Dakwah Rasulullah Pada Periode Madinah

DAKWAH RASULULLAH PADA PERIODE MADINAH – Bertemu lagi bareng kita, budisyaqier.com yang senantiasa membahas mengenai segala ilmu pengetahuan yang pastinya perlu kalian ketahui. Dan kali ini budisyaqier.com berkesempatan untuk membahas DAKWAH RASULULLAH PADA PERIODE MADINAH. Mari langsung saja simak baik-baik ulasan di bawah.

Nabi Muhammad Saw. berdakwah di Makkah selama lebih kurang 13 tahun, akan tetapi yang beriman di antara mereka hanya beberapa saja, bahkan mereka yang masih tetap pada kemusrikannya selalu mengganggu jalannya dakwah Islam dengan beragam cara, bahkan mereka juga berusaha untuk membunuh Nabi Muhammad Saw. Kota Makkah tempat di mana Nabi Muhammad Saw. dilahirkan, tidak memberikan harapan bagi dakwah Islam. Beberapa tempat pernah dicoba untuk berhijrah, dan ternyata Madinah sebelumnya bernama Yatsrib merupakan alternatif yang paling baik untuk dijadikan pusat kegiatan dakwah Islam.

Gua Tsur terletak di Jabal Tsur kira-kira 4 km sebelah selatan Masjidil Haram, tingginya dari permukaan laut 748 m sedang dari permukaan tanah 458 m, Gua Tsur itu sendiri tingginya 125 cm, panjang maupun lebar berkisar antara 3,5 m – 3,5 m. Gua tersebut memiliki dua pintu yaitu sebelah barat dan timur, pintu sebelah barat itulah yang di guankan Nabi Saw. untuk masuk, yang tingginya 1 m, sedang pintu sebalah timur walaupun lebih luas sengaja di buat untuk orang yang sengaja keluar masuk goa, untuk mendaki puncak Jabal Tsur diperlukan waktu sekitar 1,5 jam.

Ketika tekanan dan siksaan orang Quraisy semakin bertambah, Rasulullah Saw. memerintahkan kaum Muslimin berhijrah ke Madinah. Hijrah tersebut dilakukan secara sembunyi, sedangkan beliau berangkat  bersama  Abu  Bakar  setelah  kaum  Muslimin  tiba di Madinah. Berita akan datangnya Nabi Muhammad Saw. tersebar di Madinah, semua penduduk Madinah bersiap-siap menanti kedatangannya. Tatkala beliau sampai di Madinah, beliau disambut dengan syair-syair dan penuh kegembiraan oleh penduduk Madinah.

Hijrah dari Makkah ke Madinah bukan hanya sekedar berpindah dan menghindarkan diri dari ancaman dan tekanan orang kafir Quraisy dan penduduk Makkah yang tidak menghendaki pembaharuan terhadap ajaran nenek moyang mereka, tetapi juga mengandung maksud untuk mengatur potensi dan menyusun strategi dalam menghadapi tantangan lebih lanjut, sehingga nanti terbentuk masyarakat baru yang di dalamnya bersinar kembali mutiara tauhid warisan Nabi Ibrahim As. yang akan disempurnakan Nabi Muhammad Saw. melalui wahyu Allah  Swt.

Beberapa peristiwa penting tentang Hijrah Nabi Muhammad Saw. ke Madinah :

  1. Tersebarnya berita tentang masuk Islamnya sekelompok penduduk Yatsrib (Madinah), membuat orang-orang kafir Quraisy semakin meningkatkan tekanan terhadap orang- orang beriman di Makkah. Lalu Nabi Muhammad Saw. memerintahkan kaum Mukminin agar hijrah ke kota Madinah. Para sahabat segera berangkat menuju Madinah secara diam-diam, agar tidak dihadang musuh. Namun Umar bin Khattab justru mengumumkan terlebih dahulu rencananya untuk berangkat ke pengungsian kepada orang-orang kafir Makkah. Ia berseru, “Siapa di antara kalian yang bersedia berpisah dengan ibunya, silahkan hadang aku besok di lembah, besok pagi saya akan hijrah.” Tidak seorang pun berani menghadang umar.
  2. Setelah mengetahui kaum Muslimin yang hijrah ke Madinah itu disambut baik dan mendapat penghormatan yang baik dari penduduk Yastrib, bermusyawarahlah kaum kafir Quraisy di Darun Nadwah. Mereka merumuskan cara yang diambil untuk membunuh Rasululah Saw. yang diketahui belum berangkat bersama rombongan para sahabat. Rapat memutuskan untuk mengumpulkan para algojo dari setiap kabilah guna membunuh Nabi Saw. bersama-sama. Pertimbangannya ialah, keluarga besar Nabi (Bani Manaf) tidak  akan berani berperang melawan semua suku yang telah mengutus algojonya masing- masing. Kelak satu-satunya pilihan yang mungkin diambil oleh Bani Manaf ialah rela menerima diyat (denda pembunuhan) atas terbunuhnya Nabi. Keputusan bersama ini segera dilaksanakan dan para algojo telah berkumpul di sekeliling rumah Nabi Saw. Mereka mendapat instruksi: “Keluarkan Muhammad dari rumahnya dan langsung  penggal tengkuknya dengan pedangmu!”
  3. Pada malam pengepungan itu Nabi Saw. tidak tidur. Kepada keponakannya, Ali r.a., beliau memerintahkan dua hal: pertama, agar tidur (berbaring) di tempat tidur Nabi dan, kedua, menyerahkan kembali semua harta titipan penduduk Makkah yang ada di tangan Rasulullah Saw. kepada para pemiliknya. Nabi keluar dari rumahnya tanpa diketahui oleh satu orang pun dari para algojo yang mengepung rumahnya sejak senja hari. Nabi Saw. pergi  menuju  rumah  Abu  Bakar  yang sudah menyiapkan dua tunggangan (kendaraan) lalu segera berangkat. Abu Bakar menyewa Abdullah bin Uraiqith Ad-Daily untuk menunjukkan jalan yang tidak biasa menuju Madinah.
  4. Rasulullah dan Abu Bakar berangkat pada hari Kamis tanggal 1 Rabi’ul Awwal tahun kelima puluh tiga dari kelahiran Nabi Saw. Hanya Ali dan keluarga Abu Bakar saja yang tahu keberangkatan Nabi Saw. dan Abu Bakar malam itu menuju Yatsrib. Sebelumnya dua anak Abu Bakar, Aisyah dan Asma, telah menyiapkan bekal secukupnya untuk perjalanan itu. Kemudian Nabi Saw. ditemani Abu Bakar berangkat bersama penunjuk jalan menelusuri jalan Madinah-Yaman hingga sampai  di  goa  Tsur. Nabi dan Abu  Bakar berhenti di situ dan penunjuk jalan disuruh kembali secepatnya guna menyampaikan pesan rahasia Abu Bakar kepada putranya, Abdullah. Tiga malam lamanya Nabi Saw. dan Abu Bakar bersembunyi di goa itu. Setiap malam mereka ditemani oleh Abdullah bin Abu Bakar yang bertindak sebagai pengamat situasi dan pemberi informasi.
  5. Lolosnya Nabi Saw. dari kepungan yang ketat itu membuat  kalangan Quraisy hiruk  pikuk mencari. Jalan Makkah-Madinah dilacak. Tetapi mereka gagal menemukan Nabi Saw. Kemudian mereka menelusuri jalan Yaman-Madinah. Mereka menduga Nabi pasti bersembunyi di Gua Tsur. Setibanya tim pelacak di sana, alangkah bingungnya mereka ketika melihat mulut gua itu tertutup jaring laba-laba dan sarang burung. Itu pertanda tidak ada orang yang masuk ke dalam goa itu. Mereka tidak dapat melihat apa yang ada dalam goa, tetapi orang yang di dalamnya dapat melihat jelas rombongan yang berada   di luar. Waktu itulah Abu Bakar merasa sangat khawatir akan keselamatan Nabi. Nabi berkata kepadanya, “Jangan takut dan jangan khawatir, Allah bersama kita”.
  6. Kalangan kafir Quraisy mengumumkan kepada seluruh kabilah, “Siapa saja yang dapat menyerahkan Muhammad dan kawannya (Abu Bakar) kepada kami hidup atau mati, maka kepadanya akan diberikan hadiah yang bernilai besar.” Bangkitlah Suraqah bin Ja’syam mencari dan mengejar Nabi dengan harapan akan menjadi hartawan  dalam waktu singkat.Sungguhpun jarak antara goa Tsur dengan rombongan Nabi sudah begitu jauh, namun Suraqah ternyata dapat menyusulnya. Tatkala sudah begitu dekat, tiba-tiba tersungkurlah kuda yang ditunggangi Suraqah, sementara pedang yang telah diayunkan ke arah Nabi tetap terhunus di tangannya. Tiga kali ia mengibaskan pedangnya ke arah tubuh Nabi, tetapi pada detik-detik itu pula kudanya tiga kali tersungkur sehingga tidak berhasil. Kemudian ia menyarungkan pedangnya dalam keadaan diliputi perasaan kagum dan yakin, dia benar-benar berhadapan  dengan  seorang  Nabi  yang  menjadi  Rasul  Allah. Ia mohon kepada Nabi agar berkenan menolong mengangkat kudanya yang tak dapat bangun karena kakinya terperosok ke dalam pasir. Setelah ditolong oleh Nabi, ia meminta agar Nabi berjanji akan memberinya hadiah berupa gelang kebesaran raja-raja. Nabi menjawab, “Baiklah.” Kemudian kembalilah Suraqah ke Makkah dengan berpura-pura tak menemukan seseorang dan tak pernah mengalami kejadian apa pun.
  7. Rasulullah dan Abu Bakar tiba di Madinah pada tanggal 12 Rabi’ul Awal.
    Kedatangan beliau telah dinanti-nantikan masyarakat Madinah. Pagi hari mereka berkerumun di jalanan, setelah tengah hari barulah mereka bubar. Begitulah penantian mereka beberapa hari sebelum kedatangan Nabi Saw. Pada hari kedatangan Nabi dan  Abu Bakar, masyarakat Madinah sudah menunggu berjubel di jalan yang akan dilalui Nabi lengkap dengan regu genderang. Mereka mengelu-elukan Nabi dan genderang pun gemuruh diselingi nyanyian yang sengaja digubah untuk keperluan penyambutan itu: “Bulan purnama telah muncul di tengah-tengah kita, dari celah-celah bebukitan. Wajiblah kita bersyukur, atas ajakannya kepada Allah. Wahai orang yang dibangkitkan untuk kami, kau datang membawa sesuatu yang ditaati.”
  8. Dalam perjalanan ke Madinah, Nabi Muhammad Saw. dan rombongan singgah di Qubah. Disini beliau mendirikan masjid dan melaksanakan shalat Jum’at untuk yang pertama kalinya. Kemudian Nabi berangkat meninggalkan Bani Salim. Program pertama beliau sesampainya di Madinah ialah menentukan tempat di mana akan dibangun Masjid. Tempat itu ialah tempat di mana untanya berhenti setibanya di Madinah. Ternyata tanah yang dimaksud milik dua orang anak yatim. Untuk itu Nabi minta supaya keduanya sudi menjual tanah miliknya, namun mereka lebih suka menghadiahkannya. Tetapi beliau tetap ingin membayar harga tanah itu sebesar sepuluh dinar. Dengan senang hati Abu Bakar menyerahkan uang kepada mereka berdua.

Islam mendapat lingkungan baru di kota Madinah. Lingkungan yang memungkinkan bagi Nabi Muhammad Saw. untuk meneruskan dakwahnya, menyampaikan ajaran Islam dan menjabarkan dalam kehidupan sehari-hari. Setelah tiba dan diterima penduduk Yastrib, Nabi diangkat menjadi pemimpin penduduk Madinah. Sehingga disamping sebagai pemimpin agama, Nabi Muhammad Saw. juga didaulat menjadi pemimpin negara kota yang bernama negara Madinah.

Kemudian, tidak beberapa lama orang-orang Madinah non Muslim berbondong-bondong masuk agama Islam. Untuk memperkokoh masyarakat baru tersebut mulailah Nabi meletakkan dasar-dasar untuk suatu masyarakat yang besar, mengingat penduduk yang tinggal di Madinah bukan hanya kaum Muslimin, tapi juga golongan masyarakat Yahudi dan orang Arab yang masih menganut agama nenek moyang, maka agar stabilitas masyarakat dapat terwujudkan Nabi mengadakan perjanjian dengan mereka, yaitu suatu piagam yang menjamin kebebasan beragama bagi kaum Yahudi. Setiap golongan masyarakat memiliki hak tertentu dalam bidang politik dan keagamaan. Di samping itu setiap masyarakat berkewajiban mempertahankan keamanan negeri dari serangan musuh.

Pembentukan Karakter Masyarakat

Mendirikan Masjid

Setelah agama Islam  datang  Rasulullah  Saw.  mempersatukan  seluruh  suku-suku  di Madinah dengan jalan mendirikan tempat peribadatan dan pertemuan yang berupa masjid dan diberi nama masjid “Baitullah”. Dengan adanya masjid itu, selain dijadikan sebagai tempat peribadatan juga dijadikan sebagai tempat pertemuan, mengadili perkara dan sebagainya.

Mempersaudarakan Antara Anshar dan Muhajirin

Orang-orang Muhajirin datang ke Madinah tidak membawa harta akan tetapi membawa keyakinan yang mereka anut. Dengan itu Nabi Muhammad Saw. mempersatukan semua kekuatan dan kelompok yang ada di negara kota Madinah dalam suatu ikatan perjanjian untuk selalu melindungi satu sama lain.

Perjanjian Saling Membantu Antara Sesama Kaum Muslim dan Non Muslim

Setelah Nabi resmi menjadi penduduk Madinah, Nabi langsung mengadakan perjanjian untuk saling membantu atau toleransi antara orang Islam dengan orang non Islam. Selain itu Nabi mengadakan perjanjian yang berbunyi “kebebasan beragama terjamin buat semua orang di Madinah”.

Secara garis besar perjanjian antara Rasulullah Saw. dengan golongan di luar Islam yang kemudian dikenal dengan nama Piagam Madinah, dapat disebutkan empat prisip hukum yang terkandung di dalamnya, yaitu :

  1. Pada pasal pertama disebutkan bahwa penduduk Madinah adalah satu kesatuan umat, yang terdiri dari berbagai ragam manusia yang berbeda-beda.
  2. Pada pasal kedua dan ketiga disebutkan bahwa di antara ciri khas terpenting dari masyarakat beriman adalah tumbuh dan berkembang solidaritas serta jiwa senasib  dan sepenanggungan antara kaum beriman.
  3. Pada pasal keenam disebutkan bahwa asas persamaan dan keadilan yang diberlakukan untuk setiap suku dan kaum beriman di Madinah. Ini berarti setiap prnduduk Madinah, dari suku mana pun, harus diberlakukan baik dan adil. Keadilan merata bagi setiap kaum beriman di Madinah.
  4. Pada pasal kesebelas disebutkan bahwa orang-orang beriman di Madinah tidak boleh membiarkan penderitaan yang mendera saudara mereka, tetapi harus membantu.

Piagam Madinah (shahifatul madinah) juga dikenal dengan sebutan Konstitusi Madinah, ialah sebuah dokumen yang disusun Nabi Muhammad Saw., yang merupakan suatu perjanjian formal antara dirinya dengan semua suku-suku dan kaum-kaum penting di Yathrib (kemudian bernama Madinah) di tahun 622. Dokumen tersebut disusun sejelas- jelasnya dengan tujuan utama untuk menghentikan pertentangan  sengit  antara Bani  ‘Aus dan Bani Khazraj di Madinah. Untuk itu dokumen tersebut menetapkan sejumlah hak-hak dan kewajiban-kewajiban bagi kaum Muslim, kaum Yahudi, dan komunitas- komunitas piagam Madinah, sehingga membuat mereka menjadi suatu kesatuan komunitas, yang dalam bahasa Arab disebut ummah.

Dalam  piagam  Madinah  terdapat  10  bagian  dan  mengandung  47   Pasal.   23 Pasal mengenal peraturan sesama Islam dan 24 Pasal tentang orang Yahudi. Antara kandungannya ialah:

  1. Mengakui Nabi Muhammad Saw., ketua negara Madinah.
  2. Mengakui Ansar dan Muhajirin sebagai umat yang bertanggungjawab terhadap agama, Rasul dan masyarakat Islam.
  3. Setiap kaum bebas beragama dan mengamalkan cara hidup masing-masing.
  4. Orang Islam dan Yahudi bertanggungjawab terhadap keselamatan negara daripada serangan musuh.
  5. Orang Yahudi dibenarkan hidup dengan cara mereka serta menghormati orang Islam tetapi tidak dibenarkan melindungi orang musyrik Quraisy.
  6. Setiap masyarakat bertanggungjawab menjaga keselamatan dan mengekalkan perpaduan di Madinah.
  7. Setiap individu tidak boleh menyakiti dan memusuhi individu atau kaum lain. Hendaklah tolong-menolong demi pembangunan, ekonomi, dan keselamatan.
  8. Setiap kaum perlu merujuk Rasulullah Saw. (kepala pemerintahan) jika berlaku perselisihan.
  9. Seluruh pihak di Madinah dilarang berhubungan dengan pihak luar terutama Musyrikin Mekkah dan sekutu mereka.

Melaksanakan dasar Politik,Ekonomi dan Sosial Untuk Masyarakat Baru

Dengan terbentuknya masyarakat baru yang damai dan saling melindungi di Madinah di bawah pimpinan Nabi Muhammad Saw., pada tahun 9 H dan 10 H (630–632 M) banyak suku dari berbagai pelosok mengirim delegasi kepada Nabi bahwa mereka ingin tunduk kepada Nabi, serta menganut agama Islam, maka terwujudlah persatuan orang Arab pada saat itu. Dalam menunaikan haji yang terakhir atau disebut dengan Haji Wada  tahun 10  H (631 M) Nabi menyampaikan khotbahnya yang sangat bersejarah antara lain larangan untuk riba, menganiaya, perintah untuk memperlakukan istri dengan baik, persamaan   dan persaudaraan antar manusia harus ditegakkan dan masih banyak lagi.

Setelah itu Nabi kembali ke Madinah, beliau mengatur organisasi masyarakat, petugas keamanan dan para da’i dikirim ke berbagai daerah, mengatur keadilan, memungut zakat dan lain-lain. Lalu 2 bulan kemudian Nabi jatuh sakit, kemudian ia meninggal pada hari senin 12 Rabi’ul Awal 11 H atau 8 Juni 632 M. Dengan terbentuknya negara Madinah yang dipimpin Rasul Saw. bertambah kuat sehingga perkembangan yang pesat itu membuat orang Makkah risau, begitu juga dengan musuh–musuh Islam. Untuk menghadapi kemungkinan gangguan-gangguan dari musuh, Nabi sebagai kepala pemerintahan mengatur siasat dan membentuk pasukan tentara.

Banyak hal yang dilakukan Nabi dalam rangka mempertahankan dan memperkuat kedudukan kota Madinah di antaranya adalah mengadakan perjanjian damai dengan berbagai kabilah di sekitar Madinah, mengadakan ekspedisi keluar kota sebagai aksi siaga melatih kemampuan calon pasukan yang memang mutlak diperlukan untuk melindungi dan mempertahankan negara yang baru dibentuk tersebut.

Akan tetapi, ketika pemeluk agama Islam di Madinah semakin bertambah maka persoalan demi persoalan semakin sering terjadi, di antaranya adalah rongrongan dari orang Yahudi, Munafik dan Quraisy. Namun berkat keteguhan dan kesatuan umat Islam, mereka dapat mengatasinya.

Gangguan dan Ancaman

Ancaman Dari Orang Yahudi

Pada awal hijrah ke Madinah, orang Yahudi menerima kehadiaran Nabi dan kaum Muslimin dengan baik. Mereka dapat  bersahabat  dan  menjalin  hubungan  dengan  kaum Muslimin dengan penuh kekeluargaan. Tetapi setelah mereka mengetahui bahwa Muhammad adalah Nabi yang terakhir yang bukan berasal dari golongan mereka (Bani Israil) sebagaimana yang tertulis dalam kitab Taurat dan berpindahnya kiblat dari Masjidil Aqsa ke Ka’bah serta berhasilnya Rasulullah Saw. memegang kekuasaan dan peranan tinggi di Madinah, maka orang-orang Yahudi mulai mengadakan rongrongan  dari dalam misalnya mengadu domba kaum Aus dan Khazraj, yang merupakan dua suku besar yang ada di Madinah. Di samping itu, mereka membuat keonaran di kalangan penduduk Madinah dan melanggar perjanjian yang telah disepakati.

Ancaman Dari Orang Munafik

Ancaman terhadap kaum Muslimin di Madinah juga dilakukan oleh kaum Munafik. Yaitu kelompok yang meskipun mengaku beriman kepada Allah Swt. dan Rasul- Nya, akan tetapi mereka secara rahasia mengadakan tipu daya terhadap kaum Muslimin. Kelompok ini dipimpin oleh Abdullah bin Ubai dengan cara menghasut dan memprovokasi di antara kaum Muslimin.

Ancaman Dari Orang Quraisy

Ancaman juga dilakukan oleh orang Quraisy yang tidak ingin melihat Islam semakin berkembang dan menjadi kuat. Oleh karena itu mereka berusaha mengadakan serangan dan tekanan terhadap umat Islam. Terhadap kelompok ini, Rasulullah Saw. bersikap tegas, karena pada waktu itu ayat mengenai peperangan telah turun. Umat Islam diizinkan berperang dalam dua hal:

  1. Untuk mempertahankan diri dan melindungi hak-hak miliknya.
  2. Menjaga keselamatan dalam penyebaran kepercayaan dan mempertahankannya dari orang–orang yang menghalang-halangi.

Oleh karena itu, Rasulullah menyediakan prajurit di luar Madinah tujuannya adalah untuk menghadapi kemungkinan terjadinya serangan mendadak dari suku Quraisy. Peperangan pertama kali yang terjadi antara kaum Muslimin dan Quraisy adalah perang Badar (17 Ramadan tahun 2 H).

Perang inilah yang sangat menentukan masa depan umat Islam negara Madinah pada waktu itu. Dalam perang Badar ini jumlah pasukan antara kaum Muslimin dan kaum Quraisy tidak imbang. Pasukan kaum Muslimin berjumlah 305 orang sedangkan kaum Quraisy berjumlah 900-1000 orang. Meskipun jumlah pasukan Quraisy lebih banyak, namun dalam perang ini kaum Muslimin keluar sebagai pemenang sehingga membuat orang-orang Yahudi Madinah yang tidak sepenuh hati menerima perjanjian yang dibuat dengan Nabi itu tidak senang. Dan kekalahan tersebut akhirnya pada tahun 3 Hijriyah orang Quraisy membalasnya dengan membawa 3000 pasukan, Nabi menyongsong kedatangan mereka dengan 1000 pasukan. Namun Abdullah bin Ubay (seorang munafik) dengan 300 orang Yahudi membelot, akan tetapi Nabi tetap melanjutkan perjalanannya dengan 700 pasukan dan bertemu musuh di bukit Uhud. Peperangan tersebut kemudian disebut dengan perang Uhud.

Dari perjalanan sejarah Nabi ini dapat disimpulkan bahwa Nabi Muhammad Saw. selain sebagai pemimpin agama, juga seorang negarawan, pemimpin politik yang pintar dan cakap. Beliau hanya memimpin dalam waktu 11 tahun, Nabi bisa mempersatukan seluruh jazirah Arab ke dalam kekuasaannya. Dengan kesabaran dan budi pekerti yang baik, Nabi bisa menyebarkan agama Islam dengan mudah.

Tauladan Mulia Rasulullah SAW dalam Memimpin Perang

Perang Badar

  1. Keperwiraan berasal dari kata ”perwira” artinya gagah berani. Keperwiraan berarti keberanian. Rasulullah Saw. dalam beberapa perang yang diikutinya, memperlihatkan bahwa Rasulullah sebagai komandan perang yang gagah berani. Banyak contoh keperwiraan Rasulullah Saw. dalam peperangan melawan orang-orang kafir Quraisy, seperti dalam perang Badar, Uhud dan Khandaq.
  2. Perang Badar terjadi tanggal 17 Ramadhan tahun 2 Hijarah bertepatan 8 Januari 623 Masehi. Perang ini terjadi didekat sebuah sumur milik Badar, terletak antara Mekkah dan Madinah. Kaum muslimin berjumlah 313 orang sedangkan kafir Quraisy 1000 orang yang lengkap dengan peralatannya. Sedangkan kaum muslimin dengan senjata seadanya.
  3. Strategi Rasulullah dalam perang Badar, dengan menguasai penampungan air, hal itu sangat dibutuhkan kedua belah pihak. Sewaktu kedua pasukan saling berhadapan, maka tiba-tiba seorang kafir Quraisy bernama Aswad bin As’ad. Ia ingin menghancurkan kolam penampungan air yang dimiliki kaum Muslimin tetapi hal ini dapat digagalkan oleh Hamzah bin Abdul Muthalib dan Aswad pun tewas dipukul dengan pedang.
  4. Peperangan dimulai dengan perang tanding satu lawan satu dari pihak Quraisy diwakili 3 orang yaitu : Utbah, Syaibah bin Rabiah dan Al-Walid Utbah. Dari kaum Muslimin diwakili Ubaidah bin Harits, Ali bin Abi Thalib dan Hamzah bin Abdul Muthalib. Ketiga pahlawan Quraisy ini mati terbunuh. Dilanjutkan dengan perang masal, dengan iman yang kuat muslimin dapat memenangkan peperangan ini dengan pertolongan Allah.

Perang Uhud

  1. Perang Uhud terjadi pada pertengahan bulan Sya’ban tahun ketiga Hijrah bertepatan dengan bulan Januari tahun 625 Masehi. Peperangan terjadi di Gunung Uhud, sebelah utara kota Madinah. Oleh karena itu peperangan ini dinamai Perang Uhud. Perang ini terjadi karena kaum Quraisy ingin membalas kekalahan di Perang Badar sebelumnya.
  2. Kaum Muslimin berkekuatan 700 orang sedangakan  kaum  kafir  Quraisy berkekuatan 3000 orang. Dalam peperangan ini umat Islam dipimpin oleh Nabi Muhammad Saw. sedangan kaum Quraisy dipimpin oleh Abu Sufyan bin Harb,yang didampingi isterinya Hindun penyair yang mempunyai suara yang bagus untuk memberi semangat dan menghibur pasukannya. Peperangan dimulai dengan perang tanding satu lawan satu dari kaum muslimin diwakili oleh Ali bin Abi Thalib, Hamzah bin Abdul Muthalib, Sa’ad bin Abi Waqas dan Ashim bin Tsabit. Orang Quraisy diwakili oleh Musafi bin Thalhah, Harits bin Thalhah, Kilab bin Thalhah dan Jallas bin Thalhah. Dalam perang tanding ini semua pahlawan Quraisy mati terbunuh, setelah itu baru dilanjutkan dengan perang massal.
  3. Pada mulanya kaum Muslimin sudah menang dan kaum kafir meninggalkan hartanya, disebabkan kaum Muslimin khususnya  pasukan  pemanah turun dari tempatnya  untuk berbagi harta rampasan, pos kaum Muslimin kosong, saat itu Khalid bin Walid pasukan kuda kaum Quraisy mendapat kesempatan menerobos kaum  muslimin,  kaum muslimin kocar-kacir. Akhirnya kemenangan sudah di tangan sebelumnya sekarang menjadi sirna disebabkan oleh godaan dunia yaitu harta rampasan perang, kemenangan berpindah tangan kepada kaum kafir Quraisy. Sebab kekalahan perang ini ialah:
  1. Tentara panah yang berjumlah 50 orang taat kepada Rasulullah.
  2. Adanya kaum munafiq sebanyak 300 orang yang dipimpin oleh Abdullah bin Ubay yang mundur tidak mau berperang.
  3. Terjadinya perbedaan pendapat antara kaum tua dan muda tentang tempat peperangan, yang muda ingin di luar kota, sedangkan kaum tua ingin bertahan dalam kota Madinah

Perang Khandaq

  1. Perang Khandaq atau Ahzah terjadi pada bulan Syawal tahun 5 Hijrah, bertepatan dengan bulan Maret tahun 627 Masehi. Perang ini terjadi di sebelah utara kota Madinah. Perang ini disebut Khandaq (parit)  karena  kaum  Muslimin  membuat  parit pertahanan. Disebut ”Perang Ahzabkarena kaum Quraisy bersekutu dengan penduduk lain yang berada di sekitar kota Mekkah. Kaum muslimin berkekuatan sebanyak 3000 orang sedangakan kaum Quraisy berkekutan 10000 orang .
  2. Kaum Muslimin dipimpin oleh Nabi Muhammad Saw. didampingi Ali bin Abi Tahalib, sedangkan kaum Quraisy dipimpin oleh Abu Sufyan. Peperangan ini dimenangkan oleh kaum Muslimin dengan cara bertahan di balik parit atau khandaq. Parit ini merupakan ide seorang sahabat Rasul yang bernama Salman Al Farisi seorang sahabat yang berasal dari bangsawan Persia yang mengembara mencari kebenaran.

Rasulullah SAW Wafat

Menjelang wafat Rasulullah Saw. sewaktu sakitnya makin parah, Rasulullah Saw. meminta kepada isteri-isterinya yang lain untuk dirawat di rumah Siti Aisyah binti Abu Bakar Ash-Shiddiq. Keadaan itu membuat kaum Muslimin cemas dan khawatir, kalau- kalau Nabi wafat. Sewaktu Nabi mengetahui kecemasan kaum Muslimin beliau ingin menjumpai mereka. Dengan dipapah oleh Ali bin Abi Thalib Nabi bersabda:” Wahai manusia! Saya mendengar bahwa kamu sekalian merasa cemas kalau-kalau Nabimu meninggal dunia, pernahkah ada seorang Nabi yang hidup  selamanya?  Kalau  ada,  maka aku akan dapat pula hidup selamanya! Saya akan menemui Allah dan kamu akan menyusulku”.

Rasulullah Saw. wafat pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun ke 11 Hijrah, bertepatan dengan 8 Juni 632 Masehi, setelah mengalami sakit selama 13 hari dalam usia 63 tahun menurut perhitungan tahun Hijrah. Rasulullah Saw., meninggal di Rumah Siti Aisyah binti Abu Bakar dan di kuburkan di sana, Di antara orang yang ikut memandikan beliau ialah : Abbas bin Abdul Muthalib, Ali bin Abi Thalib, Fadhal bin Abbas, Usamah bin Zaid dan Syuqran.

Reaksi sahabat ketika Rasulullah Saw. wafat, banyak di antara sahabat dan kaum Muslimin yang tidak percaya bahwa Rasulullah wafat, Umar bin Khattab sangat marah sekali mendengar kabar wafatnya Rasulullah Saw. seraya berkata: ” Ada orang yang  telah menyatakan Rasulullah Saw. wafat!. Sesungguhnya, demi Allah, beliau  tidak  wafat, hanya pergi menghadap Tuhannya, sebagaimana Nabi Musa pun pernah pergi menghadap Tuhan. Demi Allah, Rasulullah Saw. akan kembali.” Tetapi setelah Abu Bakar membenarkan berita kewafatan Rasulullah Saw. itu, disertai membacakan firman Allah QS. Ali Imran [3]:144, maka barulah ia percaya. Rasulullah Saw., meninggalkan dua pusaka yaitu al-Quran dan hadis sebagai pedoman manusia yang denganya manusia akan selamat dalam hidup di dunia sampai akhirat.

Perubahan Besar Yang Dibawa Islam

Bertitik tolak dari peletakan dasar masyarakat Islam di Madinah, maka terjadilah perubahan sosial yang sangat dramatik dalam sejarah kehidupan manusia. Hal ini disebabkan karena Muhammad dengan ajarannya memberi suasana yang kondusif bagi timbulnya peradaban manusia dalam segala bidang disamping, kebenaran ajaran Islam  itu sendiri.

Di antara perubahan yang terjadi yang dibawa oleh Rasulullah Saw. ialah:

Dari Segi Agama :

Bangsa Arab yang semula menyembah berhala berubah menganut agama Islam yang setia.

Dari Segi Kemasyarakatan

Pada sisi kemasyarakatan yang semula terkenal sebagai masyarakat yang tidak mengenal prikemanusiaan, misalnya saling membunuh, tidak menghargai martabat wanita, berubah menjadi bangsa yang disiplin dan penuh nilai-nilai kamanusiaan sehingga tidak ada lagi merendahkan martabat eksploitasi wanita, dan perbudakan.

Dari Segi Politik

Masyarakat Arab tidak lagi sebagai bangsa yang cerai berai karena kesukuan, tetapi berkat ajaran Islam berubah menjadi bangsa yang besar dan bersatu, sehingga dalam tempo yang relatif singkat bangsa Arab menjadi bangsa besar yang dikagumi oleh bangsa lainnya.