Pengertian Berkarya Teater Beserta Contohnya

Pengertian Berkarya Teater Beserta Contohnya – Bertemu lagi bareng kita, budisyaqier.com yang senantiasa membahas mengenai segala ilmu pengetahuan yang pastinya perlu kalian ketahui. Dan kali ini budisyaqier.com berkesempatan untuk membahas Pengertian Berkarya Teater Beserta Contohnya. Mari langsung saja simak baik-baik ulasan di bawah.

Pengertian Seni Teater

Dalam sejarahnya, kata “Teater”  berasal dari bahasa Inggris theater  atau  theatre,  bahasa Perancis  théâtre  dan dari bahasa Yunani theatron (θέατρον). Secara etimologis, kata “teater” dapat diartikan sebagai tempat atau gedung pertunjukan. Sedangkan secara istilah kata teater diartikan sebagai segala hal yang dipertunjukkan di atas pentas  untuk konsumsi penikmat.

Contoh Seni Teater Tradisional

Beberapa contoh teater yang masuk kedalam seni teater daerah diantaranya adalah sebagai berikut.

1. Lenong

Lenong merupakan teater daerah yang berasal dari suku betawi di Jakarta. Dalam proses pertunjukannya, lenong akan diiringi oleh suara musik yang berasal dari gambang kromong. Lenong akan bercerita tentang kehidupan sehari hari yang berkaitan dengan hubungan sesama manusia dan mengandung berbagai macam pesan moral yang diselingi dengan beberapa guyonan sindiran khas betawi.

2. Ketoprak

Contoh seni teater traditional lainnya adalah ketoprak. Ketoprak merupakan seni teater daerah yang berasal dari Jawa tengah, tepatnya dari surakarta. Seni ketoprak yang awalnya menggunakan iringan lesung atau alat tumbuh padi ini sekarang sudah diringi dengan alat musik yang berbeda yakni gamelan. Cerita yang dikisahkan dalam seni ketoprak ini berupa cerita legenda/masyarakat setempat yang mengandung nilai moral dan dapat ditonton untuk segala usia.

Baca Juga : Pemeran Beserta Penjelasannya dan Contohnya

3. Ludruk

Masih dari pulau jawa, contoh dari salah satu cabang seni teater traditional lainnya adalah ludruk. Luduk merupakan seni drama asli dari provinsi Jawa Timur ini berkisah tentang kehidupan sehari-hari dengan diiringi suara musik gamelan dan ditampilkan dalam bahasa khas Surabaya. Percakapan yang digunakan bersifat hiburan dan lawak sehingga membuat penonton tertawa. Biasanya, ludruk diawali dengan Tari Remo.

4.Mamanda

Seni teater lainnnya berasal dari kalimantan selatan yang dikenal dengan nama Mamanda. Seni teater mamanda ini mirip dengan lenong, di mana terdapat hubungan komunikasi langsung antara pemain dan penonton sehingga memberikan kesan ‘hidup’ tetapi mamanda cenderung kaku dengan mengikuti alur cerita kerajaan. Mamanda memiliki nilai budaya yang bersifat sebagai hiburan dan pendidikan.

5.Makyong

Seni teater Makyong merupakan perpaduan antara seni tari dan seni teater yang berasal dari daerah Melayu tradisional, tepatnya di Kepulauan Riau yang berkembang pesat pada zaman Kerajaan Johor. Seni ini menggabungkan instrumen, vokal, dialog, tari, dan unsur ritual di dalamnya. Selain sebagai upacara persembahan, makyong juga digunakan sebagai adat istiadat di daerah Riau.

6.Randai

Mirip dengan makyong, randai merupakan perpaduan berbagai macam seni yaitu drama, tari, lagu, dan silat. Kesenian ini berasal dari Minangkabau. Fungsi randai sebagai hiburan yang mengandung pelajaran moral berisi nasihat. Cerita yang ditampilkan berupa cerita tentang kehidupan sehari-hari atau cerita rakyat daerah Minangkabau. Pada awal kemunculannya, randai digunakan untuk mengiringi pembacaan gurindam.

7.Wayang Orang

Seni teater traditional lainnya yang kental dengan budaya Jawa Tengah adalah wayang orang atau dalam bahasa Jawa disebut juga wayang wong. Kesenian ini sama dengan wayang yang dimainkan oleh dalang pada umumnya. Hanya saja dilakoni oleh pemain yang mengenakan kostum seperti wayang sehingga bukan alat peraga. Wayang orang diciptakan oleh Sultan Hamangkurat I pada tahun 1731. Kesenian ini memadukan beberapa unsur seni yang lain seperti seni vokal, musik, dan tari. Selain itu, kostum juga penting untuk diperhatikan, terutama sewaktu ada pementasan

Contoh Teater Modern

Berbagai contoh seni teater modern diantaranya adalah.

  1. Drama Musikal
    Contoh seni teater modern yang pertama adalah dram musikal. Drama musikal merupakan jenis teater yang didalamnya lebih banyak diselingi oleh musik serta para pelakunya yang menyanyi.
  1. Opera
    Opera sebagai contoh dari cabang seni teater modern merupakan sebuah sandiwara atau dram yang dramatis mulai dari tata panggung dan pementasan musik.
  1. Kabaret
    Kabaret juga termasuk sebagai contoh seni teater modern yang berkembang mengikutin jaman. Kabaret merupakan pertunjukan dari dunia seni yang berasal dari daerah barat (luar negeri) yang lengkap dengan hiburan musik, sandiwara, nyanyian, serta tarian tarian.

Jenis-Jenis Teater

  • Teater Tradisional Teater tradisional biasa juga disebut dengan Teater Daerah adalah teater yang bersumber dari masyarakat sekitar yang telah menjadi milik masyarakat di sekitar daerah tersebut, pengolahannyapun berdasarkan cita rasa masyarakat daerah masing-masing. Ciri dari teater tradisional adalah menggunakan bahasa daerah tempat teater tersebut dipertunjukan, dilakukan secara improvisasi, di dalamnya terdapat unsur nyanyian dan tarian, diiringi musik daerah, banyak unsur guyonan atau dagelan, adanya keakraban antara pemain teater dan penonton, dan suasana yang disajikanpun santai.
  • Teater Nontradisional
    Teater ini disebut juga dengan Teater Modern, adalah jenis dari teater yang tumbuh dan berkembang di kalangan masyarakat perkotaaan besar dan materinyapun dipengaruhi oleh teori-teori barat di dalamnya, biasanya teater ini dipertunjukan atau dimainkan oleh kalangan-kalangan terpelajar. Bentuk-bentuk gaya dari teater modern ini sudah dirubah sedemikian rupa yang veritanya bisa diangkat dari daerah maupun budaya barat

Unsur Teater

Unsur-unsur teater dapat dibagi menjadi dua, yaitu:

  1. Unsur Internal
  • Lakon / Naskah Lakon adalah peristiwa yang disampaikan dengan tindak tanduk melalui benda perantara hidup (manusia) atau suatu (boneka, wayang) sebagai pemain.  Lakon atau cerita yang ditampilkan, bisa berwujud sebuah naskah atau skenario tertulis dan skenario tak tertulis.
  • Pemeran / Aktor Pemeran sering disebut sebagai aktor (pria) atau aktris (wanita) adalah orang yang memainkan peran tertentu dalam suatu aksi panggung. Pemeran adalah orang yang secara khusus melakukan sandiwara , atau berpura-pura memerankan suatu tokoh sehingga tampak seperti tokoh sungguhan.
  • Sutradara Adalah orang yang memberi pengarahan dan bertanggung jawab atas masalah artistik dan teknis dalam pementasan drama, pembuatan film, dan sebagainya. Sutradara bertanggung jawab atas aspek-aspek kreatif pembuatan, baik interpretatif maupun teknis. Ia menduduki posisi tertinggi dari segi artistik dan memimpin tentang bagaimana yang harus tampak oleh penonton. Sutradara mengatur prilaku di depan kamera dan mengarahkan akting serta dialog, sutradara juga mengontrol posisi beserta gerak kamera, suara, pencahayaan, dan hal-hal lain yang menyumbang kepada hasil akhir sebuah teater, drama, atau film.
  • Pentas / panggung Adalah podium yang agak tinggi Untuk pertunjukan,  tempat memainkan sandiwara, teater  dan sebagainya.
  • Kostum Kostum adalah pakaian para pemain drama yang dikenakan pada saat memerankan tokoh cerita di panggung. Kostum merupakan gaya pakaian yang dikenakan untuk menampilkan si pengguna sebagai suatu karakter. Kostum membuat seorang aktor bisa kelihatan membawan wataknya.
  1. Unsur Eksternal
    Unsur Eksternal Teater adalah segala yang berkenaan dengan di luar pemintasan. Unsur eksternal teater antara lain: staf produksi, Direktor/ sutradara, Produser/ pimpinan produksi, Stage manager,
    Desainer, dan Crew.
  • Staf Produksi. Staf produksi meliputi manager tingkat produser atau pimpinan produksi sampai segala bagian dibawahnya. Adapun tugas masing-masing Produser/ pimpinan produksi adalah mengurus produksi secara keseluruhan dan menetapkan personal (petugas), anggaran biaya, program kerja fasilitas dan sebagainya.
  • Direktor/ sutradara adalah pembawa naskah, koordinator pelaksanaan pementasan, menyiapkan aktor.
  • Stage manager adalah orang yang bertugas sebagai Pemimpin panggung dan membantu sutradara.
  • Desainer Adalah orang yang bertugas menyiapkan aspek-aspek visual seperti Setting (tempat, suasana), Property (perlengkapan pentas), lighting (tata lampu), Costume (tata busana), Sound (pengeras suara)
  • Crew Adalah orang yang bertugas mengurusi bagian pentas, bagian tata lampu, bagian perlengkapan, bagian tata suara musik.

Simbol-Simbol Teater

Pada dasarnya semua karya seni, termasuk karya teater diekspresikan menggunakan bahasa simbol. Pengertian simbol di dalam seni, termasuk seni teater dapat dipahami sebagai benda, bentuk,unsur seni yang mengandung nilai atau makna yang terkandung di dalamnya. Semua yang nampak, semua yang terucap dan semua yang terdengar adalah simbol yang dapat ditanggapi oleh penonton.

Simbol-simbol yang digunakan sebagai sarana komunikasi dalam teater meliputi:

1.Simbol visual adalah simbol yang nampak dalam penglihatan penonton, meliputi seluruh wujud bentuk dan warna termasuk tubuh para pemain. Simbol visual berupa benda-benda, bentuk-bentuk, warna- warna dari barang-barang perkakas pendukung pementasan serta perilaku para ekting para pemain. Contoh : Timbangan dapat di pahami sebagai alat timbang biasa, dan jika timbangan seimbang makna sombolnya adalah keadilan. Jika timbangan tidak seimbang maka makna simbolnya adalah ketidakadilan.

2.Simbol Verbal adalah simbol yang diungkapkan dengan kata-kata, baik oleh para pemain, narator, maupun dalang. Simbol verbal berupa kata-kata yang diucapkan dalam dialog dan monolog para pemain. Kata-kata itu berasal dari teks naskah yang diciptakan pengarang.

Contoh : Sejauh mata memandang sawah-sawah luas terbentang namun tak sebidang tanahpun yang menjadi milikiku. Padi-padi yang sudah ditanam juga aku yang menanam, namun tak segenggampun yang aku miliki. Bebek tiga puluh ekor semuanya juga bertelur, namun tak sebutirpun yang menjadi miliki merupakan simbol penderitaan yang terjadi pada pementasan tersebut.

  1. Simbol Auditif adalah simbol yang ditimbulkan dari bunyi-bunyi yang didengar oleh penonton. Bunyi-bunyi itu dapat dibuat oleh para pemain untuk menghasilkan kesan tertentu, atau bunyi yang dihasilkan dan dibuat sengaja sebagai tataan musik ilustrasi, karena musik pada dasarnya adalah simbol. Contoh : Nyanyian woro-woro jos, merupakan simbol kemenangan.

Nilai Estetis Teater

Teater sebagai suatu seni pertunjukan tentu mempunyai nilai-nilai estetika. Nilai-nilai estetika ini terletak di setiap bagian baik sebelum pementasan, pada saat pementasan, maupun setelah pementasan ketika pertunjukan tersebut telah diabadikan dalam suatu media dokumentasi.

Nilai-nilai estetis dalam teater itu antara lain:

  • Nilai Emosional. Banyak penonton teater yang hanyut dalam suasana yang dibangun oleh struktur emosi. Suasana itu dapat sedih, gembira, tragis, menyayat hati, tegang, mencekam, dan sebagainya.
  • Nilai Intelektual. Penonton teater seringkali merasa mengalami pencerahan setelah menonton pertunjukan teater. Pertunjukan tersebut banyak memberikan nilai-nilai informasi tentang kehidupan sosial, spiritual, moral, dan sebagainya.
  • Nilai Visual. Penonton teater kerap merasa takjub melihat peristiwa pentas dengan segala perkakasnya yang speaktakuler hasil tangan-tangan kreatif para pekerja teater.
  • Nilai Verbal. Banyak penonton yang kagum pada ungkapan kata-kata dari para pemain dengan teknik dinamika yang luar biasa, artikulasi yang jelas, serta irama yang dinamis

Naskah Teater

Suatu naskah ialah semua barang tulisan tangan yang ada pada koleksi perpustakan atau arsip; misalnya, surat-surat atau buku harian milik seseorang yang ada pada koleksi perpustakaan.

Baca Juga : Contoh Pameran Seni Rupa Beserta Penjelasannya

Jenis-jenis Naskah

·         Naskah Spontan

Ini ialah naskah yang dikirimkan penulis kepada penerbit untuk kemudian penerbit mempertimbangkan terbit/tidaknya. Misalnya, kamu punya naska novel sastra yang kamu tulis sendiri, kemudian kamu mengirimkannya ke penerbit, inialah naskah spontan.

·         Naskah Pesanan

Yah, namanya juga pesanan jadi sederhananya ini ialah naskah yang “dipesan” oleh peneribit, suatu ketika, buku tentang Tes CPNS tengah laris dipasaran, maka penerbit bisa saja memesan naskah buku Tes CPNS kepada penulis.

·         Naskah Yang Dicari Editor

Dalam hal ini, editor yang bergerilya mencari naskah untuk diterbitkan, naskah ketiga ini mulai marak di Indonesia beberapa tahun terakhir, para penerbit mengutus editornya untuk mencari naskah di luar. Mungkin ada penulis yang cerpernnya sering dimuat di koran dan sebuah penerbit tertarik untuk menerbitkannya dalam sebuah kumcer.

·         Naskah Terjemah

Yakni naskah yang diterjemahkan dari bahasa asing untuk kemudian diterbitkan dalam bahasa Ibu, untuk naskah terjemahan, yang dicari penerbit ialah penerjemah untuk menerjemahkan suatu naskah asing ke dalam bahasa Indonesia.

·         Naskah Sayembara

Yakni naskah yang penceriannya dilakukan lewat sayembara atau lomba menulis, biasanya peneribit membikin lomba menulis dengan tema tertentu untuk kemudian ditertibkan karya-karya pemenangnya.

·         Naskah Kerja Sama

Ialah naskah yang ditertibkan atas kerja sama pihak peneribit dengan suatu lembaga/badan/instansi tertentu, dalam hal ini sebuah instansi yang menyodorkan naskah kepada penerbit untuk kemudian diterbitkan.

Perencanaan Teater

Perencanaan adalah suatu langkah kegiatan awal dalam menetapkan kegiatan melalui tahapan kerja untuk mencapai tujuan yang telah digariskan, termasuk kegiatan pengambilan keputusan dan pilihan alternatif-alternatif keputusan

Tujuan dari perencanaan pagelaran teater adalah untuk menghindari tingkat kesalahan atau hambatan yang akan terjadi serta sekaligus mendorong peningkatan pencapaian tujuan dari sebuah rencana pergelaran dalam hal ini pergelaran Teater.

Perencanaan non artistik di dalam pergelaran Teater, meliputi pengelolaan dibidang: personal pergelaran, administrasi, keuangan, publikasi, dokumentasi, pemasaran, kemiteraan dan laporan pergelaran

Proses Latihan Teater

Dalam melakukan suatu kegiatan fisik haruslah terlebih dahulu melakukan latihan untuk melakukan aktifitas tersebut dengan benar dan terhindar dari cidera. Hal tersebut juga harus diterapkan sebelum melakukan pertunjukan atau sebelum masuk ke dalam naskah yang akan dibawakan dalam suatu pertunjukan Teater. Ada beberapa teknik latihan dalam teater yang harus dipahami dan dilakukan. Berikut adalah teknik latihan yang wajib diterapkan dalam latihan teater :

1.Olah Vokal

Setelah Anda benar dalam melakukan olah nafas, barulah anda dapat melatih vokal anda. Latihan vokal dilakukan dengan mendorong udara dari diafragma keluar melalui mulut tanpa tertahan pada tenggorokan.

2.Olah Sukma

Tahap latihan ini berkesan sangat simpel dan sederhana. Namun inti dari latihan ini saat luas. Olah sukma/rasa dilakukan dengan cara meditasi selama minimal 10 menit. Usahakan pikiran Anda tidak kosong, berusahalah tetap fokus. Dengarkan suara-suara di sekitar Anda, dari yang paling dekat hingga yang paling jauh. Buang semua hal-hal negatif pada diri Anda, masukkan hal-hal positif ke dalam diri Anda. Aturlah nafas senyaman mungkin. Usahakan jangan ada gerakan sekecil apapun.

3.Olah Pikir

Olah pikir dapat dilakukan dengan cara berkumpul bersama pemain yang lain, berbincang santai hingga menyamakan persepsi. Hal ini dilakukan bertujuan untuk menyelaraskan pemikiran seluruh pemain dan tim produksi agar pertunjukan berjalan sesuai dengan keinginan bersama. Dengan menyamakan persepsi Anda dapat membaca situasi ketika terjadi kesalahan dalam suatu pertunjukan dan dapat membaca sifat dari lawan main Anda. Olah pikir ditujukan agar Anda dapat berkomunikasi dengan lawan main Anda tanpa melakukan dialog atau kontak fisik.

4.Olah Tubuh

Tahap olah tubuh dibagi menjadi 2, yaitu:

1.Mimik, adalah gerak wajah untuk menunjukkan keadaan/sifat dari karakter yang sedang dimainkan, dan agar pesan yang disampaikan dapat diterima penonton dengan mudah. Latihan mimik dilakukan dengan beberapa cara, salah satunya dengan senam wajah. Caranya dengan menarik seluruh bagian wajah ke atas, lalu ke kanan, kemudian ke bawah, ke kiri, ke depan, dan terakhir ke dalam. Hal ini bertujuan agar mimik wajah Anda menjadi lentur dan dapat dengan mudah menyampaikan pesan dari mimik wajah karakter yang Anda mainkan.

2.Gestur, adalah gerak tubuh untuk menunjukkan keadaan/sifat dari karakter yang sedang dimainkan, dan agar pesan yang disampaikan dapat diterima penonton dengan mudah. Latihan gestur dimulai sejak melakukan pemanasan, kemudian ditambah dengan beberapa gerakan aktifitas yang dilakukan sehari-hari. Latihan ini dapat dimodifikasisesuai dengan keinginan masing-masing pemain.

Menyusun, Membentuk dan Menampilkan Teater

Menentukan Gagasan Cerita

Langkah pertama yang dilakukan dalam menentukan gagasan adalah menentukan tema. Tema adalah dasar cerita teater yang akan dibuat. Dalam menentukan tema teater modern disarankan menggunakan tema yang berhubungan dengan keadaan situasi dan kondisi lingkungan sehari-hari yang terjadi pada saat ini (hal yang dianggap sedang hangat terjadi) atau jika pertunjukannya di sekolah bisa mengangkat tema seputar keadaan sekolah.

Menyusun Naskah Drama

Menyusun naskah drama dalah membuat uraian berupa teks, percakapan (dialog), tokoh pemain, setting waktu dan tempat. Beberapa langkah berikut ini dapat dijadikan acuan untuk menulis naskah lakon.

1). Menentukan Tema

Tema adalah gagasan dasar cerita atau pesan yang akan disampaikan oleh pengarang kepada penonton. Tema akan menuntun laku cerita dari awal sampai akhir. Misalnya, tema yang dipilih adalah “kebaikan akan mengalahkan kejahatan“maka dalam cerita, hal tersebut harus dimunculkan melalui aksi tokoh-tokohnya sehingga penonton dapat menangkap maksud dari cerita bahwa sehebat apapun kejahatan pasti akan dikalahkan oleh kebaikan.

2). Menentukan Persoalan

Persoalan atau konflik adalah inti dari certia teater. Tidak ada cerita teater tanpa konflik. Oleh karena itu, pangkal persoalan atau titik awal konflik perlu dibuat dan disesuaikan dengan tema yang dikehendaki. Misalnya dengan tema “Kebaikan akan mengalahkan kejahatan“, pangkal persoalan yang dibicarakan adalah sikap licik seseorang yang selalu memfitnah orang lain demi kepentingannya sendiri. Persoalan ini kemudian dikembangkan dalam cerita yang hendak dituliskan.

3). Membuat Sinopsis (Ringkasan Cerita)

Gambaran cerita secara global dari awal sampai akhir hendaknya dituliskan. Sinopsis digunakan sebagai pemandu proses penulisan naskah sehingga alur dan persoalan tidak melebar.

4). Menentukan Kerangka Cerita

Kerangka cerita akan membingkai jalannya cerita dari awal sampai akhir. Kerangka ini membagi jalannya cerita mulai dari pemaparan, konflik, klimaks sampai penyelesaian. Dengan membuat kerangka cerita maka penulis akan memiliki batasan yang jelas sehingga cerita tidak bertele-tele. William Froug misalnya, membuat kerangka cerita (skenario) dengan empat bagian, yaitu pembukaan, bagian awal, tengah, dan akhir. Pada bagian pembukaan memaparkan sketsa singkat tokoh-tokoh cerita.

Bagian awal adalah bagian pengenalan secara lebih rinci masing-masing tokoh dan titik konflik awal muncul. Bagian tengah adalah konflik yang meruncing hingga klimaks. Pada bagian akhir, titik balik cerita dimulai dan konflik yang diselesaikan. Riantimo, sutradara sekaligus penulis naskah Teater Koma, menentukan kerangka lakon dalam tiga bagian, yaitu pembuka yang berisi pengantar cerita atau sebab awal, isi yang berisi pemaparan, konflik hingga klimaks, dan penutup yang merupakan simpulan cerita atau akibat.

5). Menentukan Protagonis

Tokoh Protagonis adalah tokoh yang membawa laku keseluruhan cerita. Dengan menentukan tokoh protagonis secara mendetail, tokoh lainnya mudah ditemukan. Misalnya, dalam persoalan tentang kelicikan, tokoh protagonis dapat diwujudkan sebagai orang yang rajin, semangat dalam bekerja, senang membantu orang lain, berkecukupan, dermawan, serta jujur. Semakin detail sifat atau karakter protagonis, semakin jelas pula karakter tokoh antagonis. Dengan menulis lawan dari sifat protagonis, karakter antagonis dengan sendirinya terbentuk.

6). Menentukan Cara Penyelesaian

Mengakhiri sebuah persoalan yang dimunculkan tidaklah mudah. Dalam beberapa lakon, ada cerita yang diakhiri dengan baik. Namun, ada juga yang diakhiri secara tergesa-gesa, bahkan ada yang bingung mengakhirinya. Akhir cerita yang mengesankan selalu akan dinanti oleh penonton. Oleh karena itu, tentukan akhir cerita dengan baik, logis, dan tidak tergesa-gesa.

7). Menulis

Setelah semua hal disiapkan, proses berikutnya adalah menulis. Mencari dan mengembangkan gagasan memang tidak mudah, tetapi lebih tidak mudah lagi memindahkan gagasan dalam bentuk tulisan. Oleh karena itu, gunakan dan manfaatkan waktu sebaik mungkin untuk menuliskannya.

Memainkan Cerita

Setelah naskah disusun, tahap selanjutnya adalah memainkan cerita. Berikut ini adalah beberapa trik untuk mengatur permainan agar lebih rapi dan mudah dilakukan.

1). Tinjau kembali plot cerita. Tuliskan garis besar secara sederhana di tempat strategis sehingga dapat dibaca oleh semua anggota kelompok, misalnya di papan tulis.

2). Aturlah tempat pentas dengan baik. Tempat pentas perlu dirancang dengan sungguh sungguh. Untuk itu, perlu dibuat peta sederhana.

3). Sebelum para pemain memainkan peran dalam suatu adegan, berilah kesempatan bagi mereka untuk berkonsentrasi. Mereka dapat duduk di kursi atau pinggiran pentas. Sementara itu, apabila anggota yang lain masih cemas dan belum percaya diri, biarkanlah mereka menjadi penonton. Anggota lain yang dapat membantu dengan menjadi asisten tata suara atau efek lampu.
4). Jagalah permainan agar tampak wajar dan tidak tergesa-gesa. Nikmatilah permainan peran tersebut. Pemain mungkin harus memerankan tokoh yang harus beristirahat, duduk merenung, atau diam tidak bergerak karena terpesona. Untuk itu, harus ada waktu yang berjalan pelan. Selain itu, seorang pemain diharuskan berdialog mesra dengan lawan mainnya. Agar adegan ini tampak alamiah, rasakan kemesraan tersebut. Jangan sekadar menghafalkan dialog.
5). Rancanglah peran dan karakter tokoh dengan berbagai cara sehingga para pemain mudah mengingatnya. Kostum sederhana dengan tanda-tanda khusus juga dapat membantu.

Mengevaluasi Permainan

Setelah permainan berakhir, adakan evaluasi dramatisasi. Pada awalnya, tekankan pada unsur positif dari permainan. Amatilah hal hal yang seharusnya dipertahankan dalam permainan berikutnya. Pertanyaan-pertanyaan berikut dapat digunakan untuk melakukan evaluasi.

1). Adakah bagian cerita yang tidak dapat dipahami?

2). Pada bagian manakah cerita dapat sangat dipahami?

3). Pada bagian manakah akting terlihat jelas dan baik?

4). Adakah bagian dari dramatisasi yang sangat menarik, menakjubkan, atau menyedihkan dan menguras emosi?

5). Pada bagian manakah tokoh sangat meyakinkan?

Memainkan Ulang

Setelah evaluasi permainan selesai, galilah ide-ide yang dapat mendorong dan mengembangkan permainan. Perubahan dan ide baru dapat dimasukkan dalam permainan ulang. Selanjutnya, seluruh anggota mulai bersama-sama memikirkan langkah-langkah, seperti efek suara, lampu, musik, dan kostum. Perubahan dan tambahan ini akan menumbuhkan proses kreatif kelompok.

Melakukan Evaluasi Akhir dan Menyiapkan Pementasan

Pada tahap akhir, ketika pementasan yang sesungguhnya hampir dilaksanakan, sebuah evaluasi dapat dilakukan secara menyeluruh. Para pemain bersama-sama mengevaluasi kelemahan permainan. Pada tahap ini, hubungan baik dan kekompakan antara pemain, tim produksi, dan tim artistik seharusnya sudah terbina sehingga mereka dapat saling terbuka dan membuka diri terhadap masukan orang lain.