5/5 (2) Pergolakan Dalam Negeri (1948-1965)

Pergolakan Dalam Negeri (1948-1965) – Indonesia dengan 17.500 pulau, dengan 300 etnis,  dengan 1340 suku bangsaa, dengan  6 agama resmi, serta dengan 737 bahasa, menjadi sebuah bukti betapa kayanya negri kita. Belum lagi terhitung berbagai kekayaan sumber daya alam yang melimpah ruah.  Negeri yang kaya dan nberagam,  namun tetap dalam satu persatuan ini bukanlah sebuah negri yang terlahir begitu saja.  Ada banyak darah yang tertumpah di medan juang dalam mencapai semua itu. Masa-masa penjajahan yang penuh  penderitaan  harus dialami selama 3,5 abad. Perjuanganpun belum usai dengan  kemerdekaan yang telah diraih pada tanggal  17 Agustus 1945.

Pasca kemerdekaan Indonesia, bangsa ini masi diuji dengan berbagai pergolakan yang terjadi di dalam negri. Maka, menjadi penting untuk kita memahami dan mengambil hikmah  atas berbagai ujian yang melanda berupa berbagai pergolakan dalam negri dalam rentang 1948 sampai  1965.

Tahun 1948,  tiga tahun paska kemerdekaan Indonesia, terjadi sebuah pemberontakan  besar dikarenakan ketegangan politik yang terjadi. Pemberontakan ini dikenal dengan  pemberontakan PKI yag terjadi di Madiun. Di tahun  1965, kita  telah mengenal sebuah peristiwa yang bernama G30S PKI. Seubah pergolakan besar yang berusaha merebut kekuasaan pemerintahan dengan mengganti ideologi Pancasila.

Dua peristiwa tersebut dapat digambarkan secara rinci menjadi tiga jenis pergolakan dalam negri yang terjaddi dalam rentang waktu 1948 sampai dengan tahun 1965.

  1. Konflik dan pergolakan dengan Ideologi

Ada beberapa peristiwa yang berussaha mengacaukan ideology Pancasila. Beberapa pihak berusaha untuk menjadikan komunisme sebagai ideology bangsa Indonesia. Hal ini ditandai dengan adanya peristiwa pemberontakaan PKI di Madiun dan G30S PKI. Selain  itu, adapula sebuah peristiwa pemberontakan DI/TII yang  berupaya  untuk menggantikan ideology Pancasila dengan ideology agama.

Seorang akademisi asal Australia, Herbert  Feith, menuturkan bahwa terdapat beberapa aliran politik yang cukup besar di Indonesia, yang semakin membesar  setelah masa kemerdekaan, terutama setelah masaa pemilu 1955. Lima alirann politik tersebut adalah:

  • Nasionalisme radikal yang digaungkan oleh PNI
  • Aliran politik islam oleh NU dan Mayumi
  • Komunis oleh Partai Komunis Indonesia
  • Sosialisme democrat diprakarsai oleh Partai Sosialis Indonesia
  • Tradisionalis Jawa yang diusung oleh Paartai Indonesia Raya, kelompok teofis, serta birokrat pemerintahan atau yang biasa dikenal dengan istilah pamongpraja.

Di masa-masa tersebut, lima aliran dengan pengusungnya masing-masingng saling bersaing untuk menerapkan ideology yang mereka bawa.

  1. Konflik dan pergolakan kepentingan

Setiap kelompok yang memiliki kepentingan tertentu, berupaya semaksimal mungkin  demi tercapainya kepentingan tersebut. Dalam masa ini, terdapat beberapa peristiwa yangn terjadi dengan daasar kepengan masing-masing. Di antaranya adalah: pemberontakan APRA,  RMS, dan juga Andi Aziz. Berbagai peristiwa tersebut dilatarbelakangi dengnan adanya kepentingnan masing-masing yang ingin dicapai.          Peristiwa tersebut memiliki hubungan  dengan keberadaan pasukan  KNIL atau yang kita ketahui sebagai tentara kerajaan Hindia Belanda. Mereka tidak bersedia menerima kedatangan tentara-tentara Indonesia di wilayah kekuasaan mereka.

  1. Konflik dan pergolakan dengan system pemerintahan

Pemberontakan PRPI dan Permesta, persoalan Negara federal dan BFO (Bijeenkomst Federal Overleg) adalah ccontoh peristiwa yang merupakan konflik dan pergolakan yang terjadi dan berkaitan dengan system pemerintahan. Konflik ini diawali dengan perjanjian Linggarjati. Indonesia ditetaapkan sebagai sebuah Negara dalam bentuk serikat   atau federal dan dengan nama Republik Indonesia Serikat. Republik Indonesia merupakan  salah satu bagian  dari RIS, dengnan beberapa negara lain seperti Negara Pasundan, Negara Madura atau Negara Indonesia Timur. BFO memiliki peran sebagai  sebuah  badan musyawarah negara-negara federal selain RI, dan dibentuk oleh Belanda. Hal ini menimbulkan berbagai pro dan kontra yang akhirnya menghasilkan beberapa konflik dan pergolakan.

 

Berikan Bintang Untuk Penulis

%d blogger menyukai ini: