5/5 (1) Dari Konflik Menuju Konsensus

Dari Konflik Menuju Konsensus – Perjuangan tidak akan pernah usai, sebelum akhirnya waktulah yang menutupnya. Maka, bahkan sejak berabad—abad penjajahan, hingga akhirnya mencapai kemerdekaan, perjuangan masih belum berakhir. Berbagai macam konflik dan pergolakan pun terjadi. Menjadi sebuah ujian bagi kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia. Namun, tiada ujian tanpa hikmah. Bukankah setelah badai lahirlah pelangi? Maka begitu pula kita memandang sejarah. Dalam setiap peristiwa besar di masa lampau yang terjadi, kita harus jeli dalam mengambil hikmah yang terkandung di baliknya. Maka, mari mencerna hikmah dari berbagai konflik dan pergolakan yang terjadi.

  1. Kesadaran Terhadap Pentingnya Integrasi Bangsa

Berbagai konflik yang terjadi  di beberapa daerah akan menjadi sebuah  ancaman besar bagi persatuan bangsa. Beberapa di antara konflik yang telah terjadi di rentang waktu taun 1958 sampai dengan tahun 1965 memakan banyak korban. Setiap konflik akan berakhir dengan penderitaan rakyat, baik secara lahir maupun batin. Maka kesadaran akan pentingnya sebuah integrasi bangsa menjadi satu hal penting yang harus ditanamkan dan ditumbuhkan di setiap warga masyarakat. Banyaknya daerah yang  rawan konflik harusnya menjadi sebuah pemicu untuk meningkatkan kesadaran kita. Bahkan, Kementerian Sosial telah menyatakan bahwa pada 2014, masih terdapat 184 daerah di Indonesia yang memiliki potensi  konflik sosial. Di antara daerah-daerah rawan konflik tersebut, terdapat enam daerah yang memiliki potensi rawan konflik terbesar, yaitu: Jawa Tengah, Jawa Barat, Jakarta, Sulawesi Tengah, Sumatera Utara, dan Papua.

  1. Teladan Para Tokoh Persatuan

Tiada kemenangan tanpa perjuangan, bukan? Maka kemerdekaan Indonesia pada masa itu tak pernah lepas dari tetesan darah dan keringat para pejuang. Orang-orang yang hidup untuk orang lain. Maka, tak heran jika ada ratusan nama yang telah diangkat secara resmi sebagai pahlawan nasional. Meskipun itu pastilah tak sebanding dengan beratnya perjuangan dan pengorbanan mereka. Tapi, setidaknya ini  menunjukkan betapa banngganya bangsa ini telah memiliki para pejuang yang berani dan totalitas dalam mengabdi. Namun, perjuangan tak akan pernah usai, bukan? Maka, detik ini, kitalah yang kemudian memikul tanggungjawab dalam meneruskan perjuangan mereka; menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan landasan Pancasila.

  1. Mewujudkan Integrasi Melalui Seni dan Sastra:

Salah satu  penyokong dalam mewujudkan integrasi bangsa adalah seni dan sastra. Maka, mari kita mengenal para pejuang di bidang seni dan sastra dengan lebih  dekat. Salah saatunya adalah Ismail Marzuki. Lahir dari keluarga seniman, tepatnya di Jakarta pada tahun 1914, beliau sudah mulai  terjun  di dunia seni dan berhasil membuat sebuah lagu di usia 17 tahun. Paada tahun 1936, Ismail Marzuki aktif dalamm  perkumpulan music bernama Lief Java serta  terjun di dunia radio  untuk mengisi  siaran music. Diiringi  dengan rasa cintanya terhadap tanah air, beliau telah berhasisl menciptakan beberapa lagu yang penuh semangat nasionalisme seperti Rayuan Pulau Kelapa pada tahun 1944, Halo-Halo Bandung dalam peristiwa Bandung lautan Api di tahun 1946, Selendang Sutera di tahun 1946 saat  revolusi kemerdekaan dan Sepasang Mata Bola di tahun 1946.

  1. Perempuan Pejuang

Perjuangan tak hanya diwarnai oleh kaum lelaki, banyak pejuang perempuan yang tak kalah berani dengan para pejuang lelaki. Siapa mereka? Salah satunya adalah Opu Daeng Risaju. Seorang pelopor sebuah gerakan Partai Serikat Islam yangn focus pada perlawanan terhadap Belanda. Beliau rela meninggalkan gelar bangswan demi  perjuangannya. Dan bahkan rela  dipenjara dalam kurun waktu 13 bulan atas tuduhan menghasut  rakyat  untuk membangkang. Namun, hal itu bukanlah sebuah hambatan  untuk meneruskan perjuangan. Semangat beliau untuk terus berada dalam perjuangan menjadi pemantik api semanagt para pejuang lain.

Berikan Bintang Untuk Penulis

%d blogger menyukai ini: