5/5 (1) Pola Hunian Nomaden Manusia Dulu

Pola Hunian Nomaden Manusia Dulu – Pola hunian nomaden merupakan salah satu sistem kehidupan yang dulu dilakukan oleh manusia purba. Nomaden diartikan sebagai pola hidup secara berpindah-pindah, dari satu tempat ke tempat lain. Manusia dulu membentuk komunitas-komunitas kecil yang kemudian mobilisasi dengan tujuan untuk bertahan hidup.

Makanan manusia pada zaman ini sangat bergantung pada alam, sehingga dikenal dengan masa berburu dan mengumpulkan makanan. Hewan dan tumbuhan sudah mulai hidup secara merata di bumi, sehingga sebagaimana ekosistem yang sudah ada manusia harus mampu memanfaatkannya.

Perpindahan tempat tinggal manusia dulu disesuaikan dengan migrasi hewan buruan dan ketersediaan sumber air. Migrasi hewan sendiri dipengaruhi oleh berbagai macam hal, misalnya saja iklim, sumber makanan, bencana, dan gangguan dari hewan lain. Sehingga kehidupan menetap (sedenter) pada zaman ini belum dikenal.

Wow, ternyata manusia dulu sangat unik ya.

Tentunya, manusia dulu tidak asal tinggal di suatu tempat. Mereka memiliki ciri khas dalam memilih tempat tingga. Dan, kami akan mengulasnya sedikit tentang ciri khas yang dimiliki manusia prasejarah dalam memilih tempat tinggal.

Yuk, disimak!

Memilih tempat tinggal yang dekat dengan sumber air

Tentu, air adalah segalanya. Baik manusia dulu dan sekarang, air adalah kebutuhan utama dalam melanjutkan kelangsungan hidup.

Selain air yang menjadi kebutuhan pokok, ternyata air juga mengundang keberadaan hewan sehingga manusia dulu bisa berburu. Begitu juga dengan tanaman. Air memberikan kesuburan sehingga banyak tanaman yang tumbuh. Dan manusia dapat memanfaatkannya sebagai sumber makanan.

Memilih kehidupan di alam terbuka

Ini adalah salah satu hal menarik yang patut kita bahas. Manusia dulu sangat gemar sekali tinggal di sekitaran sungai dan beristirahat di bawah pohon. Sebagian dari mereka juga memanfaatkan gua-gua sekitar sebagai tempat hunian sementara. Mobilitas manusia yang tinggi tidak memungkinkan untuk menetap lama di dalam gua.

Umumnya mereka mobilisasi tidak jauh dari sungai, danau, atau sumber air yang lain. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, hewan buruan tidak jauh dari air. Ditempat-tempat semacam itulah manusia prasejarah menunggu buruan mereka. Selain itu, biasanya tanah di dekat sungai atau danau bisa dibilang cukup subur. Sehingga mereka bisa mengkonsumsi tanaman umbi-umbian yang tumbuh di sekitar tempat tersebut.

Manusia dulu secara geografis banyak sekali meninggalkan situs-situs, terutama di Indonesia. Sehingga kita sebagai manusia sekarang tidak lupa akan sejarah nenek moyang.

Sebagaimana yang disebutkan di atas, di Indonesia seperti yang ditemukan di sepanjang pantai Sumatra Timur antara Langsa Aceh sampai medan, di sana terdapat tumpukan atau timbunan sampah kulit kerang dan siput yang disebut kjokkenmoddinger (kjokken = dapur, modding = sampah). Selanjutnya, pada tahun 1925 Von Stein Callefels juga menemukan kapak genggam yang disebut pebble (kapak Sumatra) dan anak panah atau tombak yang digunakan untuk menangkap ikan.

Pola hunian nomaden juga bisa kita temukan di sepanjang aliran sungai bengawan Solo (Sangiran, Sambung Macan, Trinil, Ngawi, dan Ngadon). Dari situ kita juga melihat adanya kecenderungan hidup di pinggir sungai. Manusia pada zaman berburu dan mengumpulkan makanan hidup berpindah-pindah dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan kehidupan mereka dan melangsungkan kehidupan.

Nah, bagaimana? Menarik bukan mengenal sejarah manusia dulu?

Sudah sepatutnya, kita yang hidup di masa ini mengetahui sejarah para nenek moyang. Karena tanpa adanya sejarah, masa ini tidak akan pernah ada.

Berikan Bintang Untuk Penulis

%d blogger menyukai ini: