5/5 (1) Fungsi Sikap Toleransi Terhadap Keberagaman Budaya

Fungsi Sikap Toleransi Terhadap Keberagaman Budaya – Bertemu lagi bareng kita, budisyaqier.com yang senantiasa membahas mengenai segala ilmu pengetahuan yang pastinya perlu kalian ketahui. Dan kali ini budisyaqier.com berkesempatan untuk membahas Fungsi Sikap Toleransi Terhadap Keberagaman Budaya. Mari langsung saja simak baik-baik ulasan di bawah.

Semenjak awal kemerdekaan bangsa Indonesia, beberapa pendiri negara sudah menyadari akan arti pentingnya pengembangan kerangka nilai atau etos budaya yang bisa mempersatukan masyarakat Indonesia yang bersifat majemuk. Kesadaran tersebut dituangkan dalam UUD 1945, Pasal 32 yang berbunyi,”pemerintah memajukan kebudayaan nasional Indonesia”. Hal tersebut diperkuat dalam penjelasan UUD 1945, ”Kebudayaan bangsa adalah kebudayaan yang timbul sebagai buah usaha budinya rakyat Indonesia seluruhnya. Kebudayaan-kebudayaan lama dan asli yang terdapat sebagai puncak-puncak di daerah di seluruh Indonesia, terhitung sebagai kebudayaan bangsa. Usaha kebudayaan harus menuju ke arah kemajuan adab, budaya, serta persatuan dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing yang dapat memperkembangkan atau memperkaya kebudayaan bangsa sendiri dan mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia.”

Sikap Toleransi dan Empati Sosial Terhadap Keberagaman Budaya di Indonesia

Fakta jika masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang terdiri atas kelompok-kelompok suku, agama, daerah, serta ras yang beraneka ragam. Ini merupakan keunikan masyarakat Indonesia sehingga Indonesia dikatakan sebagai masyarakat majemuk.
Pada beberapa kelompok tradisi yang ketat, membedakan antarwarga dengan bukan warga. Kehadiran orang asing dilalui dengan mengadakan upacara adopsi untuk mempermudah perlakuan, kecuali jika yang bersangkutan akan diperlakukan sebagai orang luar atau musuh. Hal itu tercermin dalam upacara penyambutan pejabat di wilayah Tapanuli di masa lampau. Para tamu itu umumnya diterima dengan upacara tradisi yang menegaskan kedudukannya dalam struktur sosial masyarakat Batak yang terikat dalam hubungan perkawinan tiga marga (dalihan na tolu). Pada adat perang suku Dani di pegu- nungan Jayawijaya, di luar kelompok kerabat patrilineal, hubungan kekerabatan datang dari kelompok sosial yang sangat kuat sehingga untuk mempermudah perlakuan pada orang asing maka upacara kelahiran kembali biasanya dilakukan terhadap tamu asing yang dihormati. Selain itu, di masa lampau, untuk mensahkan kewenangan Gubernur Jenderal van Imhoffsebagaiwakilratu, Belanda mengundang raja Jawa sebagai penguasa tertinggi di Mataram. Beliau diberi gelar sebagai Kanjeng Eyang Paduka Tuan Gubernur Jenderal untuk menunjukkan senioritas dalam struktur sosial.

Baca Juga : Alternatif Pemecahan Masalah Keberagaman Budaya Yang Ada Di Indonesia

Pengembangan Sikap Toleransi dan Empati Sosial Terhadap Keberagaman Budaya di Indonesia

Untuk memelihara kesetiakawanan sosial maka suatu kelompok suku bangsa umumnya meningkatkan simbol-simbol yang mudah diketahui, seperti bahasa, adat istiadat, serta agama. Setiap suku bangsa itu merasa bahwa mereka memiliki simbol-simbol tertentu. Simbol ini dipercaya perbedaannya dengan simbol-simbol suku bangsa lainnya serta berperan sebagai media untuk menguatkan kesetiakawanan sosial mereka.
Di Indonesia terdapat suku bangsa serta golongan sosial yang terlibat dalam interaksi lintas budaya secara serasi sehingga melahirkan suku- suku bangsa baru. Ini adalah hasil amalgamasi atau asimilasi budaya. Suatu bentuk amalgamasi budaya yang melahirkan suku bangsa baru ialah yang terjadi di Batavia. Penduduk Batavia yang berdatangan dari berbagai tempat dengan memiliki keanekaragaman latar belakang kebudayaan itu berhasil dipersatukan dalam kebudayaan Betawi yang dipimpin oleh Muhammad Husni Thamrin pada tahun 1923. Selanjutnya, setiap golongan suku bangsa atau golongan yang ada menanggalkan simbol-simbol kesukuan mereka serta mengembangkan simbol-simbol kesukuan baru dan memilih agama Islam sebagai media sosial yang memperkuat kesetiakawanan sosial.

Proses Integrasi Budaya

Pada saat pendudukan Jepang terjadi proses integrasi budaya di Indonesia. Jepang yang berusaha meraih simpati dari rakyat Indonesia, dengan mensahkan penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi maupun dalam pergaulan sosial sehari-hari. Dampak kebijakan itu sangat besar dalam pengembangan budaya kesetaraan pada masyarakat Indonesia. Keputusan Jepang untuk memberlakukan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi itu bukan hanya mengukuhkan media sosial yang dibutuhkan tetapi mematahkan salah satu lambang arogansi sosial, yakni pemakaian bahasa Belanda pada masa penjajahan Belanda. Jasa lain penjajah Jepang yang tidak boleh diabaikan ialah pembentukan organisasi rukun tetangga (RT) sebagai organisasi sosial di tingkat lokal. Tujuannya untuk mempersatukan seluruh masyarakat tanpa memandang asal usul kesukuan, kelompok, serta latar belakang kebudayaan. Konsep ketetanggaan itu akan memainkan peranan penting dalam menciptakan wadah sosial yang dapat menjamin kebutuhan akan rasa aman masyarakat, bebas dari kecurigaan, serta prasangka etnik, ras, serta golongan.

Sikap Toleransi dan Empati Terhadap Keberagaman Budaya

Agar menghindari kecenderungan dominasi suatu suku bangsa terhadap suku bangsa yang lain maka harus ditingkatkan rasa toleransi serta empati terhadap keberagaman Indonesia. Contohnya, proyek pencetakan sejuta hektar sawah lahan gambut yang telah diurungkan. Apabila proyek ini dikerjakan bisa menjurus ke arah dominasi kebudayaan petani sawah dari Jawa yang dipaksakan kepada suku Dayak serta kebudayaannya yang dianggap kurang sesuai dengan arus pembangunan.

Baca Juga : Pengertian Wujud Kebudayaan

Penerapan Pendekatan Multikultural

Peningkatan model pendidikan yang menggunakan pendekatan multikultural sangat diperlukan untuk menanamkan nilai- nilai pluralitas bangsa. Sikap simpati, toleransi, serta empati akan tertanam kuat melalui pendidikan multikultural. Masyarakat menyadari akan adanya perbedaan budaya serta memupuk penghayatan nilai- nilai kebersamaan sebagai dasar dan pandangan hidup bersama .
Melalui pendidikan multikultural, sejak dini anak didik ditanamkan untuk menghargai berbagai perbedaan budaya, seperti etnik, ras, serta suku dalam masyarakat. Keserasian sosial serta kerukunan pada dasarnya ialah sebuah mozaik yang tersusun dari keberagaman budaya dalam masyarakat. Melalui pendidikan multikultural, seorang anak dididik untuk bersikap toleransi serta empati terhadap berbagai perbedaan di masyarakat. Kesadaran akan
kemajemukan budaya serta kesediaan untuk bertoleransi serta berempati terhadap perbedaan budaya adalah kunci untuk membangun kehidupan berbangsa serta bernegara. Penerapan sikap toleransi serta empati sosial yang dilakukan oleh individu dalam masyarakat akan mencegah terjadinya berbagai konflik sosial yang merugikan berbagai pihak.

Berikan Bintang Untuk Penulis

%d blogger menyukai ini: