5/5 (1) Perkembangan Bahasa dan Dialek

Perkembangan Bahasa dan Dialek – Bertemu lagi bareng kita, budisyaqier.com yang senantiasa membahas mengenai segala ilmu pengetahuan yang pastinya perlu kalian ketahui. Dan kali ini budisyaqier.com berkesempatan untuk membahas Perkembangan Bahasa dan Dialek. Mari langsung saja simak baik-baik ulasan di bawah.

Pada umumnya, orang beranggapan bahwa suatu bahasa berkaitan dengan keadaan alam, suku bangsa, dan situasi politik di suatu daerah. Selain itu, penentuan batas-batas pemakaian suatu bahasa dan dialek juga didasarkan kepada faktor sejarah, agama, kebudayaan, ekonomi, komunikasi, dan kesediaan masyarakat pemakai suatu bahasa untuk menerima pengaruh-pengaruh dari luar. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa perkembangan suatu bahasa atau dialek dipengaruhi oleh aspek kebahasaan dan nonkebahasaan seperti keadaan yang memengaruhi ruang gerak penduduk setempat untuk berkomunikasi dengan dunia luar. Pembentukan suatu ragam bahasa atau dialek disebabkan adanya hubungan dan keunggulan bahasa-bahasa atau dialek-dialek ketika terjadi perpindahan penduduk, perang, dan penjajahan. Pembentukan ragam bahasa juga dipengaruhi oleh kosakata, struktur, dan cara-cara pengucapan atau lafal dialek atau bahasa lainnya. Perkembangan suatu bahasa atau dialek dapat berkembang membaik apabila dipakai secara luas oleh masyarakat dan menjadi bahasa baku atau memburuk apabila suatu bahasa lenyap dan tidak dipakai lagi oleh masyarakat. Contoh perkembangan membaik adalah diangkat dan diakuinya bahasa dan dialek Sunda Kota Bandung sebagai bahasa Sunda baku dan bahasa sekolah di Jawa Barat serta bahasa Jawa Kota Surakarta sebagai bahasa baku bahasa Jawa dan bahasa sekolah di Jawa Tengah. Sebaliknya, contoh perkembangan memburuk adalah lenyapnya bahasa dan dialek Sunda di kampung Legok, Indramayu karena pada saat ini penduduk kampung tersebut hanya dapat menggunakan bahasa Jawa Cirebonan.

BAca Juga : Bahasa, Dialek, dan Tradisi Lisan di Indonesia

Perkembangan memburuk bahasa atau dialek-dialek daerah terjadi pada bahasa daerah yang jumlah pemakainya sedikit dan diancam bahaya kepunahan. Terdapat beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya perkembangan memburuk suatu bahasa atau dialek, antara lain sebagai berikut.

  1. Adanya pengaruh pemakaian bahasa nasional dalam pola penggunaan bahasa daerah dan pengaruh bahasa nasional dan bahasa baku suatu bahasa daerah ke dalam dialek melalui berbagai saluran, baik resmi atau tidak resmi, seperti sekolah, lembaga pendidikan, dan saluran seni budaya.
  1. Faktor sosial berupa membaiknya taraf kehidupan sosial Dengan bertambah baiknya taraf kehidupan sosial maka kemungkinan untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik akan membuka peluang mobilitas status sosial ekonomi seseorang. Misalnya, seorang penduduk desa yang merantau ke kota untuk bekerja atau menuntut ilmu. Di kota, seorang penduduk desa harus hidup dalam ling- kungan yang berbeda dengan lingkungan di kampung asalnya. Apabila mereka kembali ke kampung halamannya, mereka akan tetap mempertahankan cara-cara hidup yang pernah mereka terapkan selama di rantau. Misalnya, dalam penggunaan bahasa daerah mereka akan lebih banyak memakai bahasa nasional atau bahasa asing dalam percakapan sehari-hari dibanding penduduk desa yang tidak pernah merantau. Selain itu, dalam penggunaan dialek, seseorang yang pernah merantau akan tetap mempergunakan bahasa baku karena mereka sadar bahwa dialek bahasa daerahnya tidak selengkap bahasa baku.

Bahasa-bahasa daerah yang jumlah pemakainya sedikit dan berada di daerah-daerah terpencil merupakan bahasa-bahasa daerah yang besar sekali kemungkinannya akan lenyap. Namun, dialek yang paling besar kemungkinannya untuk hilang adalah dialek yang ada di kota-kota karena tergeser oleh bahasa baku dan bahasa kebangsaan di kota-kota yang lebih sering digunakan oleh penduduk.

Di Indonesia pengaruh yang berasal dari bahasa Indonesia sebagai bahasa kebangsaan ke dalam bahasa daerah di Indonesia jauh lebih besar dibandingkan dengan pengaruh bahasa daerah pada bahasa Indonesia. Hal tersebut disebabkan oleh kelebihan kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa kebangsaan dan bahasa negara yang tidak dimiliki oleh berbagai bahasa daerah di Indonesia.

Adanya kelebihan-kelebihan tersebut menyebabkan hampir setiap orang berusaha untuk menguasai bahasa Indonesia dengan lancar sehingga tidak jarang mengorbankan pemakaian bahasa daerahnya sendiri. Di samping itu, selain rumpun bahasa-bahasa di Provinsi Papua, bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa daerah yang ada di Indonesia pada dasarnya termasuk ke dalam satu rumpun bahasa yang sama, yaitu rumpun bahasa Austronesia sehingga proses pemengaruhan antarbahasa tersebut akan semakin cepat terjadi. Selanjutnya, kesamaan sistem dan struktur bahasa-bahasa serumpun tersebut menyebabkan proses pemenga- ruhan tersebut seringkali tidak terasa sebagai sesuatu yang dipaksakan.

Pada saat ini telah muncul kecenderungan bahasa-bahasa dan dialek lokal turut memengaruhi pembentukan ragam kata bahasa Indonesia seperti penyerapan istilah bahasa atau dialek Jawa dan Sunda dalam ragam kata bahasa Indonesia. Misalnya, di Makassar kata lembek sering dilafalkan dengan dua /e/ pepet (sama seperti orang melafalkan kata pesta) dan konsonan /k/ yang samar (mirip dengan pelafalan umum kata bapak). Sebaliknya, pemakaian istilah ketabrakketemukepergok,  atau kecantol adalah ragam morfologi yang kental dengan pengaruh bahasa Jawa. Selain itu, ber- dasarkan analisis sintaksis, pengaruh bahasa Sunda  terlihat pada  pemakaian  frase  oleh saya, apabila dipakai dalam kalimat, ” ….. belum selesai dikerjakan oleh saya” (teu acan didamel ku abdi).

Keberadaan ragam-ragam bahasa atau dialek menunjukkan adanya interaksi yang saling memengaruhi antara bahasa nasional dan bahasa lokal setiap kelompok etnik di Indonesia. Pada awalnya, pengaruh ragam bahasa lokal hanya terjadi pada saat seseorang berkomunikasi secara lisan karena ia cenderung merasa sungkan bila tidak menggunakan bahasa baku dalam komunikasi tulisan.  Namun, seiring dengan semakin  populernya

Baca Juga : Kepedulian Terhadap Tradisi Lisan

piranti telekomunikasi berupa pesan elektronik singkat atau SMS (Short Message Service) pada telepon seluler dan internet, pemakaian ragam bahasa dalam novel sastra remaja populer yang disebut teenlit dan chicklit, percakapan, papan iklan, logo, dan aneka lambang perusahaan ragam bahasa lokal semakin dipengaruhi oleh pemakaian bahasa dan dialek lokal. Misalnya, di Bandung akan lahir istilah Rumah Sakit Santo Yusup karena orang Sunda terbiasa mengucapkan lafal /f/ dengan  /p/.  Contoh  tersebut menunjukkan bahwa peluang untuk mengekspresikan bahasa dan dialek lokal dalam berbahasa menjadi semakin luas.

Berikan Bintang Untuk Penulis

%d blogger menyukai ini: