5/5 (1) Hubungan antara budaya lokal dan budaya asing

Hubungan Antara Budaya Lokal dan Budaya Asing – Bertemu lagi bareng kita, budisyaqier.com yang senantiasa membahas mengenai segala ilmu pengetahuan yang pastinya perlu kalian ketahui. Dan kali ini budisyaqier.com berkesempatan untuk membahas Hubungan antara budaya lokal dan budaya asing. Mari langsung saja simak baik-baik ulasan di bawah.

Menurut Koentjaraningrat, perubahan kebudayaan dipengaruhi oleh proses evolusi kebudayaan, proses belajar kebudayaan dalam suatu masyarakat, dan adanya proses penyebaran kebudayaan yang melibatkan adanya proses interaksi atau hubungan antarbudaya. Berbagai inovasi menurut Koentjaraningrat mengakibatkan masyarakat menyadari jika kebudayaan mereka sendiri selalu memiliki kekurangan sehingga untuk menutupi kebutuhannya manusia selalu mengadakan pengembangan. Sebagian besar inovasi yang terdapat dalam kehidupan masyarakat ialah hasil dari dampak atau masuknya unsur-unsur kebudayaan asing dalam kebudayaan suatu masyarakat sehingga tidak bisa disangkal bahwa hubungan antarbudaya memainkan peranan yang cukup penting buat keragaman budaya di Indonesia. Kontak kebudayaan di antara berbagai kelompok masyarakat yang berbeda-beda memunculkan kondisi saling memengaruhi satu sama lain. Kadang tanpa disadari ada pengambilan unsur budaya dari luar. Oleh karenanya, salah satu faktor pendorong keragaman budaya di Indonesia ialah karena kontak dengan kebudayaan asing. Koentjaraningrat menyatakan jika penjajahan atau kolonialisme adalah salah satu bentuk hubungan antarkebudayaan yang memberi dampak pada perkembangan budaya lokal. Proses saling memengaruhi budaya itu terjadi lewat proses akulturasi serta asimilasi kebudayaan.

Akulturasi Kebudayaan

Salah satu faktor perubahan budaya ialah adanya hubungan antarbudaya, yakni hubungan budaya lokal dengan budaya asing. Hubungan antarbudaya berisi ide akulturasi kebudayaan. Menurut Koentjaraningrat istilah akulturasi atau acculturation atau culture kontak yang digunakan oleh sarjana antropologi di Inggris mempunyai berbagai arti antara para sarjana antropologi. Menurut Koentjaraningrat akulturasi ialah proses sosial yang timbul apabila suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur kebudayaan asing sedemikian rupa sehingga unsur-unsur kebudayaan asing itu lambat laun di terima serta diproses ke dalam kebudayaan sendiri tanpa mengakibatkan hilangnya kebudayaan lokal tersebut.

Di dalam proses akulturasi terjadi proses seleksi terhadap unsur- unsur budaya asing oleh masyarakat setempat. Contoh proses seleksi unsur-unsur budaya asing serta dikembangkan menjadi bentuk budaya baru itu terjadi pada masa penyebaran agama Hindu-Buddha di Indonesia sejak mulai abad ke-1. Masuknya agama serta kebudayaan Hindu– Buddha dari India ke Indonesia berpengaruh besar terhadap perkembangan kebudayaan Indonesia. Unsur-unsur kebudayaan Hindu–Buddha dari India tersebut tidak ditiru sebagaimana adanya, tetapi sudah dipadukan dengan faktor kebudayaan asli Indonesia hingga terbentuklah unsur kebudayaan baru yang jauh lebih sempurna. Hasil akulturasi kebudayaan Indonesia dengan kebudayaan Hindu–Buddha ialah dalam bentuk seni bangunan, seni rupa, aksara, serta sastra, sistem pemerintahan, sistem kalender, dan sistem kepercayaan serta filsafat. Tetapi, walau menyerap berbagai unsur budaya Hindu–Buddha, konsep kasta yang diterapkan di India tidak diterapkan di Indonesia.

Baca Juga : Pengertian Budaya Asing dan Contohnya

Proses akulturasi kebudayaan berlangsung jika suatu masyarakat atau kebudayaan dihadapkan pada unsur-unsur budaya asing. Proses akulturasi kebudayaan dapat tersebar melalui penjajahan serta media massa. Proses akulturasi antara budaya asing dengan budaya Indonesia berlangsung semenjak zaman penjajahan bangsa Barat di Indonesia abad ke-16. Semenjak zaman penjajahan Belanda, bangsa Indonesia mulai menerima banyak unsur budaya asing di dalam masyarakat, seperti mode pakaian, gaya hidup, makanan, dan iptek. Pada saat ini, media massa seperti televisi, surat kabar, serta internet menjadi sarana akulturasi budaya asing di masyarakat. Lewat media massa itu, unsur budaya asing berupa mode pakaian, perlengkapan hidup, pola hidup, serta makanan semakin cepat menyebar serta mampu mengubah tingkah laku masyarakat. Contohnya, model rambut serta pakaian dari luar negeri yang banyak ditiru oleh masyarakat. Tetapi, dalam proses akulturasi tidak selamanya berlangsung perubahan budaya lokal akibat pengaruh budaya asing. Contohnya, pemakaian busana batik serta kebaya sebagai busana ciri khas bangsa Indonesia. Meskipun pemakaian baju model barat seperti jas telah tersebar di dalam masyarakat, tetapi tanda-tanda itu tidak merubah kedudukan busana batik serta kebaya sebagai busana khas bangsa Indonesia. Pemakaian busana batik serta kebaya masih dikerjakan beberapa tokoh-tokoh masyarakat di acara kenegaraan di dalam dan luar negeri. Bahkan juga beberapa desainer Indonesia seperti Edward Hutabarat serta Ghea Pangabean telah mulai mengembangkan busana batik jadi alternatif model pakaian di kalangan generasi muda. Modifikasi busana tradisional itu ternyata dapat di terima oleh masyarakat serta mulai dijadikan alternatif pilihan model berbusana tidak hanya model pakaian barat. Proses akulturasi berlangsung dalam jangka waktu yang relatif lama. Hal itu disebabkan adanya unsur-unsur budaya asing yang diserap secara selektif serta ada unsur-unsur budaya yang tidak diterima sehingga proses perubahan kebudayaan melalui akulturasi masih mengandung unsur-unsur budaya lokal yang asli.

Bentuk kontak kebudayaan yang menimbulkan proses akulturasi, antara lain sebagai berikut.

  1. Kontak kebudayaan dapat terjadi pada seluruh, sebagian, atau antarindividu dalam
  2. Kontak kebudayaan dapat terjadi antara masyarakat yang memiliki jumlah yang sama atau
  3. Kontak kebudayaan dapat terjadi antara kebudayaan maju dan tradisional.
  4. Kontak kebudayaan dapat terjadi antara masyarakat yang menguasai dan masyarakat yang dikuasai, baik secara politik maupun ekonomi.

Berkaitan dengan proses terjadinya akulturasi, terdapat beberapa unsur-unsur yang terjadi dalam proses akulturasi, antara lain sebagai berikut.

Substitusi

Substitusi adalah pengantian unsur kebudayaan yang lama diganti dengan unsur kebudayaan baru yang lebih bermanfaat untuk kehidupan masyarakat. Misalnya, sistem komunikasi tradisional melalui kentongan atau bedug diganti dengan telepon, radio komunikasi, atau pengeras suara

Sinkretisme

Sinkretisme adalah percampuran unsur-unsur kebudayaan yang lama dengan unsur kebudayaan baru sehingga membentuk sistem budaya baru. Misalnya, percampuran antara sistem religi masyarakat tradisional di Jawa dan ajaran Hindu-Buddha dengan unsur-unsur ajaran agama Islam yang menghasilkan sistem kepercayaan kejawen.

Adisi

Adisi adalah perpaduan unsur-unsur kebudayaan yang lama dengan unsur kebudayaan baru sehingga memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Misalnya, beroperasinya alat trans- portasi kendaraan angkutan bermotor untuk melengkapi alat transportasi tradisional seperti cidomo (cikar, dokar, bemo) yang menggunakan roda mobil di daerah Lombok.

Dekulturasi

Dekulturasi adalah proses hilangnya unsur-unsur ke- budayaan yang lama digantikan dengan unsur kebudayaan baru. Misalnya, penggunaan mesin penggilingan padi untuk mengantikan penggunaan lesung dan alu untuk menumbuk padi.

Originasi

Originasi adalah masuknya unsur budaya yang sama sekali baru dan tidak dikenal sehingga menimbulkan perubahan sosial budaya dalam masyarakat. Misalnya, masuknya teknologi listrik ke pedesaan. Masuknya teknologi listrik ke pedesaan menyebabkan perubahan perilaku masyarakat pedesaan akibat pengaruh informasi yang disiarkan media elek- tronik seperti televisi dan radio. Masuk- nya berbagai informasi melalui media massa tersebut mampu mengubah pola pikir masyarakat di bidang pendidikan, kesehatan, perekonomian, dan  hiburan dalam masyarakat pedesaan. Dalam bidang pendidikan, masyarakat menjadi sadar akan pentingnya pendidikan untuk meningkatkan harkat dan martabat warga masyarakat. Dalam bidang kesehatan masyarakat menjadi sadar pentingnya kesehatan dalam kehidupan masyarakat, seperti, kebersihan lingkungan, pencegahan penyakit menular dan perawatan kesehatan ibu dan anak untuk mengurangi angka kematian ibu dan anak, serta peningkatan kualitas gizi masyarakat. Dalam bidang perekonomian, masyarakat pedesaan menjadi semakin memahami adanya peluang pemasaran produk-produk pertanian ke luar daerah.

Rejeksi

Rejeksi adalah proses penolakan yang muncul sebagai akibat proses perubahan sosial yang sangat cepat sehingga menimbulkan dampak negatif bagi sebagian anggota masyarakat yang tidak siap menerima perubahan. Misalnya, ada sebagian anggota masyarakat yang berobat ke dukun dan menolak berobat ke dokter saat sakit. Akulturasi kebudayaan berkaitan dengan integrasi sosial dalam masyarakat. Ke- anekaragaman budaya dan akulturasi mampu mempertahankan integrasi sosial apabila setiap warga masyarakat memahami dan menghargai adanya keanekaragaman berbagai budaya dalam masyarakat. Sikap tersebut mampu meredam konflik sosial yang timbul karena adanya perbedaan persepsi mengenai perilaku warga masyarakat yang menganut nilai-nilai budaya yang berbeda.

Asimilasi Kebudayaan

Konsep lain dalam hubungan antarbudaya ialah adanya asimilasi (assimilation) yang berlangsung di antara komunitas-komunitas yang tersebar di berbagai wilayah. Koentjaraningrat mengatakan jika asimilasi ialah proses sosial yang muncul apabila adanya golongan-golongan manusia dengan latar kebudayaan yang berbeda- beda yang saling bergaul secara intensif untuk waktu yang lama sehingga kebudayaan-kebudayaan itu berubah sifatnya serta wujudnya yang khas menjadi unsur-unsur budaya campuran.
Menurut Richard Thomson, asimilasi ialah suatu proses di mana individu dari kebudayaan asing atau minoritas memasuki suatu keadaan yang di dalamnya terdapat kebudayaan dominan. Selanjutnya, dalam proses asimilasi itu terjadi perubahan perilaku individu untuk beradaptasi dengan kebudayaan dominan.

Baca Juga : Konsep Keberagaman dalam Kebudayaan

Proses asimiliasi berlangsung jika ada masyarakat pendatang yang menyesuaikan diri dengan kebudayaan setempat hingga kebudayaan masyarakat pendatang itu melebur serta tidak terlihat unsur kebudayaan yang lama. Di Indonesia, proses asimilasi seringkali berlangsung dalam masyarakat karena adanya dua faktor. Pertama, banyaknya unsur kebudayaan daerah berbagai suku bangsa di Indonesia. Ke-2, terdapatnya beberapa unsur budaya asing yang dibawa oleh warga pendatang seperti masyarakat keturunan Tionghoa serta Arab yang sudah tinggal dengan turun-temurun di Indonesia. Di dalam masyarakat, interaksi antara masyarakat pendatang serta masyarakat setempat sudah menyebabkan berlangsungnya pembauran budaya asing serta budaya lokal. Contoh asimilasi budaya itu berlangsung pada masyarakat Batak serta Tionghoa di Sumatra Utara. Menurut Bruner, beberapa pedagang Tionghoa yang tinggal di wilayah Tapanuli sadar jika mereka adalah pendatang hingga mereka berusaha belajar bahasa Batak serta beradaptasi dengan adat istiadat setempat sebab dianggap memberikan keuntungan bagi usaha perdagangan mereka. Sebaliknya, anggota masyarakat Batak Toba yang tinggal di Medan berupaya beradaptasi dengan kebudayaan warga setempat yang didominasi etnik Tionghoa. Selanjutnya, dia akan belajar bahasa Cina sebab pengetahuan itu dianggap bermanfaat dalam melakukan transaksi perdagangan dengan masyarakat keturunan Tionghoa.
Masyarakat Indonesia ialah warga yang plural serta multietnik sebab beragamnya kebudayaan serta adat istiadat suku bangsa yang ada di Indonesia. Namun, kehidupan manusia selalu mengalami perubahan yang berpengaruh pada kebudayaan masya- rakat sebab adanya suatu kontak antarkebudayaan yang akan saling memengaruhi satu sama lain. Kontak antarbudaya itu memberikan dampak pada beragamnya kebudayaan masyarakat.
Bagaimana sikap kita untuk menghadapi kontak budaya dalam komunitas yang bersifat plural? Sikap toleransi sangat dibutuhkan dalam suatu masyarakat yang memiliki keanekaragaman budaya. Sikap toleransi serta simpati mampu menjadikan setiap individu menghormati serta saling menyerap beberapa unsur budaya yang bisa memberikan manfaat serta menyaring bentuk-bentuk budaya yang negatif dalam masyarakat. Sikap toleransi serta simpati tersebut mampu mengintegrasikan berbagai kelompok masyarakat yang memiliki banyak perbedaan. Sikap itu mampu menghilangkan adanya prasangka antar- kelompok serta sikap superioritas terhadap kelompok lain.

Berikan Bintang Untuk Penulis

%d blogger menyukai ini: