikap atau tingkah laku yang baik, hormat, dan beradab serta diiringi oleh rasa belas kasihan dan berbudi halus yang tercermin dalam tingkah laku, tutur kata, cara berpakaian, dan lain sebagainya. Seseorang yang memiliki sopan santun tidak hanya memiliki sikap atau perilaku yang beradab sesuai norma yang dianut oleh lingkungannya akan tetapi juga memiliki hati yang halus dan rasa belas kasihan kepada orang lain.
Sopan santun berhubungan dengan nilai-nilai peradaban yang dianut suatu kelompok masyarakat sehingga apa yang dianggap sopan oleh suatu kelompok masyarakat bisa berbeda dengan kelompok masyarakat lain. Misalnya saja di daerah barat seperti Amerika merupakan hal yang biasa dan sopan menyapa orang lain baik laki-laki maupun perempuan dengan cara mencium pipi. Berbeda dengan daerah timur seperti di Indonesia dimana hal tersebut tidak lumrah dan dianggap tidak sopan.
Setelah memiliki sopan santun dalam dirinya, sikap atau perilaku seseorang akan semakin sempurna dengan bersikap ramah tamah dalam pergaulan. Seseorang dikatakan ramah tamah jika ia memiliki kebaikan hati dan budi bahasa yang baik, sikap dan tutur kata yang manis, suka bergaul, serta menyenangkan dalam pergaulan. Contoh sikap ramah tamah seperti suka tersenyum, suka menyapa orang terlebih dahulu, dan lain sebagainya.
Seseorang yang memiliki sikap ramah tamah menunjukkan bahwa ia mengakui dan menghargai keberadaan serta harkat dan martabat orang lain, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, serta lebih mengutamakan kepentingan bersama agar tercapainya kesejahteraan. Dengan bersikap ramah tamah maka orang lain akan merasa dihargai dan diterima dalam pergaulan.
Masyarakat Indonesia dikenal dengan keramahtamahannya sehingga banyak orang asing yang ingin berkunjung ke Indonesia, bahkan sebagian menetap lama di Indonesia dan ada juga yang menjadi warga negara Indonesia. Orang asing yang di tempat asalnya terbiasa bersikap individual terpesona dengan budaya Indonesia yang memiliki rasa kebersamaan yang tinggi yang terlihat dari suka tersenyum dan menyapa, saling tolong-menolong, terbuka, peduli, dan lain-lain.

Pengertian Sopan Santun dan Ramah Tamah Menurut Para Ahli

Pengertian Sopan Santun

Sopan santun adalah suatu aturan atau tata cara yang berkembang secara turun temurun dalam suatu budaya di masyarakat yang bisa bermanfaat dalam pergaulan antar sesama manusia sehingga terjalin suatu hubungan yang akrab, saling pengertian serta saling hormat menghormati. (Taryati dalam Suharti : 2004). 

Pengertian Sopan Santun Menurut Islam

Sopan santun menurut Islam adalah sopan santun terdiri dari 2 kata yaitu sopan dan santun. Sopan artinya hormat dengan Takzim menurut adat yang baik. Sedangkan arti santun adalah baik dan halus budi bahasa serta tingkah lakunya, suka menolong dan menaruh belas kasihan. Dengan demikian pengertian sopan santun adalah suatu bentuk tingkah laku yang baik dan halus serta diiringi sikap menghormati orang lain menurut adat yang baik ketika berkomunikasi dan bergaul yang bisa ditunjukkan kepada siapapun, kapanpun dan dimanapun. Contoh sopan santun di lingkungan keluarga adalah seorang anak yang meminta izin terlebih dahulu kepada orang tuanya ketika hendak pergi ke luar rumah.

Pengertian Ramah Tamah

Ramah tamah adalah suatu perilaku dan sifat masyarakat yang akrab dalam pergaulan seperti suka senyum, sopan serta hormat dalam berkomunikasi, ringan tangan, suka menyapa, suka membantu tanpa pamrih dsb yang dilakukan dengan ketulusan dan berprasangka baik terhadap orang lain baik itu yang sudah dikenal ataupun yang belum dikenal. (Setiadi dkk : 2006)

Berikut ini beberapa adab yang baik dan akhlak yang mulia kepada orang tua : 

1. Tidak memandang orang tua dengan pandangan yang tajam atau tidak menyenangkan

2. Tidak meninggikan suara ketika berbicara dengan orang tua

 

Dalil kedua ada di atas adalah hadits Al Musawwir bin Makhramah radhiallahuanhu mengenai bagaimana adab para Sahabat Nabi terhadap Nabi Shallallahualaihi Wasallam, disebutkan di dalamnya:

“jika para sahabat berbicara dengan Rasulullah, mereka merendahkan suara mereka dan mereka tidak memandang tajam sebagai bentuk pengagungan terhadap Rasulullah” (HR. Al Bukhari 2731).

Syaikh Musthafa Al Adawi mengatakan: “setiap adab di atas terdapat dalil yang menunjukkan bahwa adab-adab tersebut merupakan sikap penghormatan”.

Maka dari hadits ini merendahkan suara dan tidak memandang dengan tajam merupakan akhlak yang mulia dan sikap penghormatan yang tentu sangat layak untuk kita terapkan kepada orang tua. Karena merekalah orang yang paling layak mendapatkan perlakuan yang paling baik dari kita. Sebagaimana telah dijelaskan pada materi sebelumnya.

3. Tidak mendahului mereka dalam berkata-kata

Di antara adab yang mulia kepada orang tua adalah tidak mendahului mereka dalam berkata-kata dan mempersilakan serta membiarkan mereka berkata-kata terlebih dahulu hingga selesai. Lihatlah bagaimana Abdullah bin Umar radhiallahuanhu menerapkan adab ini. Beliau berkata:

 “kami pernah bersama Nabi Shallallahualaihi Wasallam di Jummar, kemudian Nabi bersabda: Ada sebuah pohon yang ia merupakan permisalan seorang Muslim. Ibnu Umar berkata: sebetulnya aku ingin menjawab: pohon kurma. Namun karena ia yang paling muda di sini maka aku diam. Lalu Nabi Shallallahualaihi Wasallam pun memberi tahu jawabannya (kepada orang-orang): ia adalah pohon kurma” (HR. Al Bukhari 82, Muslim 2811).

Ibnu Umar radhiallahuanhuma melakukan demikian karena adanya para sahabat lain yang lebih tua usianya walau bukan orang tuanya. Maka tentu adab ini lebih layak lagi diterapkan kepada orang tua.

4. Tidak duduk di depan orang tua sedangkan mereka berdiri

Dalilnya hadits Jabir bin Abdillah radhiallahuanhu:

 “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengaduh (karena sakit), ketika itu kami shalat bermakmum di belakang beliau, sedangkan beliau dalam keadaan duduk, dan Abu Bakar memperdengarkan takbirnya kepada orang-orang. Lalu beliau menoleh kepada kami, maka beliau melihat kami shalat dalam keadaan berdiri. Lalu beliau memberi isyarat kepada kami untuk duduk, lalu kami shalat dengan mengikuti shalatnya dalam keadaan duduk. Ketika beliau mengucapkan salam, maka beliau bersabda, kalian baru saja hampir melakukan perbuatan kaum Persia dan Romawi, mereka berdiri di hadapan raja mereka, sedangkan mereka dalam keadaan duduk, maka janganlah kalian melakukannya. Berimamlah dengan imam kalian. Jika dia shalat dalam keadaan berdiri, maka shalatlah kalian dalam keadaan berdiri, dan jika dia shalat dalam keadaan duduk, maka kalian shalatlah dalam keadaan duduk” (HR. Muslim, no. 413).

Para ulama mengatakan dilarangnya hal tersebut karena merupakan kebiasaan orang kafir Persia dan Romawi. Maka hendaknya kita menyelisihi mereka.

5. Lebih mengutamakan orang tua daripada diri sendiri atau iitsaar dalam perkara duniawi

Hendaknya kita tidak mengutamakan diri kita sendiri dari orang tua dalam perkara duniawi seperti makan, minum, dan perkara lainnya. Sebagaimana hadits dalam Shahihain mengenai kisah yang diceritakan oleh Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam mengenai tiga orang yang terjebak di dalam gua yang tertutup batu besar, kemudian mereka bertawassul kepada Allah dengan amalan-amalan mereka, salah satunya berkata:

“Ya Allah sesungguhnya saya memiliki orang tua yang sudah tua renta, dan saya juga memiliki istri dan anak perempuan yang aku beri mereka makan dari mengembala ternak. Ketika selesai menggembala, aku perahkan susu untuk mereka. Aku selalu dahulukan orang tuaku sebelum keluargaku. Lalu suatu hari ketika panen aku harus pergi jauh, dan aku tidak pulang kecuali sudah sangat sore, dan aku dapati orang tuaku sudah tidur.

Lalu aku perahkan untuk mereka susu sebagaimana biasanya, lalu aku bawakan bejana berisi susu itu kepada mereka. Aku berdiri di sisi mereka, tapi aku enggan untuk membangunkan mereka.

Dan aku pun enggan memberi susu pada anak perempuanku sebelum orang tuaku. Padahal anakku sudah meronta-ronta di kakiku karena kelaparan. Dan demikianlah terus keadaannya hingga terbit fajar. Ya Allah jika Engkau tahu aku melakukan hal itu demi mengharap wajahMu, maka bukalah celah bagi kami yang kami bisa melihat langit dari situ. Maka Allah pun membukakan sedikit celah yang membuat mereka bisa melihat langit darinya”.

Berikan Bintang Untuk Penulis

%d blogger menyukai ini: