5/5 (1) Konsep Keberagaman Dalam Kebudayaan

Konsep Keberagaman Dalam Budaya – Bertemu lagi bareng kita, budisyaqier.com yang senantiasa membahas mengenai segala ilmu pengetahuan yang pastinya perlu kalian ketahui. Dan kali ini budisyaqier.com berkesempatan untuk membahas Konsep Keberagaman Dalam Kebudayaan. Mari langsung saja simak baik-baik ulasan di bawah.

Dalam artikel sebelumnya sudah diulas mengenai pengertian budaya lokal dan contohnya , pengertian budaya asing dan contohnya , serta hubungan antara budaya lokal dan budaya asing. Berdasarkan pembahasan mengenai beberapa budaya yang berada di Indonesia, masyarakat Indonesia memiliki beragam budaya serta perilaku yang berbeda-beda. Indonesia terkenal dengan masyarakatnya yang bersifat majemuk yang disebabkan oleh perbedaan adat istiadat, ras, etnik, bahasa, serta agama. Beberapa potensi budaya yang berada di Indonesia ini membutuhkan sebuah pemahaman akan pentingnya sikap toleransi dalam perbedaan yang tercermin dalam asas tunggal bangsa Indonesia yang berbunyi Bhinneka Tunggal Ika.
Kemajemukan masyarakat Indonesia tercermin dari adanya keanekaragaman suku bangsa yang hidup serta menyebar di seluruh pelosok tanah air. Kondisi geografis berbagai kepulauan di Indonesia yang terbagi menjadi kurang lebih 17.000 pulau yang tersebar dari timur ke barat sepanjang 3.000 mil serta dari utara ke selatan sepanjang 1.000 mil merupakan salah satu penyebab kemajemukan masyarakat Indonesia. Keanekaragaman itu adalah kekayaan bangsa Indonesia yang perlu dijaga serta dilestarikan hingga mampu memberikan ketenteraman serta kedamaian untuk rakyat Indonesia sehingga tidak memunculkan masalah yang mengancam timbulnya disintegrasi bangsa.

Konsep Keberagaman Budaya

Sebelum mengulas mengenai konsep keberagaman budaya terlebih dulu harus dipahami mengenai konsep-konsep yang terkait dengan kebudayaan supaya lebih gampang dalam memahami konsep tentang keberagaman budaya. Di antropologi, terdapat konsep belajar mengenai kebudayaan sebagai hasil karya manusia. Kebudayaan merupakan segala sesuatu yang dipelajari serta dialami bersama secara sosial oleh manusia. Seiring dengan perjalanan sejarah, kebudayaan berkembang sebagai akibat perkembangan ilmu dan pengetahuan serta teknologi.

Konsep Masyarakat Majemuk

Ciri masyarakat Indonesia ialah masyarakat majemuk yang mempunyai keanekaragaman budaya yang tinggi. Menurut Furnivall, masyarakat majemuk (plural society) adalah suatu masyarakat yang terdiri atas dua atau lebih elemen dan tatanan sosial yang hidup berdampingan, tetapi tidak terintegrasi dalam satu kesatuan politik.
Menurut Clifford Geertz, meskipun masyarakat Indonesia telah terbentuk semenjak tahun 1945 dengan sistem sosial masyarakat yang berbentuk multietnik, multiagama, multibahasa, serta multiras cenderung tidak banyak berubah serta sulit terintegrasi.
Berdasarkan struktur sosialnya, di masyarakat Indonesia terdapat banyak ketidaksamaan budaya serta adat istiadat antarsuku bangsa di Indonesia. Di berbagai wilayah bisa ditemukan keanekaragaman suku bangsa serta agama. Contohnya, suku bangsa Aceh yang sebagian besar beragama Islam, suku bangsa Batak yang sebagian besar beragama Kristen, suku bangsa Minangkabau di Sumatra Barat, serta suku bangsa Melayu di Sumatra Selatan yang sebagian besar beragama Islam. Selain itu, di Jawa ada suku Sunda yang menggunakan bahasa Sunda serta suku bangsa Jawa yang menggunakan bahasa Jawa.

Baca Juga : Hubungan Antara Budaya Lokal dan Budaya Asing

Ciri-Ciri Masyarakat Majemuk

Ciri-ciri masyarakat majemuk menurut Van de Berg ialah seperti berikut.

  1. Terintegrasinya masyarakat ke dalam kelompok-kelompok sosial yang memiliki ciri khas budaya yang berbeda satu sama lain.
  2. Adanya lembaga-lembaga sosial yang saling tergantung satu sama lain karena adanya tingkat perbedaan budaya yang
  3. Kurang mengembangkan konsensus di antara para anggota masyarakat tentang nilai-nilai sosial yang bersifat
  4. Kecenderungan terjadinya konflik lebih besar di antara kelompok satu dengan yang
  5. Integrasi sosial tumbuh di antara kelompok sosial yang satu dengan yang lain.
  6. Adanya kekuasaan politik oleh suatu kelompok atas kelompok yang lain.

Suku bangsa ialah golongan sosial yang dibedakan dari golongan sosial yang lain sebab memiliki beberapa ciri paling mendasar serta umum berkaitan dengan asal-usul dan tempat asal serta kebudayaan. Adapun beberapa ciri suku bangsa, diantaranya seperti berikut.

  1. Memiliki nilai-nilai dasar yang terwujud dan tercermin dalam kebudayaan.
  2. Mewujudkan arena komunikasi dan interaksi dalam kebudayaan.
  3. Mempunyai anggota yang mengenal dirinya serta dikenal oleh orang lain sebagai bagian dari satu kategori yang dibedakan dengan anggota kelompok sosial yang lain.

Saat seorang yang menjadi bagian dari suku bangsa tertentu membuat hubungan sosial maka akan tampak adanya simbol-simbol atau ciri-ciri spesial yang digunakan untuk mengekspresikan perilakunya sesuai dengan karakteristik suku bangsanya. Contohnya, beberapa ciri fisik atau ras, beberapa gerakan badan atau muka, simbol kebudayaan, nilai-nilai budaya dan kepercayaan keagamaan. Seorang yang dilahirkan sebagai anggota suatu suku bangsa sejak dilahirkan harus hidup dengan berpedoman pada kebudayaan suku bangsanya yang diwariskan oleh orang tua serta keluarganya dengan turun-temurun sesuai dengan konsepsi kebudayaan suku bangsa itu.

Primordialisme dan Politik Aliran

Secara tidak sadar masyarakat suatu suku bangsa akan mengembangkan ikatan-ikatan yang berbentuk primordial, yakni kesetiaan terlalu berlebih yang memprioritaskan atau menonjolkan kepentingan suatu kelompok agama, ras, wilayah, atau keluarga tertentu. Kesetiaan yang berlebihan pada budaya subnasional itu bisa mengancam integrasi bangsa sebab primordialisme mengurangi kesetiaan masyarakat negara pada budaya nasional serta negara sehingga mengancam kedaulatan negara.
Kencenderungan ini timbul apabila setiap kelompok kultural yang terorganisasi dengan politik akan mengembangkan politik aliran yang bisa mengancam persatuan bangsa. Selanjutnya, kelompok-kelompok masyarakat itu akan mengajukan tuntutan untuk memperjuangkan kepentingan kelompoknya seperti tuntutan pembagian sumber daya alam yang lebih seimbang antara pusat serta wilayah. Apabila tidak diakomodasi, tuntutan kelompok masyarakat itu akan berkembang jadi gerakan memisahkan diri suatu kelompok masyarakat dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Contohnya, gerakan separatisme Aceh Merdeka. Oleh karena itu, untuk mencegah gejala primordialisme, setiap kelompok masyarakat harus meningkatkan budaya toleransi terhadap budaya kelompok lainnya. Tujuannya ialah untuk mencegah terjadinya disintegrasi bangsa tanpa ada pengingkaran budaya sendiri.
Di dalam masyarakat majemuk, anggotanya terbagi-bagi atas kelompok sesuai identitas budaya masing-masing. Kelompok yang setia mengikuti kelompok atau partai politik tertentu sesuai identitas budaya mereka yang mengikat anggotanya secara tertutup. Menurut Robuskha serta Shepsle ada tiga keunikan dalam masyarakat majemuk, diantaranya

  1. keanekaragaman budaya berkembang dalam kelompok budaya tertutup;
  2. keanekaragaman budaya terorganisir secara politik;
  3. muncul masalah menonjolnya unsur etnik di dalam masyarakat.

Keanekaragaman budaya dalam masyarakat terbentuk atas dasar identitas budaya. Identitas budaya ialah kelompok pembeda berdasarkan nilai-nilai budaya antara satu kelompok dengan kelompok yang lain. Hal tersebut terjadi karena setiap identitas kultural mempunyai sentimen primordial tersendiri yang merubah ikatan politik, persilangan, serta hubungan sosial antara kelompok etnik di masyarakat.
Di masyarakat, kehidupan politik terorganisir menurut kelompok etnik serta nilai-nilai subbudaya tersendiri. Kelompok etnik membentuk organisasi politik yang sama-sama berkompetisi. Mereka mengikuti dasar kepentingan kelompok etnik atau politik aliran dari kelompok yang berkaitan. Contohnya, dalam Pemilu 2004 ada beberapa partai politik yang berlandaskan agama, suku, bangsa, serta aliran, seperti PKS, PBB, PDS, PDIP, dan PAN.

Kemajumakan Indonesia dan Masalah Persatuan Nasional

Unsur penting yang merubah keanekaragaman budaya masyarakat Indonesia ialah perbedaan anggota masyarakat berdasarkan ras serta etnisitas. Perbedaan ras serta etnisitas sangat penting dalam membentuk keanekaragaman sosial budaya masyarakat majemuk sehingga masyarakat majemuk sering disebut masyarakat multiras atau multietnik.
Menurut Robertson, ras merupakan pengelompokan manusia berdasarkan ciri-ciri warna kulit serta fisik tubuh tertentu yang diturunkan secara turun-temurun yang disebut hasil interaksi manusia dengan lingkungan hidup khusus mereka.
Kelompok etnik adalah sebagian besar orang yang memandang diri serta dipandang oleh kelompok lain, memiliki kesatuan budaya yang berbeda yang diakibatkan oleh sifat-sifat budaya masyarakat serta hubungan timbal balik secara terus-menerus. Suatu anggota kelompok etnik mempunyai fungsi dan identitas yang sama berdasarkan asal-usul, bahasa, agama, adat, serta perjalanan hidup. Suatu kelompok etnik membedakan dirinya dengan kelompok lain berdasarkan ciri-ciri budaya lokal yang mereka miliki.
Di Indonesia, ada beraneka ragam kelompok kesukuan dilihat berdasarkan perbedaan etnik serta ras. Contohnya, antara orang Jawa dengan orang Papua serta orang Maluku yang dibedakan berdasarkan ras serta etnik. Tetapi, ada anggota kelompok kesukuan yang dibedakan atas dasar etnik, seperti di antara orang Batak dengan orang Bali serta orang Jawa yang dibedakan atas dasar bahasa, budaya, serta agama yang mereka anut.
Pada umumnya, orang akan sekilas memandang mereka memiliki adat, pandangan hidup, serta adat istiadat yang berbeda satu sama lain. Pemahaman itu penting untuk memahami gejala terjadinya sikap etnosentrisme. Sikap etnosentrisme ialah sikap yang menggunakan pandangan dan cara hidup dari sudut pandang- nya sebagai tolok ukur untuk menilai kelompok lain.
Apabila tidak dikelola dengan baik, perbedaan budaya serta adat istiadat antarkelompok masyarakat itu akan memunculkan perselisihan sosial karena terdapatnya sikap etnosentrisme. Sikap itu muncul sebab adanya anggapan suatu kelompok masyarakat jika mereka mempunyai pandangan hidup serta sistem nilai yang berlainan dengan kelompok masyarakat yang lain.
Menurut David Levinson, sikap etnosentrisme ialah sikap yang menggunakan pandangan dan cara hidup dari sudut pandang suatu kelompok masyarakat sebagai tolok ukur untuk menilai kelompok lain. Sebenarnya sikap etnosentrisme ialah suatu gejala yang umum di seluruh dunia. Konsep etnosentrisme selalu muncul dalam masyarakat yang terdiri atas beberapa kelompok sosial sebab adanya kepercayaan jika kebudayaan sendiri dianggap lebih tinggi dibandingkan kelompok lain serta menilai kebudayaan kelompok lain dengan tolok ukur kebudayaan kelompok mereka sendiri.
Misalnya ialah perilaku carok dalam masyarakat Madura. Menurut Latief Wiyata, carok ialah tindakan atau upaya pembunuhan yang dilakukan oleh seorang lelaki jika harga dirinya merasa terusik. Secara sepintas, konsep carok dianggap sebagai perilaku yang sadis serta tidak logis. Hal itu terjadi jika konsep carok dipandang dengan pandangan kebudayaan kelompok masyarakat lain yang beranggapan jika menyelesaikan permasalahan dengan menggunakan kekerasan dipandang tidak masuk akal serta tidak manusiawi. Tetapi, bagi masyarakat Madura, harga diri adalah konsep yang sakral serta harus selalu dijunjung tinggi dalam masyarakat. Oleh karenanya, terjadi perbedaan penafsiran tentang permasalahan carok antara masyarakat Madura serta kelompok masyarakat yang lain sebab tidak terdapatnya pemahaman atas konteks sosial budaya terjadinya perilaku carok itu dalam orang Madura. Contoh etnosentrisme dalam menilai secara negatif konteks sosial budaya terjadinya perilaku carok dalam masyarakat Madura tersebut telah banyak ditentang oleh para ahli ilmu sosial.
Selain memiliki dampak yang bersifat negatif, sikap etno- sentrisme memiliki efek yang positif untuk meningkatkan rasa nasionalisme suatu bangsa.
Etnosentrisme adalah pengembangan karakter yang dapat meningkatkan nasionalisme serta patriotisme suatu bangsa. Tanpa karakter etnosentrisme maka kesadaran nasional untuk mempertahankan keutuhan suatu bangsa serta meningkatkan integrasi bangsa akan sangat sulit diraih. Selain itu, dengan menerapkan etnosentrisme mampu menghambat perubahan yang datang dari luar, baik yang akan menghancurkan kebudayaan sendiri atau yang dapat mendukung tujuan orang bangsa itu.

Baca Juga : Potensi Keberagaman Budaya Yang Ada di Masyarakat Indonesia

Sikap positif etnosentrisme ada jika suatu bangsa menghadapi ancaman bangsa lain yang berupaya menggangu kedaulatan serta simbol-simbol negaranya. Ancaman pada kedaulatan bangsa itu akan mendorong timbulnya rasa nasionalisme warga negara yang merasa harga dirinya sebagai suatu bangsa telah dilecehkan oleh bangsa lain. Selanjutnya, anggota masyarakat yang merasakan adanya ancaman dari bangsa lain akan berusaha mengekspresikan rasa nasionalismenya dengan cara berdemonstrasi melawan ancaman bangsa asing itu. Upaya masyarakat untuk mengeskpresikan rasa nasionalismenya itu masih dianggap wajar untuk dilakukan
Contoh berlangsungnya etnosentrisme dalam bentuk positif ialah saat berlangsungnya sengketa permasalahan kepulauan Ambalat di Provinsi Kalimantan Selatan yang diklaim sebagai daerah Malaysia. Setelah terjadinya insiden di sekitar Pulau Ambalat, muncul gelombang unjuk rasa yang dilakukan beberapa kelompok masyarakat yang menuntut ketegasan pihak pemerintah untuk mengakhiri masalah perselisihan perbatasan itu. Beberapa kelompok masyarakat itu melakukan demonstrasi sebab didorong oleh perasaan nasionalisme karena terdapatnya ancaman pada integritas serta kedaulatan daerah NKRI. Tetapi, permasalahan  itu tidak berkembang jadi konflik terbuka di antara pemerintah Indonesia serta Malaysia sebab ke-2 negara setuju untuk mengakhiri permasalahan politik itu lewat jalan diplomasi sebagai sesama negara ASEAN. Apabila tidak dikelola secara baik, sikap etnosentrisme bisa menggerakkan berlangsungnya sikap xenopobia. Xenopobia ialah perasaan kebencian pada orang asing yang berlebihan. Sikap xenophobia bisa memunculkan perilaku kekerasan pada orang asing yang tinggal di satu tempat.

Penerapan Sikap Relativisme Budaya

Pencegahan dampak negatif sikap etnosentrisme bisa dikerjakan dengan sikap relativisme kebudayaan. Dengan mempunyai sikap relativisme budaya, seorang individu akan memahami bahwa setiap manusia lahir serta berkembang dengan memiliki ras, bahasa, agama, serta lingkungan budaya yang berbeda-beda serta tidak dapat disamaratakan. Prinsip relativisme mengutamakan pada pandangan jika setiap kebudayaan mempunyai karakter yang tidak dapat dipandang berdasarkan tolok ukur kebudayaan yang lain. Penerapan prinsip relativisme budaya mampu memahami keragaman budaya kelompok masyarakat yang lain tanpa berupaya memberi penilaian baik atau jelek terhadap nilai budaya kelompok yang lain.
Dalam konteks Indonesia yang masyarakatnya yang mempunyai keanekaragaman budaya maka sikap relativisme budaya adalah langkah paling baik dengan cara bersikap arif serta bijak dalam mengerti ketidaksamaan kebudayaan antarkelompok masyarakat.
Oleh karena itu, sikap relativisme budaya harus dikembangkan dalam memandang keberagaman budaya yang ada di Indonesia. Relativisme budaya ialah konsep yang menggambarkan bahwa fungsi dan arti suatu unsur kebudayaan tergantung pada lingkungan di mana suatu kebudayaan berkembang. Konsep relativisme
kebudayaan memiliki pemahaman jika tidak semua adat istiadat di suatu kelompok masyarakat memiliki nilai yang sama. Contohnya, di beberapa suku bangsa pola perilaku tertentu mungkin merugikan tetapi di suku bangsa lain perilaku sosial itu mungkin memiliki arah yang berlainan.
Dalam konteks Indonesia yang mempunyai masyarakat majemuk, dimana pola kehidupan sangat beragam serta plural karena itu sikap relativisme budaya adalah salah satu cara terbaik dengan cara bersikap arif serta bijak dalam memahami perbedaan- perbedaan kebudayaan.

Berikan Bintang Untuk Penulis

%d blogger menyukai ini: