5/5 (1) Masa Transisi 1966-1967

Masa Transisi 1966-1967 – Berbicara mengenai masa transisi, maka akan berbicara soal lahirnya orde baru. Pemerintahan orde baru sendiri tidak bisa terlepas dari segala hal yang menyangkut situasi politik dan sosial di kala itu. Berakhirnya penumpasan terhadap G30 S PKI ternyata masih belum bisa mengamankan situasi politik saat itu. Kondisi ini malah membuat situasi politik menjadi tidak stabil. Otomatis pada saat itu, kepercayaan masyarakat Indonesia kepada presideo Soekarno yang menjabat pada masa itu pun menurun. Puncaknya ialah saat mahasiswa yang berada di Jakarta masa itu membentuk organisasi federasi bernama KAMI yang beranggotakan PMKRI, HMI, PMII, dan juuga GMNI. Adapun bentuk kepemimpinan KAMI ini adalah presidium dan ketua umumny adalah Zamroni. Secara sederhananya, mahasiswa dan pemuda lah yang memiliki peran cukup penting pada masa transisi pemerintahan di masa itu.

Ada beberapa hal yang perlu diketahui terkait transisi pada masa itu:

  1. Aksi Tritura

Adapun duduknya Jenderah Soeharto pada kursi kepresidenan lagi-lagi tidak bisa lepas dari peristiwa G 30 S PKI yang terjadi pada bulan September tanggal 30 tahun 1965.  Pristiwa ini pula lah yang menjadi tonggak akhir masa pemerintahan Soekarno dan otomatis kekuatan politik yang dimiliki oleh PKI hilang. Yang pastinya dari pristiwa ini adalah kemarahan rakyat. Kemanan dan kestabilan politik di saat itu pun sangat kacau, ekonomi semakin memburuk yang ditandai dengan besarnya inflasi yang mencapai angka 600%. Dalam upaya melakukan devaluasi, pemerintah malah menimbulkan keresahan masyarakat pada saat itu.

Perasaan tidak pusa yang ada pada saat itulah yang kemudian mendorong para kaum pemuda dan juga mahasiswa untuk mencetuskan Tri Tuntutan Hati Nurani Rakyat atau yang disingkat dengan Tritura. Hingga akhirnya pada tanggal 12 Januari tahun 1966 dan saat itu dipelopori oleh KAPPI dan KAMI, terjdilah kesatuan aksi yang saat itu tergabung di dalam Front Pancasila. Mereka kemudian mendatangi DPR-GR dan alhasil mengajukan 3 buah tuntutan. Adapun 3 tuntutan tersebut adalah:

  1. Pembubaran PKI
  2. Pembersihan kabinet dari segala macam unsur G30S PKI
  3. Perbaikan ekonomi dan penurunan harga

Saat itu, tuntutan yang diberikan ternyata belum bisa dipenuhi oleh presiden Soekarno dan akhirnya diambillah jalan keluar berupa perubahan kabinet. Adapun kabinet Dwikora  diubah menjadi kabinet seratus menteri.

  1. Supersemar

Surat pemerintahan Sebelas Maret atau yang lebih dikenal dengan sebutan Supersemar juga salah satu hal yang dilakukan guna menenangkan situasi yang sedang krisis saat itu. Tepatnya pada tanggal 11 Maret tahun 1966, presiden Soekarno mengadakan sidang kabinet. Sidang ini tidak lepas dari boikot dari demonstaran yang bersikeras menuntut agar presiden segera membubarkan PKI. Pritiwa ini kemudian diwarnai dengan dilakukannya pengempesan terhadap sejumlah ban mobil di sekitar jalan untuk menuju istana.

Adapun 3 Jenderal yang membawa Supersemar adalah M. Yusuf, Amir Machmut, Basuki Rachmat. Isi Supersemar itu adalah memberikan mandat kepada Soeharto untuk menjadi pemulih keadaan krisis pemerintahan pada saat itu.

  1. Dualisme Kepemimpinan Nasional

Pada tahun 1966, mulai terlihat adanya krisis terhadap kepemimpinan nasional yang akhirnya terjadilah dualisme kepemimpinan. Di satu sisi, Soekarno masih menjabat sebagai Presiden namun sudah tidak lagi dipercaya oleh rakyat. Disisi lain, Soeharto sudah mendapat Supersemar dan namanya kian populer di kalangan masyarakat untuk memulihkan kondisi yang ada.

 

Berikan Bintang Untuk Penulis

%d blogger menyukai ini: