Kemajuan Dari Berbagai Bidang Pada Masa Dinasti Umayyah

KEMAJUAN DARI BERBAGAI BIDANG PADA MASA DINASTI UMAYYAH – Bertemu lagi bareng kita, budisyaqier.com yang senantiasa membahas mengenai segala ilmu pengetahuan yang pastinya perlu kalian ketahui. Dan kali ini budisyaqier.com berkesempatan untuk membahas KEMAJUAN DARI BERBAGAI BIDANG PADA MASA DINASTI UMAYYAH. Mari langsung saja simak baik-baik ulasan di bawah.

Bidang Pemerintahan

Pada masa Dinasti Umayyah, pusat pemerintahan dari Madinah dipindahkan ke Damaskus. Keputusan ini berdasarkan pada pertimbangan politis dan keamanan. Karena letaknya jauh dari Kufah, pusat kaum Syi’ah, dan juga jauh dari Hijaz, tempat tinggal Bani Hasyim. Lebih dari itu, Damaskus yang terletak di wilayah Syam (Suriah) adalah daerah yang berada di bawah genggaman Mu’awiyah selama 20 tahun sejak dia diangkat menjadi gubernur di distrik ini pada zaman Khalifah Umar bin al-Khattab.

Dalam menjalankan pemerintahannya, Khalifah Dinasti Umayyah dibantu oleh beberapa al-Kuttab (sekretaris) yang meliputi :

  1. Katib  ar-Rasail  yaitu  sekretaris  yang  bertugas  menyelenggarakan administrasi dan surat-menyurat dengan pembesar-pembesar setempat.
  2. Katib al-Jund yaitu sekretaris yang bertugas menyelenggarakan hal-hal yang berkaitan dengan ketentaraan.
  3. Katib asy-Syurthah yaitu sekretaris yang bertugas menyelenggarakan pemeliharaan keamanan dan ketertiban umum.
  4. Katib al-Qadhi yaitu sekretaris yang bertugas menyelenggarakan tertib hukum melalui badan-badan peradilan dan hakim setempat.

Dinasti Umayyah pada masa kepemimpinan Mu’awiyah, mendirikan suatu departemen pencatatan. Setiap peraturan yang dikeluarkah oleh khalifah harus disalin dalam suatu catatan, lalu yang asli harus disegel dan dikirimkan ke alamat yang dituju. Di samping  itu, pelayanan pos (Diwan al-Barid) diperkenalkan juga oleh Mu’awiyah. Kepala Pos memberitahu pemerintah pusat tentang apa yang sedang terjadi di dalam pemerintahan propinsi. Dengan cara ini, Mu’awiyah melaksanakan kekuasaan pemerintah pusat. Dia membentuk dua sekretaris kerajaan yang medianya bahasa Arab, dan sekretaris propinsi yang menggunakan bahasa Yunani dan Persia.

Kemudian, Mu’awiyah juga memisahkan antara urusan keuangan dan urusan pemerintahan. Dia mengangkat seorang gubernur di setiap propinsi untuk melaksanakan pemerintahan. Akan tetapi, untuk memungut pajak, di masing-masing propinsi diangkat seorang pejabat khusus dengan gelar Shahib al-Kharraj. Pejabat ini terikat dengan gubernur, dan diangkat oleh khalifah. Dalam masalah keuangan, gubernur harus menggantungkan dirinya pada Shahib al-Kharraj, dan hal ini membatasi kekuasaannya. Demikianlah Mu’awiyah mengembangkan keadaan yang teratur dari kekacauan.

Bidang Hukum

Pada bidang pelaksanaan hukum, Dinasti Umayyah membentuk suatu lembaga yang bernama Nizham al-Qadha (organisasi kehakiman). Kekuasaan kehakiman di zaman ini dibagi ke dalam tiga badan, yaitu:

Al-Qadhi

Lembaga yang bertugas memutuskan perkara dengan ijtihadnya, karena pada waktu itu belum ada “mazhab empat” ataupun mazhab-mazhab lainnya. Pada waktu itu Al- Qadhi menggali hukum sendiri dari Al-kitab dan As- Sunnah dengan berijtihad.

Al-Hisbah

Lembaga yang bertugas menyelesaikan perkara-perkara umum dan soal-soal pidana yang memerlukan tindakan cepat.

An-Nazhar Fil Mazhalim

(mahkamah tertinggi atau mahkamah banding) Adalah Lembaga peradilan dipegang oleh orang Islam, sedangkan semua kalangan non muslim mendapatkan otonomi hukum dibawa kebijakan masing- masing pemimpin agama mereka.

Bidang Kemiliteran

Pada masa pemerintahan Dinasti Umayyah, perkembangan militer bangsa Arab telah mencapai kemajuan yang signifikan. Dalam peperangan dengan tentara Bizantium, bangsa Arab sekaligus mempelajari kelebihan metode militer Romawi dan menggunakannya sebagai model mereka.

Sebagai organisator militer, Mu’awiyah adalah yang paling unggul di antara rekan- rekan sezamannya. Ia mencetak bahan mentah yang terdiri atas pasukan Suriah menjadi satu kekuatan militer Islam yang terorganisir dan berdisiplin tinggi. Ia menghapus sistem militer yang didasarkan atas organisasi kesukuan.

Mu’awiyah melaksanakan perubahan besar dan menonjol di dalam pemerintahannya dengan mengandalkan angkatan daratnya yang kuat dan efisien. Dia dapat mengandalkan pasukan orang-orang Suriah yang taat dan setia, yang tetap berdiri di sampingnya walau dalam keadaan yang berbahaya sekalipun. Dengan bantuan pasukan ini, Mu’awiyah berupaya mendirikan pemerintahan yang stabil.

Pos-pos pemeriksaan di berbagai benteng orang Islam, didirikan pada posisi- posisi yang strategis, di persimpangan jalur militer atau di jalan masuk lembah yang sempit.  Pos militer dan daerah sekitarnya itu disebut ’awashim. Namun, dalam pengertian yang lebih sempit, ’awashim merupakan jalur perbatasan bagian dalam, terletak di sebelah selatan, sepanjang pertahanan yang dijaga satu unit pasukan.

Tentara Umayyah secara umum dirancang mengikuti struktur organisasi tentara Bizantium. Kesatuannya dibagi ke dalam lima  kelompok,  yaitu tengah, dua sayap,  depan dan belakang. Formasi semacam ini terus digunakan hingga masa khalifah terakhir, Marwan bin Muhammad (744-M-750-M), yang memperkenalkan satu unit pasukan baru yang disebut dengan Kurdus (Legiun).

Secara umum, ekspansi yang dilakukan pemerintahan Dinasti Umayyah berhasil melakukan penaklukan yang meliputi tiga wilayah ;

  1. Melawan pasukan Romawi di Asia Kecil. Penaklukan ini sampai dengan pengepungan Konstantinopel dan beberapa kepulauan di Laut Tengah.
  2. Wilayah Afrika Utara. Penaklukan ini sampai ke Samudera Atlantik dan menyeberang ke Gunung Thariq hingga ke Spanyol.
  3. Wilayah Timur. Penaklukan ini sampai ke sebelah Timur Irak. Kemudian meluas ke wilayah Turkistan di Utara, serta ke wilayah Sindh di bagian Selatan. Ekspansi ini dalam rangka memperluas wilayah kekuasaan yang merupakan lanjutan dari ekspansi yang dilakukan para pemimpin Islam sebelumnya.

Mu’awiyah berhasil menaklukkan Tunis, Khurasan sampai ke sungai Oxus serta Afganistan sampai ke Kabul, dan angkatan lautnya  melakukan  serangan-serangan ke  ibu kota Bizantium, Konstantinopel. Ekspansi ini selanjutnya dilakukan oleh Khalifah Abd al-Malik. Ia berhasil menundukkan Balkh, Bukhara, Khawarizm, Fergana dan Samarkand. Pasukannya juga sampai ke India dan dapat menguasai Balukhistan, Sind  dan daerah Punjab sampai ke Maltan.

Di samping itu, Walid bin Abd al-Malik adalah khalifah yang berhasil menundukkan Maroko dan Aljazair. Dari kota ini, ekspansi diteruskan ke Eropa yang dipimpin oleh Thariq bin Ziyad, hingga mampu mengalahkan Tentara Spanyol. Pada zaman Umar bin Abd al-’Aziz serangan dilakukan ke Perancis yang dipimpin oleh Abd ar-Rahman bin Abdullah al-Gafiqi. Di Perancis, umat Islam berhasil menundukkan Bordeau dan Poitiers. Selanjutnya serangan diteruskan untuk menundukkan kota Tours. Namun al-Gafiqi mati terbunuh, akhirnya tentara Islam mundur dan kembali ke Spanyol.

Di Afrika, pasukan dinasti Umayyah berhasil menaklukkan Benzarat pada tahun 41   H / 661 M. Qamuniyah (dekat Qayrawan), Susat juga ditaklukkan pada tahun yang sama. Uqbah bin Nafi berhasil menaklukkan Mogadishu, Sirt dan Tharablis, dan Wadan. Kota Qaryawan dibangun pada tahun 50 H / 670 M. Sementara itu, Kur yang merupakan sebuah wilayah di Sudan berhasil pula ditaklukkan. Akhirnya penaklukkan ini sampai   ke wilayah Maghrib Tengah (Al- Jazair). Uqbah bin Nafi adalah komandan yang paling terkenal di kawasan ini.

Penaklukkan meluas ke kawasan Timur (negeri Asia Tengah dan Sindh). Negeri- negeri Asia Tengah meliputi kawasan yang berada di antara sungai Sayhun dan Jayhun. Di antara kerajaan yang paling penting adalah Thakharistan dengan ibukotanya Balkh, Shafaniyan dengan ibukota Syawman, Shagdad dengan ibukota Samarkand dan Bukhari, Farghanah dengan ibukota Jahandah, Khawarizm dengan ibukota Jurjaniyah, Asyrusanah dengan ibukota Banjakat, Syasy dengan ibukota Bankats. Pasukan Dinasti Umayyah menyerang Asia Tengah pada tahun 41 H / 661 M. sebagian wilayah Thakharistan pada tahun 44 H / 665 M. Mereka sampai ke wilayah Quhistan. Pada tahun 44 H / 664 M, pasukan dinasti Umayyah menyerang wilayah Sindh dan India. Penduduk di tempat itu senantiasa melaksanakan pemberontakan sehingga membuat kawasan ini selamanya  tidak stabil, kecuali pada masa pemerintahan Walid bin Abd al-Malik.

Bidang Ekonomi

Pada masa Dinasti Umayyah, ekonomi mengalami kemajuan luar biasa. Dengan wilayah penaklukan yang begitu luas, maka hal itu memungkinkannya untuk mengeksploitasi potensi ekonomi negeri-negeri taklukan. Mereka juga dapat mengangkut sejumlah besar budak ke dunia Islam. Penggunaan tenaga kerja ini membuat bangsa Arab hidup dari negeri taklukan dan menjadikannya kelas pemungut pajak dan sekaligus memungkinkannya mengeksploitasi negeri- negeri tersebut, seperti Mesir, Suriah dan Irak.

Tetapi bukan hanya eksplotasi yang bersifat menguras saja yang dilakukan oleh Dinasti  umayyah, tetapi ada juga usaha untuk memakmurkan negeri taklukannya. Hal  ini terlihat dari kebijakan Gubernur Irak yang saat itu dijabat oleh al-Hajjaj bin Yusuf. Dia berhasil memperbaiki saluran-saluran air sungai Euphrat dan Tigris, memajukan perdagangan, dan memperbaiki sistem ukuran timbang, takaran dan keuangan al-Malik, tapi cetakan itu hanyalah tiruan dari mata uang Bizantium dan Persia. Selanjutnya pada tahun 695-M, ’Abd al-Malik mencetak dinar emas dan dirham perak yang murni hasil karya orang Arab. Wakilnya di Irak, al-Hajjaj, mencetak uang perak di Kufah pada tahun berikutnya.

Adapun sumber utama pemasukan sama saja  dengan  sumber  pendapatan  pada  masa Khulafa ar-Rasyidin, yaitu pajak. Di setiap provinsi, semua biaya untuk urusan administrasi lokal, belanja tahunan negara, gaji pasukan, dan berbagai bentuk layanan masyarakat dipenuhi dari pemasukan lokal, dan sisanya dimasukkan ke dalam kas Negara.

Bidang Sosial

Pada masa dinasti Umayyah, orang-orang Muslim Arab memandang dirinya lebih mulia dari segala bangsa bukan Arab (Mawali). Orang-orang Arab memandang dirinya “sayyid” (tuan) atas bangsa bukan Arab, seakan- akan mereka dijadikan Tuhan untuk memerintah. Sehingga antara bangsa Arab dengan negeri taklukannya terjadi jurang pemisah dalam hal pemberian hak- hak bernegara.

Masyarakat pada masa Dinasti Umayyah terbagi ke dalam empat kelas sosial. Kelas tertinggi biasanya diisi para penguasa Islam, dipimpin oleh keluarga kerajaan dan kaum aristokrat Arab. Kelas sosial kedua adalah para muallaf yang masuk Islam melalui pemaksaan sehingga negara mengakui hak penuh mereka sebagai warga Muslim. Kelas sosial ketiga adalah anggota sekte dan para pemilik kitab suci yang diakui, yang disebut ahl al-dzimmah, yaitu orang Yahudi, Kristen dan Saba yang telah mengikat perjanjian dengan umat Islam. Selanjutnya, kelas paling rendah dalam masyarakat adalah golongan budak. Meskipun perlakuan terhadap budak telah diperbaiki, tetapi dalam prakteknya mereka tetap menjadi penduduk kelas rendah.

Khalifah Dinasti Umayyah banyak yang bergaya hidup mewah dan berbeda dengan para khalifah sebelumnya. Meskipun demikian, mereka tidak pernah melupakan orang- orang lemah, miskin dan cacat. Pada masa tersebut dibangun berbagai panti untuk menampung dan menyantuni para yatim piatu, faqir miskin dan penderita cacat. Untuk orang-orang yang terlibat dalam kegiatan kemanusiaan tersebut mereka digaji oleh pemerintah secara tetap.

Memang, kehidupan pribadi para khalifah Dinasti Umayyah tidak terlepas dari kekurangan dan kelemahan. Hampir semua khalifah memiliki gundik. Yazid-bin Abd al- Malik sangat mencintai dua gadis penyanyinya, Salamah dan Habibah, sehingga ketika Habibah meninggal karena tersumbat sebuah anggur yang dilempar khalifah ke dalam mulutnya ketika sedang bercanda. Khalifah yang tengah dimabuk asmara itu sangat menyesal hingga meninggal dunia.

Di bawah penguasa Yazid bin Mu’awiyah, penggunaan anggur menjadi sebuah tradisi. Pesta anggur biasanya dilakukan bersamaan dengan pesta musik. Permainan dadu dan kartu juga dipraktekkan di dalam kerajaan. Balapan kuda sangat populer di bawah kekuasaan Dinasti Umayyah. Musik dikembangkan dan sejumlah uang diberikan kepada para pemusik dan penyanyi.

Demikian, pesta-pesta semacam itu tidak sepenuhnya kosong dari nilai budaya. Pesta-pesta itu menggugah perkembangan puisi, musik dan sisi kehidupan estetika secara umum, tidak hanya menjadi arena pesta pora.

Selama periode kekuasaan Dinasti Umayyah, dua kota Hijaz, Makkah dan Madinah, menjadi tempat berkembangnya musik, lagu dan puisi. Sementara itu, kota kembar di Irak, Bashrah dan Kufah, berkembang menjadi pusat aktivitas intelektual di dunia Islam. Di sini, kajian ilmiah tentang bahasa dan tata bahasa Arab telah dimulai. Motif awalnya adalah keinginan untuk memenuhi kebutuhan bahasa para pemeluk agama Islam baru yang ingin mempelajari Al-Qur’an, menduduki posisi pemerintahan, dan bisa berinteraksi dengan para penakluk. Di samping itu, kesenjangan yang besar antara bahasa klasik Al-Qur’an dengan bahasa percakapan sehari-hari yang telah tercampur dengan bahasa Suriah, Persia dan bahasa serta dialek lain menjadi pemicu munculnya minat pengkajian bahasa. Oleh karena itu, bukan suatu kebetulan jika perintis tata bahasa Arab legendaris Abu al-Aswad al-Duwali (wafat 688-M), berasal dari Baghdad.

Al-Qur’an yang telah dikodifikasi pada zaman Abu Bakar dan ‘Usman bin ‘Affan ditulis tanpa titik. Menurut salah satu riwayat, ulama pertama yang memberikan baris dan titik pada huruf-huruf Al-Qur’an adalah Hasan al-Bashri (642-728 M) atas perintah Abd al-Malik bin Marwan (685-705 M). Abd al-Malik bin Marwan menginstruksikan kepada al-Hajjaj untuk menyempurnakan tulisan Al-Qur’an. Lalu al-Hajjaj meminta Hasan al- Bashri untuk menyempurnakannya. Dalam hal ini, Hasan al-Bashri dibantu oleh Yahya bin Ya’mura (murid Abu al-Aswad ad-Duwali). Dalam riwayat lain, dikatakan bahwa yang pertama membuat baris dan titik pada huruf-huruf Al-Qur’an adalah Abu al-Aswad ad-Duwali. Selanjutnya, pada masa Khalifah Umar bin ‘Abd al-‘Aziz, telah dipelopori juga untuk penulisan hadis. Beliau memerintahkan kepada Abu Bakar bin Muhammad bin Amr bin Hazm (w. 120 H), Gubernur Madinah, untuk menuliskan hadis yang ada dalam hapalan-hapalan penghapal hadis.

Bidang Keagamaan

Pada masa Dinasti Umayyah, terdapat beberapa gerakan pemikiran keagamaa. Hal ini ditandai pada paruh pertama abad ke-8, di Bashrah hidup seorang tokoh terkenal bernama Washil bin ‘Atha (wafat tahun 748-M), seorang pendiri mazhab rasionalisme yang disebut Mu’tazilah. Orang Mu’tazilah memperoleh sebutan itu, karena mendakwahkan ajaran bahwa siapa pun yang melakukan dosa besar dianggap telah keluar dari barisan orang beriman, tapi tidak menjadikannya kafir. Dalam hal ini, orang semacam itu berada dalam kondisi pertengahan antara kedua status itu (manzilah bainal manzilatain). Washil pernah belajar kepada Hasan al-Bashri, ia cenderung pada doktrin kebebasan berkehendak (free will), yang kemudian menjadi doktrin utama dalam sistem keyakinan orang Mu’tazilah. Doktrin tersebut pada saat itu dianut kelompok Qadariyah (free will), yang dibedakan  dari kelompok Jabariyah (fatalism). Orang Qadariyah merepresentasikan penentangan terhadap konsep takdir yang ketat dalam Islam, kekuasaan Tuhan yang sangat ditekankan dalam Al-Qur’an, dan pengaruh Yunani Kristen.

Di samping itu, tumbuhnya gagasan dan pemikiran filosofis Arab pada waktu itu, tidak terlepas dari pengaruh tradisi Kristen dan filsafat Yunani. Salah satu agen utama yang memperkenalkan Islam dengan tradisi Kristen dan pemikiran Yunani  pada masa   itu adalah St. John (Santo Yahya) dari Damaskus (Joannes Damascenus), yang dijuluki Chrysorrhoas (lidah emas), karena saat tinggal di Antokia ia dikenal dengan nama Chrysostom.

Selain Mu’tazilah, sekte keagamaan lain yang tumbuh berkembang pada masa ini adalah kelompok Khawarij. Pada awalnya kelompok ini adalah pendukung setia Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib, namun pada perkembangannya menjadi penentang Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib yang paling berbahaya. Ini terjadi karena mereka menolak hasil perundingan antara Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib dan Mu’awiyah, mereka melakukan pemberontakan dan melakukan kerusakan di muka bumi. Kelompok Khawarij merupakan orang-orang yang keras kepala dan menginginkan manusia hanya ada dalam dua kubu, yaitu kafir   dan mukmin. Barang siapa yang sesuai dengan pandangannya, dianggap sebagai orang mukmin. Sebaliknya, barang siapa yang dianggap tidak sesuai dengan pandangannya, dianggap sebagai orang kafir.

Sekte lain yang muncul pada masa Dinasti Umayyah adalah Murji’ah, yang mengusung doktrin irja’, yaitu penangguhan hukuman terhadap orang beriman yang melakukan dosa, dan mereka tetap dianggap Muslim. Menurut Murji’ah, kenyataan bahwa Dinasti Umayyah adalah orang Islam sudah cukup menjadi pembenaran bahwa mereka merupakan pemimpin umat. Secara umum, ajaran pokok Murji’ah berkisar pada toleransi. Di antara gagasan pemikiran Murji’ah yang terpenting adalah bahwa mukmin yang melakukan maksiat akan disiksa oleh Allah di akhirat nanti, dan setelah disiksa  akan ditempatkan di surga.

Kelompok lainnya adalah Syi’ah. Kegigihan kelompok Syi’ah dengan keyakinan utamanya terhadap Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib dan putra-putranya, yang diklaim sebagai imam sejati, masih tetap menjadi karakteristik utama kelompok ini. Kelompok ini lahir setelah gagalnya perundingan damai antara Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib dengan Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Dari peristiwa ini pengikut setia Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib menganut suatu aliran dalam Islam yang disebut dengan Syi’ah. Kelompok ini meyakini Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib beserta para keturunannya adalah pemimpin umat Islam setelah wafatnya Rasulullah Saw.

Bidang Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan

Pada periode Dinasti Umayyah belum ada pendidikan formal. Putra-putra khalifah Dinasti Umayyah biasanya disekolahkan ke Badiyah, gurun Suriah, untuk mempelajari bahasa Arab murni, dan mendalami puisi. Ke  sanalah  Mu’awiyah  mengirimkan putranya yang kemudian menjadi penerusnya, Yazid bin Mu’awiyah. Masyarakat luas memandang orang yang dapat membaca dan menulis bahasa aslinya, bisa menggunakan busur dan panah, serta pandai berenang, sebagai seorang terpelajar. Nilai-nilai utama yang ditanamkan dalam pendidikan, sebagaimana terungkap dari berbagai literatur tentang pendidikan adalah keberanian, daya tahan saat tertimpa musibah, mentaati hak dan kewajiban tetangga, menjaga harga diri, kedermawanan dan keramahtamahan, penghormatan terhadap perempuan, dan pemenuhan janji. Kebanyakan nilai tersebut sangat dijunjung tinggi dalam kehidupan orang badui.

Ilmu pengetahuan yang dikenal orang Arab pada masa itu terdiri dari dua macam, yaitu ilmu agama dan ilmu tubuh manusia (ilmu pengobatan). Pada masa penaklukan Arab di Asia Barat, ilmu pengetahuan Yunani tidak berjaya lagi. Ia lebih merupakan sebuah tradisi yang dilestarikan oleh para praktisi dan komentator tulisan Yunani atau Suriah. Dokter-dokter istana Dinasti Umayyah berasal dari kelompok tersebut. Tabib paling menonjol di antara mereka adalah Ibnu Utsal, seorang dokter Mu’awiyah yang beragama Kristen, Tayazhuq, dokter al-Hajjaj dari Yunani.  Seorang  dokter  Yahudi dari Persia, Masarjawayh yang tinggal di Bashrah pada masa awal-awal pemerintahan Marwan bin al-Hakam, menerjemahkan ke dalam bahasa Arab sebuah naskah Suriah tentang pengobatan yang awalnya ditulis dalam bahasa Yunani oleh seorang pendeta Kristen di Iskandariyah, Ahrun, dan merupakan buku ilmiah pertama dalam bahasa Arab. Ilmu pengetahuan di masa ini mengalami perkembangan yang pesat, bahkan ilmu pengobatan mencapai kesempurnaannya di Arab. Khalid bin Yazid memperoleh kesarjanaan dalam ilmu kimia dan kedokteran, serta menulis beberapa buku tentang bidang itu. Khalid bin Yazid (wafat tahun 704-M atau 708-M) putra khalifah Dinasti Umayyah kedua, merupakan orang Islam pertama yang menerjemahkan buku-buku berbahasa Yunani dan Koptik tentang kimia, kedokteran, dan astrologi. Meskipun terbukti legendaris, mengasosiasikan penerjemahan itu kepada Khalid bin Yazid menjadi penting, karena hal itu membuktikan fakta bahwa orang Arab menggali tradisi ilmiah mereka darisumber-sumber Yunani, dan dari sanalah mereka memperoleh tenaga penggeraknya.

Naskah-naskah astrologi dan kimia yang dinisbatkan kepada Ja’far al-Shadiq (700-M-765-M), seorang keturunan Khalifah ’Ali bin Abi Thalib, dan salah satu dari     12 Imam Syi’ah, telah diragukan keasliannya oleh para sarjana modern yang kritis. Kenyataan paling tidak menyenangkan seputar kehidupan intelektual pada masa Dinasti Umayyah adalah bahwa ia tidak mewariskan kepada kita sumber-sumber berbentuk dokumen yang bisa dijadikan bahan kajian.