5/5 (2) Pengertian Budaya Lokal dan Contohnya

Pengertian Budaya Lokal dan Contohnya – Bertemu lagi bareng kita, budisyaqier.com yang senantiasa membahas mengenai segala ilmu pengetahuan yang pastinya perlu kalian ketahui. Dan kali ini budisyaqier.com berkesempatan untuk membahas Pengertian Budaya Lokal dan Contohnya. Mari langsung saja simak baik-baik ulasan di bawah.

Pada awal pembentukan disiplin antropologi di Indonesia, beberapa pakar etnografi berupaya untuk menggambarkan berbagai macam kebudayaan yang menyebar luas di tanah air. Penelitian itu dicatat dalam buku Manusia serta Kebudayaan di Indonesia karangan Koentjaraningrat yang berisi esai atau kumpulan tulisan tentang laporan etnografi kebudayaan suku bangsa di Indonesia.

Konsep Budaya Lokal

Budaya lokal umumnya didefinisikan sebagai budaya asli dari suatu golongan masyarakat tertentu. Menurut J.W. Ajawaila, budaya lokal ialah ciri khas budaya sebuah kelompok masyarakat lokal. Akan tetapi, tidak mudah untuk merumuskan atau mendefinisikan konsep budaya lokal. Menurut Irwan Abdullah, definisi kebudayaan hampir tetap terikat pada batas-batas fisik dan geografis yang jelas. Contohnya, budaya Jawa yang mengacu pada suatu adat yang berkembang di Pulau Jawa. Oleh karenanya, batas geografis sudah dijadikan landasan untuk merumuskan definisi suatu kebudayaan lokal. Tetapi, dalam proses perubahan sosial budaya telah muncul kecenderungan mencairnya batas-batas fisik suatu kebudayaan. Hal tersebut dipengaruhi oleh unsur percepatan migrasi serta penyebaran media komunikasi secara global hingga tidak ada budaya lokal suatu kelompok masyarakat yang masih sedemikian asli.
Menurut Hildred Geertz dalam bukunya Bermacam Budaya serta Komunitas di Indonesia, di Indonesia sekarang ini ada lebih 300 dari suku bangsa yang berbicara dalam 250 bahasa yang berbeda serta mempunyai karakter budaya lokal yang berbeda juga.
Daerah Indonesia mempunyai keadaan geografis serta iklim yang berbeda-beda. Contohnya, daerah pesisir pantai Jawa yang beriklim tropis hingga daerah pegunungan Jayawijaya di Provinsi Papua yang bersalju. Perbedaan iklim serta keadaan geografis itu berpengaruh pada kemajemukan budaya lokal di Indonesia.
Saat nenek moyang bangsa Indonesia datang dengan bergelombang dari wilayah Cina Selatan sekitar 2000 tahun sebelum Masehi, keadaan geografis Indonesia yang luas itu sudah memaksa nenek moyang bangsa Indonesia untuk tinggal di wilayah yang terpisah satu sama lain. Isolasi geografis itu meng-akibatkan masyarakat yang menempati tiap pulau di Nusantara tumbuh menjadi kesatuan suku bangsa yang hidup terisolasi dari suku bangsa yang lain. Setiap suku bangsa itu tumbuh jadi kelompok masyarakat yang disatukan oleh ikatan-ikatan emosional dan memandang diri mereka jadi suatu kelompok masyarakat tersendiri. Selanjutnya, kelompok suku bangsa itu mengem- bangkan kepercayaan jika mereka mempunyai asal-usul keturunan yang sama dengan didukung oleh suatu kepercayaan yang berbentuk mitos-mitos yang hidup di masyarakat.
Kemajemukan budaya lokal di Indonesia tercermin dari keragaman budaya serta adat istiadat dalam masyarakat. Suku bangsa di Indonesia, seperti suku Jawa, Sunda, Batak, Minang, Timor, Bali, Sasak, Papua, serta Maluku mempunyai adat istiadat serta bahasa yang berbeda-beda. Setiap suku bangsa itu tumbuh serta berkembang sesuai alam lingkungannya. Keadaan geografis yang terisolir menyebabkan masyarakat setiap pulau mengembangkan pola hidup serta adat istiadat yang berbeda-beda. Contohnya, perbedaan bahasa serta adat istiadat di antara suku bangsa Gayo-Alas di wilayah pegunungan Gayo-Alas dengan masyarakat suku bangsa Aceh yang tinggal di pesisir pantai Aceh.
Menurut Soekmono dalam Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia , masyarakat awal pada zaman praaksara yang hadir pertama kali di Kepulauan Indonesia ialah ras Austroloid sekitar
20.000 tahun yang lalu. Selanjutnya, diikuti kedatangan ras Melanosoid Negroid sekitar 10.000 tahun lalu. Ras yang datang terakhir ke Indonesia ialah ras Melayu Mongoloid sekitar 2500 tahun SM pada zaman Neolithikum serta Logam. Ras Austroloid lalu bermigrasi ke Australia serta sisanya hidup di di Nusa Tenggara Timur serta Papua. Ras Melanesia Mongoloid berkembang di Maluku serta Papua, sedangkan ras Melayu Mongoloid menyebar di Indonesia sisi barat. Ras-ras itu tersebar serta membentuk berbagai suku bangsa di Indonesia. Kondisi tersebut mendorong terjadinya kemajemukan budaya lokal berbagai suku bangsa di Indonesia.

Menurut James J. Fox, di Indonesia terdapat sekitar 250 bahasa daerah, daerah hukum adat, aneka ragam kebiasaan, dan adat istiadat. Namun, semua bahasa daerah dan dialek itu sesungguhnya berasal dari sumber yang sama, yaitu bahasa dan budaya Melayu Austronesia. Di antara suku bangsa Indonesia yang banyak jumlahnya itu memiliki dasar persamaan sebagai berikut.

  1. Asas-asas yang sama dalam bentuk persekutuan masyarakat, seperti bentuk rumah dan adat
  2. Asas-asas persamaan dalam hukum
  3. Persamaan kehidupan sosial yang berdasarkan asas
  4. Asas-asas yang sama atas hak milik

Ciri-Ciri Budaya Lokal

Beberapa ciri budaya lokal bisa dikenali dalam bentuk kelembagaan sosial yang dimiliki oleh suatu suku bangsa. Kelembagaan sosial adalah ikatan sosial bersama di antara anggota masyarakat yang mengoordinasikan aksi sosial bersama antara anggota masyarakat. Lembaga sosial memiliki tujuan tingkah laku sosial ke dalam yang sangat kuat. Hal itu ditunjukkan dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan anggota lembaga sosial itu. Dalam lembaga sosial, hubungan sosial antara anggotanya sangat bersifat pribadi dan dilandasi oleh kesetiaan yang tinggi pada pemimpin serta gengsi sosial yang dimiliki. Bentuk kelembagaan sosial itu bisa dijumpai dalam sistem gotong royong di Jawa serta di dalam sistem banjar atau ikatan tradisi di Bali. Gotong royong adalah ikatan hubungan tolong-menolong antara warga desa. Di wilayah pedesaan pola hubungan gotong royong bisa terjadi dalam banyak aspek kehidupan. Kerja bakti, bersih desa, serta panen bersama adalah contoh-contoh dari kegiatan gotong royong yang sampai saat ini masih bisa ditemukan di wilayah pedesaan. Di masyarakat Jawa, rutinitas gotong royong terdiri dari berbagai macam bentuk. Bentuk itu di antaranya berkaitan dengan upacara siklus hidup manusia, seperti perkawinan, kematian, serta panen yang dikemas dalam bentuk selamatan.

Baca Juga : Pengertian Budaya Asing dan Contohnya

Di dalam masyarakat Jawa, pelaksanaan selamatan ada yang dilaksanakan secara perorangan atau dengan kolektif. Tujuannya ialah untuk memperkuat ikatan sosial masyarakat yang dikerjakan oleh suatu kelompok sosial tertentu. Contohnya, keraton Yogyakarta serta Surakarta ialah kelompok masyarakat yang paling sering melakukan ritual selamatan jadi ungkapan rasa syukur terhadap Tuhan, seperti gerebeg, sedekah bumi, upacara apeman, serta gunungan yang masih dilaksanakan sampai saat ini.
Di wilayah Bali, beberapa bentuk kebudayaan lokal masih dilaksanakan sampai sekarang ini. Contohnya, mebanten atau membuat sesaji setiap hari sebanyak tiga kali oleh masyarakat Bali sebagai perwujudan rasa syukur, hormat, serta penyembahan terhadap Tuhan. Konsep keyakinan masyarakat Bali yang menjadi budaya ialah tradisi untuk melilitkan kain berwarna hitam serta putih pada batang pohon yang besar,tiang, serta bangunan di setiap daerah di Pulau Bali. Selain itu, contoh budaya lokal ialah upacara Ngaben yang saat ini menjadi tontonan beberapa pelancong yang datang ke Bali. Ngaben ialah upacara adat membakar jenazah orang yang telah wafat jadi bentuk penghormatan pada orang yang telah wafat.
Salah satu kegiatan masyarakat Bali yang diikat oleh prinsip kebudayaan lokal ialah sistem pengairan di Bali yang disebut Subak. Subak salah satu bentuk gotong royong atau sistem pengelolaan air untuk mengairi lahan persawahan berbentuk organisasi yang anggotanya diikat oleh pura subak. Di sistem subak ada pembagian kerja berdasarkan hak serta kewajiban sebagai anggota subak. Oleh karenanya, jika ada masyarakat yang tidak jadi anggota maka dia tidak berhak atas jatah air untuk mengairi sawahnya serta mengurus pura serta bebas dari semua keharusan di sawah serta pura.
Budaya lokal di Indonesia memiliki beberapa perbedaan. Suku- suku bangsa yang sudah banyak berkawan dengan masyarakat luar serta bersentuhan dengan budaya modern, seperti suku Jawa, Minangkabau, Batak, Aceh, serta Bugis mempunyai budaya lokal yang berlainan dengan suku bangsa yang masih tertutup atau terisolasi seperti suku Dayak di pedalaman Kalimantan atau suku bangsa Wana di Sulawesi Tengah.
Perbedaan budaya itu dapat menimbulkan perselisihan sosial karena adanya perbedaan perilaku yang dilandasi nilai-nilai budaya yang berbeda. Oleh karenanya, dibutuhkan konsep budaya yang mengandung nilai kebersamaan, saling menghormati, toleransi, serta solidaritas antar masyarakat yang hidup dalam komunitas yang sama. Contohnya,
beberapa mahasiswa yang tinggal di dalam rumah indekos di Yogyakarta. Para mahasiswa itu berasal dari berbagai wilayah di Indonesia yang memiliki budaya serta adat istiadat yang berbeda-beda. Perbedaan budaya itu dapat memunculkan perselisihan sosial dalam kehidupan sehari-hari apabila tidak dikelola dengan baik. Oleh karenanya, dibutuhkan rasa toleransi serta sama-sama menghormati antarpenghuni rumah indekos. Sikap toleransi antarpenghuni rumah indekos itu akan muncul jika didasari prinsip relativisme budaya yang memandang bahwa setiap kebudayaan itu berbeda serta unik dan tidak ada nilai-nilai budaya suatu barisan yang dianggap lebih baik atau jelek dibanding kelompok lainnya.

Berikan Bintang Untuk Penulis

%d blogger menyukai ini: