5/5 (1) Konsep Serta Fungsi Agama, Religi, dan Kepercayaan

Konsep Serta Fungsi Agama, Religi, dan Kepercayaan – Bertemu lagi bareng kita, budisyaqier.com yang senantiasa membahas mengenai segala ilmu pengetahuan yang pastinya perlu kalian ketahui. Dan kali ini budisyaqier.com berkesempatan untuk membahas Konsep Serta Fungsi Agama, Religi, dan Kepercayaan. Mari langsung saja simak baik-baik ulasan di bawah.

Konsep Agama,Religi dan Kepercayaan

Agama adalah salah satu unsur dari kultural universal yang sama usianya dengan sejarah kehidupan manusia. Tidak dapat dipastikan sejak kapan manusia mulai mengenal serta memeluk agama sebab bentuk kepercayaan serta ritual agama telah mengalami evolusi serta berkembang semakin kompleks. Selain itu, sulit untuk menentukan konsepsi agama pada masyarakat primitif yang masih sederhana aktivitas religinya. Dalam masyarakat kekinian ada berbagai bangunan wihara, gereja atau masjid yang digunakan sebagai tempat peribadatan. Selain itu, dikenal juga peran imam, ustad, pastor, serta biksu yang merupakan pemimpin keagamaan. Aturan-aturan keagamaan dibukukan dalam Al-Qur’an, Injil, Tripitaka, serta kitab suci agama lainnya yang dijadikan sebagai pedoman hidup bagi para pemeluknya.
Di dalam buku Kamus Antropologi, Koentjaraningrat mendeskripsikan religi sebagai sistem yang terdiri dari konsep-konsep yang dipercaya serta menjadi keyakinan secara mutlak suatu umat beragama serta upacara-upacara beserta pemuka-pemuka agama yang melaksanakannya. Sistem religi mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan serta dunia gaib, antara sesama manusia dan antara manusia dengan lingkungannya yang dijiwai oleh suasana yang dirasakan sebagai suasana kekerabatan oleh yang menganutnya.
Menurut E.B. Tylor, agama merupakan ungkapan dari ketakjuban manusia akan kekuasaan serta kekuatan yang berada di luar dirinya. Menurut Tylor agama merupakan sebuah hubungan antara unsur natural serta supranatural (kekuatan gaib) sebab manusia merasakan adanya suatu kekuatan yang amat dahsyat yang mengendalikan kehidupannya serta kekuatan itu perlu disembah agar tidak murka. Selanjutnya, lahirlah agama-agama yang menganggap benda-benda alam sebagai objek penyembahan, seperti gunung, laut, matahari, bulan, api, serta angin.
Menurut Emile Durkheim terdapat dua unsur yang melandasi hadirnya agama di tengah-tengah kehidupan masyarakat, yaitu antara keyakinan akan sesuatu yang suci (sacred) serta yang duniawi (profan). Manusia selalu menghadapi dua unsur tersebut dalam hidupnya sehingga agama dibutuhkan untuk membimbing manusia ke arah kesucian. Dengan demikian, agama berfungsi sebagai garis
penegas antara nilai-nilai yang baik serta buruk. Agama berisi seperangkat nilai-nilai kebaikan yang harus dilakukan manusia serta larangan menjalankan keburukan yang harus dijauhi manusia. Di dalam teori religi terdapat beberapa teori yang berusaha menjelaskan proses munculnya konsepsi agama dalam kehidupan manusia.
Selanjutnya, konsep agama lebih didasarkan atas munculnya wahyu dari Tuhan. Wahyu merupakan suatu ilham yang berbentuk pesan, petunjuk, atau perintah dari Tuhan dengan gaib kepada manusia dengan sengaja atau tidak sehingga menimbulkan suatu perbuatan atau kegiatan yang bersifat religius atau sosial sesuai dengan keadaan masyarakat yang bersangkutan. Di Indonesia, negara melegalkan atau mensahkan agama yang dianggap merupakan wahyu dari Tuhan. Di Indonesia terdapat enam jenis agama yang diakui oleh negara, yakni Islam, Kristen, Katolik, Hindu,Konghucu, serta Buddha. Di samping itu, berbagai aliran kepercayaan masih dipraktikkan di berbagai komunitas di Indonesia. Agama adalah sebuah kepercayaan yang melandasi alam pikiran manusia tentang adanya suatu kekuatan yang menciptakan dunia serta seluruh isinya yang harus disembah. Proses penciptaan itu bersumber dari kekuatan Tuhan, meskipun setiap agama mempraktikkan ritual serta mempunyai ajaran yang berbeda-beda bentuknya untuk menyembah Tuhan. Kepercayaan akan adanya konsep hari akhir, surga, serta neraka menyebabkan agama dianggap sebagai sistem yang perlu diyakini oleh manusia.
Menurut Koentjaraningrat, terdapat lima komponen keagamaan, yaitu sistem keyakinan, umat agama, emosi keagamaan, sistem ritus, serta upacara keagamaan dan peralatan ritus serta upacara yang memengaruhi suatu sistem keagamaan. Misalnya, suatu agama pasti akan memiliki suatu umat yang masing-masing individunya memiliki emosi keagamaan yang mempercayai akan keberadaan Tuhan. Selanjutnya, mereka akan mengadakan upacara atau ritual keagamaan dengan kontinu serta berpola dengan memakai alat- alat upacara tertentu.

Baca Juga : Konsep Bahasa dan Fungsi Bahasa

Fungsi Agama

Agama memiliki fungsi sebagai pedoman atau pegangan hidup manusia karena setiap agama mengajarkan kebenaran dan menuntun manusia untuk melakukan kebaikan. Selain itu, agama adalah sumber norma-norma dan aturan bagi masyarakat. Menurut Preusz, di dalam masyarakat unsur penting dari tiap sistem religi dan kepercayaan di dunia adalah ritus atau upacara dan kekuatan-kekuatan supranatural yang berperan dalam tindakan-tindakan gaib tersebut. Manusia yang mengalami kekuatan tersebut dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan- nya serta dapat memenuhi tujuan hidupnya, baik yang bersifat materiil maupun spirituil. Dengan demikian, ketika seseorang melakukan upacara atau ritual keagamaan mereka sedang berkomunikasi dengan kekuatan yang dianggap dahsyat, yaitu Tuhan untuk meminta petunjuk atau berterima kasih.

Menurut van Gennep, di dalam kehidupannya manusia mengalami berbagai krisis, seperti sakit, kematian, tertimpa bencana alam, dan kehilangan harta benda yang membuat manusia merasa tidak berdaya menghadapi masa-masa sulit tersebut. Pada saat-saat seperti itu, manusia merasa perlu melakukan sesuatu untuk memperteguh keyakinannya yang dilakukan dengan upacara-upacara religi. Upacara religi tersebut merupakan cikal bakal religi yang tertua.

Berdasarkan teori spiritualisme yang berguna untuk menganalisis kepercayaan dalam masyarakat primitif yang masih ada di berbagai tempat di Indonesia, Koentjaraningrat menjelaskan bahwa fungsi kepercayaan adalah untuk menghormati mahkluk halus atau roh nenek moyang. Menurut teori tersebut manusia memiliki keyakinan adanya berbagai makhluk halus yang menempati alam di sekeliling tempat tinggalnya yang merupakan jelmaan dari orang yang sudah meninggal. Mahkluk halus tersebut oleh masyarakat primitif dianggap memiliki pengaruh penting dalam kehidupan manusia karena mereka mempunyai jiwa dan kemauan sendiri, dapat bergembira jika diperhatikan manusia, dan dapat marah apabila diabaikan oleh manusia.

Oleh karena itu, kepercayaan dan penyembahan terhadap roh nenek moyang atau mahkluk halus dilaksanakan agar roh tersebut tidak murka kepada manusia. Misalnya, kepercayaan terhadap kekuatan gunung berapi. Masyarakat di sekitar Gunung Merapi selalu mengadakan sesembahan atau sesajian untuk menghormati kekuatan magis gunung tersebut. Meletusnya Gunung Merapi seringkali dikaitkan dengan kemurkaan roh penunggu gunung tersebut. Meskipun tidak masuk akal, namun di balik mitos kekuatan magis Gunung Merapi tersebut terdapat fungsi keseimbangan ekologis manusia dalam menjaga gunung yang di- bungkus oleh norma kepercayaan agar ling- kungan alam di gunung tetap lestari.

Bangsa Indonesia tidak membenarkan adanya paham yang meniadakan Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian, setiap warga negara Indonesia harus percaya dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa berarti menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Indonesia bukanlah negara agama. Artinya, bukan negara yang mendasarkan diri pada agama tertentu. Mengapa demikian? Sebab negara menjamin kebebasan tiap-tiap penduduk untuk memeluk dan menganut kepercayaannya masing-masing. Ada tiga macam bentuk hubungan antara negara dan agama, antara lain sebagai berikut.

  1. Negara agama, artinya semua peraturan negara didasarkan pada salah satu hukum agama seperti Arab
  2. Negara melindungi agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, artinya negara melindungi berkembangnya agama kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang telah ditetapkan oleh pemerintah seperti Indonesia
  3. Negara memusuhi agama, artinya negara memberikan kebebasan warganya untuk tidak memeluk agama atau kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa seperti

Baca Juga : Konsep dan Fungsi Bahasa Seni dan Agama

Pemerintah Indonesia menghendaki agar semua warga negara beragama. Indonesia menentang paham ateisme, yaitu suatu paham yang tidak mengakui adanya Tuhan Yang Maha Esa. Kebebasan memeluk agama merupakan hak yang paling asasi di antara hak asasi manusia sebab kebebasan beragama langsung bersumber kepada martabat manusia sebagai makhluk Tuhan. Di samping jaminan kemerdekaan memeluk agama, setiap penduduk juga mendapat jaminan kemerdekaan untuk beribadah menurut agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

 

Berikan Bintang Untuk Penulis

%d blogger menyukai ini: