5/5 (1) Cara Meningkatkan Kualitas Akhlak Yang Baik dan Benar

Cara Meningkatkan Kualitas Akhlak Yang Baik dan Benar – Bertemu lagi bareng kita, budisyaqier.com yang senantiasa membahas mengenai segala ilmu pengetahuan yang pastinya perlu kalian ketahui. Dan kali ini budisyaqier.com berkesempatan untuk membahas Konsep Bahasa dan Fungsi Bahasa. Mari langsung saja simak baik-baik ulasan di bawah.

Peningkatan kualitas akhlak penting dilakukan untuk mencapai kemuliaan hidup. Kualitas akhlak (kemuliaan) telah menjadi tujuan dari diutusnya Nabi Muhammad Saw, sesuai dengan sabdanya: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” Rasulullah Saw sendiri merupakan figur ideal serta contoh kepribadian utama yang dapat dijadikan teladan.

Bila kita melihat kondisi seperti sekarang ini, masyarakat mengalami dekadensi moral. Lingkungan yang jelek, pengaruh negatif perkembangan tekhnologi serta pergaulan yang cenderung bebas, semakin menguatkan pandangan jika pembinaan kualitas akhlak serta peningkatan kualitas pendidikan Islam itu penting dilakukan agar terbentuk akhlak mulia serta terpuji. Berdasarkan uraian diatas maka diperlukan cara atau metode yang tepat dalam upaya meningkatkan kualitas akhlak masyarakat. Metode- metode diantaranya seperti berikut:

Melalui Perumpamaan (Tamtsil)

Kualitas Akhlak bisa ditingkatkan melalui metode perumpamaan. Perumpamaan ini bisa diambil dari kandungan ayat-ayat al-Qur’an. Tujuannya adalah agar menjadikan perumpamaan itu sebagai pedoman dalam melaksanakan tugas-tugas kemanusiaan.Allah Swt. berfirman dalam al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 26:

Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, Maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: «Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?.» dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik, (Q.S. Al-Baqarah [2] : 26 )

Begitu pula pada QS. Al-Hajj : 73 yang di dalamnya Tuhan menerangkan bahwa berhala-berhala yang mereka sembah itu tidak dapat membuat lalat, Sekalipun mereka kerjakan bersama- sama, dan surah al-Ankabut ayat 41 yang di dalamnya Tuhan menggambarkan kelemahan berhala-berhala yang dijadikan oleh orang-orang musyrik itu sebagai pelindung sama dengan lemahnya sarang laba-laba.

Disesatkan Allah berarti bahwa orang itu sesat karena keingkarannya dan tidak mau memahami petunjuk-petunjuk Allah dalam ayat ini, ingkar dan tidak mau memahami apa sebabnya Allah menjadikan nyamuk sebagai perumpamaan, maka mereka itu menjadi sesat.

Usaha peningkatan kualitas akhlak bisa dilakukan dengan mempelajari perumpamaan di dalam al-Qur’an, selanjutnya menjadikan perumpamaan itu sebagai sarana mendidik akhlak pribadi dan masyarakat. Selain  itu,  bisa  menguatkan  kesan dan pesan yang berkaitan dengan makna yang tersirat dalam perupamaan tersebut yang menghadirkan perasaan religius.

Rasa keberagaman yang tertanam di dalam hati akan menguatkan keimanan seseorang. Dengan keimanan yang baik dan kuat, maka diharapkan akan terbentuk perilaku dan akhlak yang baik

Melalui Keteladanan (Uswatun Hasanah)

Kebutuhan keteladanan sudah menjadi fitrah setiap orang. Karena itu, setiap pribadi hendaknya bisa menjadi teladan bagi yang lain dalam usaha meningkatkan kualitas akhlak. Rasulullah Saw adalah sosok teladan dalam kehidupan suami-istri, dalam kesabaran menghadapi keluarganya, dan dalam mengarahkan istri- istrinya dengan baik. Beliau bersabda:

“Sebaik-baik orang di antara kalian adalah orang yang paling baik di antara kalian bagi keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian bagi keluargaku.” (HR. Ibnu Hibban)

Dalam kehidupan keluarga, anak  sangat  membutuhkan  suri tauladan, khususnya dari kedua orang tuanya, agar sejak kecil ia menyerap dasar tabiat perilaku Islam dan berpijak pada landasannya yang luhur. Jika orang terdekat di dalam keluarganya tidak bisa memberikan keteladanan yang baik, maka akan sangat berpengaruh terhadap akhlak sang anak.

Di sekolah atau madrasah, murid  sangat  membutuhkan  suri tauladan yang dilihatnya langsung dari setiap guru yang mendidiknya. Karena itu, baik guru ataupun orang tua hendaknya memiliki akhlak yang luhur yang diserapnya dari Al-Qur’an dan jejak langkah rasulullah saw.

Islam telah menjadikan pribadi Rasul sebagai suri tauladan bagi seluruh pendidik, dari generasi ke generasi, dan selalu aktual dalam kehidupan manusia. Setiap membaca riwayat kehidupannya bertambah pula kecintaan kita kepadanya dan tergugah pula keinginan kita untuk meneladaninya.

Islam tidak menyajikan keteladanan ini sekedar untuk dikagumi atau sekedar untuk direnungkan khayal yang serba abstrak. Namun semua itu diharapkan bisa diterapkan dalam diri sendiri, sehingga bisa meniru akhlak Rasulullah Saw.

Melalui Latihan dan Pengamalan

Sebagaimana diketahui, Islam adalah agama yang menuntut umatnya agar mengerjakan amal saleh yang diridhai Allah, menuntut kita supaya mengarahkan tingkah laku, naluri, dan kehidupan ini sehingga dapat mewujudkan perilaku dan akhlak yang baik. Agar perbuatan itu bisa berujung kepada amal saleh, maka dibutuhkan latihan dan pengalaman.

Islam menegaskan bahwa  ibadah  hanya  akan  diterima  jika dilaksanakan melalui ucapan dan perbuatan, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw kepada kita dan diikuti oleh para sahabat, para tabi’in, imam yang empat, dan para ulama hingga masa sekarang ini. Kedua perkara itu disatukan secara ringkas di dalam firman Allah Swt. di bawah ini:

…Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya». (QS. al-Kahfi [18] : 110)

Harus diketahui, akhlak tidak akan tumbuh tanpa diajarkan dan dibiasakan. Oleh karena itu, pengetahuan tentang akhlak selain sebagai ilmu, secara bertahap juga harus diikuti secara terus menerus bentuk pengamalannya, baik di rumah, di sekolah maupun di masyarakat.

Rasulullah dalam banyak hadisnya memberikan pelajaran melalui latihan dan pengalaman. Bagaimana beliau shalat dan wudlu langsung dipraktikkan dan para sahabat diminta untuk menirukan. Latihan dan pengalaman seperti ini bisa diterapkan di rumah atau di madrasah. Guru atau orang tua melakukan gerakan wudlu dan salat dengan sempurna, kemudian ditirukan oleh anak- anak dan murid-muridnya. Latihan dan pengalaman seperti ini bisa dikembangkan dalam perilaku dan kegiatan sehari-hari sehingga anak-anak sejak dini sudah berada dalam lingkungan yang mampu memberikan warna dan menyemaikan benih-benih akhlak yang baik. Jika ini dilakukan secara istiqamah dan terus menerus akan melahirkan suatu masyarakat yang berakhlak dan berbudi pekerti yang baik.

Melalui Ib’rah dan Mau’idah

Ibrah artinya kondisi yang memungkinkan orang bisa sampai dari pengetahuan yang kongkrit kepada pengetahuan yang abstrak. Maksudnya adalah perenungan dan tafakur. Ibrah dan i’tibar ialah suatu kondisi psikis yang menyampaikan manusia untuk mengetahui intisari sesuatu perkara yang disaksikan, diperhatikan, dan diputuskan oleh manusia secara nalar, sehingga kesimpulannya dapat mempengaruhi hati menjadi tunduk kepada-Nya kemudian mendorong untuk berperilaku yang baik.

Di dalam al-Qur’an sendiri banyak ayat-ayat yang bisa dijadikan ibrah. Di antaranya adalah melalui kisah-kisah seperti tertulis dalam firman Allah Swt. berikut ini:

Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-  kitab)  yang  sebelumnya  dan  menjelaskan  segala  sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (QS. Yusuf [12] : 111)

Kisah tentang Nabi Yusuf bisa dijadikan pelajaran Nabi Yusuf yang sempat dianiaya oleh saudaranya, lalu menjadi hamba sahaya, beliau lebih memilih penjara daripada fitnah tuannya. Hingga Allah karuniakan keberhasilan menjadi raja dengan perhiasan akhlaknya yang mulia. Ibrah juga bisa dilihat dari makhluk ciptaan   Allah dan  nikmat-nikmat-Nya. Allah berfirman:

Dan Sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya. Dan dari buah korma dan anggur, kamu buat minuman yang memabukkan dan rezeki yang baik. Sesunggguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan. (QS. an-NaZl [16] : 66-67)

Peran orang tua atau pendidik yang lain dalam hal ini adalah berusaha melatih anak-anak untuk merenungkan keajaiban yang diciptakan Allah, terutama yang ada di sekitar kita. Dengan begitu diharapkan membawa kepribadian anak-anak ke arah yang baik dengan semakin mengakui kebesaran dan kekuasaan Allah Swt.

Peningkatan kualitas akhlak melalui mau’idhah maksudnya adalah pemberian nasehat dan pengingatan akan kebaikan dan kebenaran dengan cara-cara yang baik dan menyentuh. Allah Swt. berfirman:

…Itulah yang dinasehatkan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu kepada Allah dan hari kemudian…(QS. al-Baqarah [2] : 232)

Jiwa ikhlas orang yang memberi nasehat sangat  penting bagi keberhasilan apa yang dinasihatkan. Sebab inilah yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw, dan para Rasul yang lain dalam menyampaikan risalahnya.

Selain jiwa ikhlas, hendaknya nasihat itu dilakukan secara berulang kali untuk menggerakkan orang lain melakukan perbuatan baik dan berperilaku yang baik. Saling menasihati juga diperintahkan oleh Allah dalam hidup ini.

Berangkat dari sini dapat dipahami bahwa penanaman al-h.ǎq (kebenaran) itu memang bukan tugas yang ringan. Termasuk penanaman keimanan, sekaligus yang memungkinkan munculnya akhlak yang baik, itu adalah tugas yang berat. Karena itu pelaku- pelaku yang memberi nasihat harus sabar dan tidak bosan-bosan untuk terus saling menasehati di antara sesama.

Penerapan Peningkatan Kualitas Akhlak

Setelah mempelajari berbagai metode peningkatan kualitas akhlak di atas, hal terpenting yang dilakukan selanjutnya adalah bagaimana menerapkan metode-metode tersebut dalam usaha meningkatkan kualitas akhlak dalam kehidupan. Sebab sebaik apapun metode yang ada, tanpa ada usaha untuk mempraktikkan metode itu dalam kehidupan, maka metode tersebut akan menjadi sia-sia.

Dalam perspektif Islam, anak adalah karunia sekaligus amanah yang diberikan kepada orang tua. Sebagai karunia, kelahiran anak harus disyukuri sebagai nikmat Allah yang dianugerahkan kepada manusia. Sedangkan sebagai amanah, orang tua mempunyai tanggungjawab memelihara amanah itu. Singkatnya, kelahiran anak sebagai karunia dan amanah meniscayakan perlunya pendidikan. Perlunya pendidikan melahirkan lembaga-lembaga yang berfungsi melaksanakan pendidikan, baik secara informal (keluarga), formal (pemerintah) dan nonformal (masyarakat). Ketiga lembaga atau lingkungan pendidikan tersebut merupakan tempat yang tepat dalam menerapkan metode-metode peningkatan kualitas akhlak.

Lingkungan Keluarga

Keluarga adalah lingkungan pendidikan pertama dan utama bagi anak. Seorang anak akan bisa tumbuh dan berkembang menjadi dewasa jika berada di dalam lingkungan keluarga yang dibangun berdasarkan takwa kepada Allah. Karena itu, penerapan metode peningkatan kualitas akhlak sangat penting dalam keluarga. Orang tua dalam hal ini memegang peran utama dalam menjaga anak-anaknya dari kejahatan, perilaku tercela dan dari api neraka. Allah berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. (QS at-TaZrim [66] : 6)

Peningkatan kualitas akhlak bisa dilakukan orang tua antara lain dengan cara membiasakan anak-anaknya mengingat kebesaran dan nikmat Allah, merenungi semua ciptaan-Nya agar bisa berkembang dengan baik dan senantiasa terjaga ketauhidannya. Namun hal lain yang tidak boleh dilupakan adalah keteladanan orang tua dalam beribadah dan berakhlak mulia.

Lingkungan Pendidikan Formal

Lingkungan sekolah atau madrasah atau tempat belajar yang lain merupakan lingkungan kedua setelah keluarga. Tempat ini sangat penting dalam usaha meningkatkan kualitas akhlak. Banyak kegiatan yang bisa dilakukan, mulai aktivitas belajar dan bermain sangat berpengaruh dalam ikut membentuk kepribadian anak didik. Tanggung jawab guru sangat besar dalam menerapkan berbagai metode yang tepat agar anak bisa terbimbing akhlaknya dan tetap terjaga keimanannya.

Melihat begitu pentingnya peran guru, maka seorang guru haruslah melakukan hal-hal berikut; membimbing  anak didiknya agar menyembah Allah, ikhlas, sabar dalam menjalankan tugas, jujur dalam menyampaikan apa yang diserukannya, membekali diri dengan ilmu, memahami kejiwaan dan perkembangan anak didiknya, serta mampu bersikap adil kepada anak didiknya.

Lingkungan Masyarakat

Masyarakat Islam memiliki tanggungjawab moral dalam membina akhlak. Allah menyuruh masyarakat Islam agar berbuat yang ma’ruf dan mencegah yang munkar.

Berikan Bintang Untuk Penulis

%d blogger menyukai ini: