5/5 (1) Cara Memahami Induk Induk Akhlak Terpuji

Cara Memahami Induk Induk Akhlak Terpuji – Bertemu lagi bareng kita, budisyaqier.com yang senantiasa membahas mengenai segala ilmu pengetahuan yang pastinya perlu kalian ketahui. Dan kali ini budisyaqier.com berkesempatan untuk membahas Cara Memahami Induk Induk Akhlak Terpuji. Mari langsung saja simak baik-baik ulasan di bawah.

Induk-Induk Akhlak Terpuji

Seorang muslim seharusnya menghiasi diri dengan akhlak terpuji (mah.mudah). Adapun akhlak terpuji yang harus dimiiliki oleh seorang muslim antara lain:

  1. Berani dalam segala hal yang positif
  2. Adil dan bijaksana dalam menghadapi dan memutuskan sesuatu;
  3. Mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan diri sendiri;
  4. Pemurah dan suka menafkahkan hartanya, baik pada waktu lapang maupun susah;
  5. Ikhlas dalam melaksanakan setiap amal perbuatan semata-mata karena Allah ;
  6. Cepat bertobat dan meminta ampun kepada Tuhan jika melakukan suatu dosa;
  7. Jujur, benar dan amanah;
  8. Tenang dalam menghadapi berbagai masalah, tidak berkeluh kesah, dan tidak gundah gulana;
  9. Sabar dalam menghadapi setiap cobaan atau melaksanakan kewajiban ibadah kepada Tuhan;
  10. Pemaaf, penuh kasih sayang, lapang hati dan tidak membalas dendam;
  11. Selalu optimis dalam menghadapi kehidupan dan penuh harap kepada Allah ;
  12. Iffah, menjaga diri dari sesuatu yang dapat merusak kehormatan dan kesucian;
  13. Al-h.ayǎ’ yakni malu melakukan perbuatan yang tidak baik;
  14. Tawad.u’ (rendah hati);
  15. Mengutamakan perdamaian daripada permusuhan;
  16. Zuhud dan tidak rakus terhadap kehidupan duniawi;
  17. Rida atas segala ketentuan yang ditetapkan Allah ;
  18. Baik terhadap teman, sahabat, dan siapa saja yang terkait dengannya;
  19. Bersyukur atas segala nikmat yang diberikan atau musibah yang dijatuhkan
  20. Berterima kasih kepada sesama umat manusia;
  21. Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan;
  22. Bertawakal setelah segala usaha dilaksanakan dengan sebaik-baiknya;
  23. Dinamis sampai tujuan dan cita-cita tercapai;
  24. Murah senyum dan menampilkan wajah yang ceria kepada sesama
  25. Menjauhi sifat iri hati dan dengki;
  26. Rela berkorban untuk kemaslahatan umat manusia dan dalam membela agama

Secara khusus dalam bab ini akan dibahas mengenai hikmah, iffah, syaja’ah dan ‘adalah

Menggali Hikmah Kehidupan

Pengertian Hikmah dan Ruang Lingkupnya

Secara   bahasa   al-h.ikmah   berarti:   kebijaksanaan,    pendapat atau pikiran yang bagus, pengetahuan, filsafat, kenabian, keadilan, peribahasa (kata-kata bijak), dan al-Qur’an. Menurut Al-Maraghi dalam kitab Tafsirnya, menjelaskan al-Hikmah sebagai perkataan yang tepat lagi tegas yang diikuti dengan dalil-dalil yang dapat menyingkap kebenaran. Sedangkan menurut Toha Jahja Omar; hikmah adalah bijaksana, artinya meletakkan sesuatu pada tempatnya, dan kitalah yang harus berpikir, berusaha, menyusun, mengatur cara-cara dengan menyesuaikan kepada keadaan dan zaman, asal tidak bertentangan dengan hal-hal yang dilarang oleh Allah sebagaimana dalam ketentuan hukum-Nya. Dalam kata al-hikmah terdapat makna pencegahan, dan ini meliputi beberapa makna, yaitu:

  • Adil akan mencegah pelakunya dari terjerumus ke dalam
  • H.ilm akan mencegah pelakunya dari terjerumus ke dalam
  • Ilmu akan mencegah pelakunya dari terjerumus ke dalam
  • Nubuwwah, seorang Nabi tidak lain diutus untuk mencegah manusia dari menyembah selain Allah, dan dari terjerumus kedalam kemaksiatan serta perbuatan al-Qur’an dan seluruh kitab samawiyyah diturunkan oleh Allah agar manusia terhindar dari syirik, mungkar, dan perbuatan buruk.

Anjuran Memiliki Hikmah

Hikmah itu adalah Setiap perkataan yang benar dan menyebabkan perbuatan yang benar. Hikmah ialah: ilmu yang bermanfaat  dan amal shaleh, kebenaran dalam perbuatan dan perkataan, mengetahui kebenaran dan mengamalkanya.

Tidaklah cukup dalam mengamalkan ajaran agama hanya dengan al-Qur’an saja tanpa dengan al-Hikmah yang  berarti  as-sunnah  atau pemahaman yang benar tentang al-Qur’an, karena itulah as- sunnah juga disebut sebagai al-hikmah. Orang yang dianugerahi al-hikmah adalah: Orang yang mempunyai ilmu mendalam dan mampu mengamalkannya secara nyata dalam kehidupan. Orang yang benar dalam perkataan dan perbuatan. Orang yang menempatkan sesuatu sesuai pada tempatnya (adil). Orang yang mampu memahami dan menerapkan hukum Allah Swt. Setelah seseorang mendapatkan hikmah, maka baginya wajib untuk menyampaikan atau mendakwahkannya sesuai dengan firman Allah :

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. An-Nahl [16] : 125)

Hikmah dalam berdakwah tidak terbatas pada makna: perkataan yang lemah lembut, pemberian motivasi, hilm ( tidak cepat emosi dan tidak bersikap masa bodoh), halus ataupun pemaaf. Namun, hikmah juga mencakup pemahaman yang mendalam tentang berbagai perkara berikut hukum-hukumnya, sehingga dapat menempatkan seluruh perkara tersebut pada tempatnya, yaitu

  • Dapat menempatkan perkataan yang bijak, pengajaran, serta pendidikan sesuai dengan tempatnya. Berkata dan berbuat secara tepat dan benar
  • Dapat memberi nasihat pada tempatnya
  • Dapat menempatkan mujadalah (dialog) yang baik pada
  • Dapat menempatkan sikap tegas
  • Memberikan hak setiap sesuatu, tidak berkurang dan tidak berlebih, tidak lebih cepat ataupun lebih lambat dari waktu yang dibutuhkannya

Keutamaan Hikmah

  • memiliki rasa percaya diri yang tinggi dalam melaksanakan dan membela kebenaran ataupun keadilan,
  • menjadikan ilmu pengetahuan sebagai bekal utama yang terus dikembangkan,
  • mampuberkomunikasidengaoranglaindenganberagampendekatan dan bahasan,
  • memiliki semangat juang yang tinggi untuk mensyiarkan kebenaran dengan beramar makruf nahi munkar,
  • senantisa berpikir positif untuk mencari solusi dari semua persoalan yang dihadapi,
  • memiliki daya penalaran yang obyektif dan otentik dalam semua bidang kehidupan,
  • orang-orang yang dalam perkataan dan perbuatannya senantiasa selaras dengan sunnah Rasulullah

Membiasakan Sikap Iffah

Pengertian Iffah

Secara etimologis, ‘iffah adalah bentuk masdar dari affa-ya’iffu- ‘iffah yang berarti menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak baik,  iffah juga berarti kesucian tubuh. Secara terminologis, iffah adalah memelihara kehormatan diri dari segala hal yang akan merendahkan, merusak dan menjatuhkannya.

Iffah (al-iffah) juga dapat dimaknai sebagai usaha untuk memelihara kesucian diri (al-iffah) adalah menjaga diri dari segala tuduhan, fitnah, dan memelihara kehormatan.

Iffah Dalam Kehidupan

iffah hendaklah dilakukan setiap waktu agar tetap berada dalam keadaan kesucian. Hal ini dapat dilakukan dimulai memelihara hati (qalbu) untuk tidak membuat rencana dan angan-angan yang buruk.

Keutamaan Iffah

Dengan  demikian,  seorang  yang  ‘afif  adalah  orang  yang bisa menahan diri dari perkara-perkara yang dihalalkan ataupun diharamkan walaupun jiwanya cenderung kepada perkara tersebut dan menginginkannya. Sebagaimana sabda Rasulullah:.

Artinya; “Apa yang ada padaku dari kebaikan (harta) tidak ada yang aku simpan dari kalian. Sesungguhnya siapa yang menahan diri dari meminta-minta maka Allah akan memelihara dan menjaganya, dan siapa yang menyabarkan dirinya dari meminta-minta maka Allah akan menjadikannya sabar. Dan siapa yang merasa cukup dengan Allah dari meminta kepada selain-Nya maka Allah akan memberikan kecukupan padanya. Tidaklah kalian diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Agar seorang mukmin memiliki sikap iffah, maka harus melakukan usaha-usaha untuk membimbing jiwanya dengan melakukan dua hal berikut:

  • Memalingkan jiwanya dari ketergantungan kepada makhluk dengan menjaga kehormatan diri sehingga tidak berharap mendapatkan apa yang ada di tangan mereka, hingga ia tidak meminta kepada makhluk, baik secara lisan (lisǎnul maqal) maupun keadaan (lisanul h.ǎl).
  • MerasacukupdenganAllah,percayadenganpencukupan-Nya.Siapa yang bertawakal kepada Allah, pasti Allah akan mencukupinya. Allah itu mengikuti persangkaan baik hamba-Nya. Bila hamba menyangka baik, ia akan beroleh kebaikan. Sebaliknya, bila ia bersangka selain kebaikan, ia pun akan memperoleh apa yang disangkanya.

Untuk mengembangkan sikap ‘iffah ini, maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan dan dilakukan oleh seorang muslim untuk menjaga kehormatan diri, di antaranya:

  • Selalu mengendalikan dan membawa diri agar tetap menegakan sunnah Rasulullah,
  • Senantiasa mempertimbangkan teman bergaul dengan teman yang jelas akhlaknya,
  • Selalau mengontroldiridalamurusanmakan, minumdanberpakaian secara Islami,
  • Selalu menjaga kehalalan makanan, minuman dan rizki yang diperolehnya,
  • Menundukkan pandangan mata (ghadul bashar) dan menjaga kemaluannya,
  • Tidak khalwat (berduaan) dengan lelaki atau perempuan yang bukan mahramnya,
  • Senantiasa menjauh diri dari hal-hal yang dapat mengundang fitnah.

 

Iffah merupakan akhlak paling tinggi dan dicintai Allah Swt. Oleh sebab itulah sifat ini perlu dilatih sejak anak-anak masih kecil, sehingga memiliki kemampuan dan daya tahan terhadap keinginan- keinginan yang tidak semua harus dituruti karena akan membahayakan saat telah dewasa. Dari sifat ’iffah akan lahir sifat-sifat mulia seperti: sabar, qana’ah, jujur, santun, dan akhlak terpuji lainnya.

Ketika sifat ’iffah ini sudah hilang dari dalam diri seseorang, akan membawa pengaruh buruk dalam diri seseorang, akal sehat akan tertutup oleh nafsu syahwatnya, ia sudah tidak mampu lagi membedakan mana yang benar dan salah, mana baik dan buruk, yang halal dan haram.

Mengembangkan Sikap Syaja’ah

Pengertian Syaja’ah

Secara etimologi kata al-syaja’ah berarti berani antonimnya  dari kata al-jabn yang berarti pengecut. Kata ini digunakan untuk menggambarkan kesabaran di medan perang. Sisi positif dari sikap berani yaitu mendorong seorang muslim untuk melakukan pekerjaan berat dan mengandung resiko dalam rangka membela kehormatannya. Tetapi sikap ini bila tidak digunakan sebagaimana mestinya menjerumuskan seorang muslim kepada kehinaan.

Syaja’ah dalam kamus bahasa Arab artinya keberanian atau keperwiraan, yaitu seseorang yang dapat bersabar terhadap sesuatu jika dalamjiwanyaadakeberanianmenerimamusibahataukeberaniandalam mengerjakan sesuatu. Pada diri seorang pengecut sukar didapatkan sikap sabar dan berani. Selain itu Syaja’ah (berani) bukanlah semata- mata berani berkelahi di medan laga, melainkan suatu sikap mental seseorang, dapat menguasai jiwanya dan berbuat menurut semestinya.

Penerapan Syaja’ah Dalam Kehidupan

Sumber keberanian yang dimiliki seseorang diantaranya yaitu;

  • Rasa takut kepada Allah
  • Lebih mencintai akhirat daripada dunia,
  • Tidak ragu-ragu, berani dengan pertimbangan yang matang
  • Tidak menomori satukan kekuatan materi,
  • Tawakal dan yakin akan pertolongan Allah,

Jadi berani adalah: “Sikap dewasa dalam menghadapi kesulitan atau bahaya ketika mengancam. Orang yang melihat kejahatan, dan khawatir terkena dampaknya, kemudian menentang maka itulah pemberani. Orang yang berbuat maksimal sesuai statusnya itulah pemberani (al-syujja’). Al-syajja’ah (berani) bukan sinonim ‘adam al-khauf (tidak takut sama sekali)”

Berdasarkan pengertian yang ada di atas, dipahami bahwa berani terhadap sesuatu bukan berarti hilangnya rasa takut menghadapinya. Keberanian dinilai dari tindakan yang berorientasi kepada aspek maslahat dan tanggung jawab dan berdasarkan pertimbangan maslahat.

Predikat pemberani bukan hanya diperuntukkan kepada pahlawan yang berjuang di medan perang. Setiap profesi dikategorikan berani apabila mampu menjalankan tugas dan kewajibannya secara bertanggungjawab. Kepala keluarga dikategorikan berani apabila mampu menjalankan tanggungjawabnya secara maksimal, pegawai dikatakan berani apabila mampu menjalankan tugasnya secara baik, dan seterus nya.

Keberanian terbagi kepada terpuji (al-mah.mudah) dan tercela (al-madzmumah). Keberanian yang terpuji adalah yang mendorong berbuat maksimal dalam setiap peranan yang diemban, dan inilah hakikat pahlawan sejati. Sedangkan berani yang tercela adalah apabila mendorong berbuat tanpa perhitungan dan tidak tepat penggunaannya.

Syaja’ah dapat dibagi menjadi dua macam:

  • Syaja’ah harbiyah, yaitu keberanian yang kelihatan atau tampak, misalnya keberanian dalam medan tempur di waktu
  • Syaja’ah nafsiyah, yaitu keberanian menghadapi bahaya atau penderitaan dan menegakkan

Munculnya sikap syaja’ah tidak terlepas dari keadaan-keadaan sebagai berikut:

  • Berani membenarkan yang benar dan berani mengingatkan yang
  • Berani membela hak milik, jiwa dan raga, dalam
  • Berani membela kesucian agama dan kehormatan bangsa. Dari dua macam syaja’ah (keberanian) tersebut di atas, maka syaja’ah dapat dituangkan dalam beberapa bentuk, yakni:
    1. Memiliki daya tahan yang besar untuk menghadapi kesulitan, penderitaan dan mungkin saja bahaya dan penyiksaan karena ia berada di jalan Allah.
    2. Berterus terang dalam kebenaran dan berkata benar di hadapan penguasa yang zalim
    3. Mampu menyimpan rahasia, bekerja dengan baik, cermat dan penuh perhitungan. Kemampuan merencanakan dan mengatur strategi termasuk di dalamnya mampu menyimpan rahasia adalah merupakan bentuk keberanian yang bertanggung jawab.
    4. Berani mengakui kesalahan salah satu orang yang memiliki sifat pengecut yang tidak mau mengakui kesalahan dan mencari kambing hitam, bersikap ”lempar batu sembunyi tangan” Orang yang memiliki sifat syaja’ah berani mengakui kesalahan, mau meminta maaf, bersedia mengoreksi kesalahan dan bertanggung jawab.
    5. Bersikap obyektif terhadap diri Ada orang yang cenderung bersikap “over confidence” terhadap dirinya, menganggap dirinya baik, hebat, mumpuni dan tidak memiliki kelemahan serta kekurangan. Sebaliknya ada yang bersikap “under estimate” terhadap dirinya yakni menganggap dirinya bodoh, tidak mampu berbuat apa-apa dan tidak memiliki kelebihan apapun. Kedua sikap tersebut jelas tidak proporsional dan tidak obyektif. Orang yang berani akan bersikap obyektif, dalam mengenali dirinya yang memiliki sisi baik dan buruk.
    6. Menahan nafsu di saat marah, seseorang dikatakan berani bila ia tetap mampu ber–mujahadah li nafsi, melawan nafsu dan amarah. Kemudian ia tetap dapat mengendalikan diri dan menahan tangannya padahal ia punya kemampuan dan peluang untuk melampiaskan amarahnya.

Hikmah Syaja’ah

Dalam ajaran agama Islam sifat perwira ini sangat di anjurkan untuk di miliki setiap muslim, sebab selain merupakan sifat terpuji juga dapat mendatangkan berbagai kebaikan bagi kehidupan beragama berbangsa dan bernegara.

Syaja’ah (perwira) akan menimbulkan hikmah dalam bentuk sifat mulia, cepat, tanggap, perkasa, memaafkan, tangguh, menahan amarah, tenang, mencintai. Akan tetapi apabila seorang terlalu dominan keberaniannya, apabila tidak dikontrol dengan kecerdasan dan keikhlasan akan dapat memunculkan sifat ceroboh, takabur, meremehkan orang lain, unggul-unggulan, ujub. Sebaliknya jika seorang mukmin kurang syaja’ah, maka akan dapat memunculkan sifat rendah diri, cemas, kecewa, kecil hati dan sebagainya.

Menegakan Sikap Adalah

Pengertian

Pengertian adil menurut bahasa adalah sebagai berikut. Meletakkan sesuatu pada tempatnya

 Adil juga berarti tidak berat sebelah, tidak memihak, atau menyamakan yang satu dengan yang lain.Berlaku adil adalah memperlakukan hak dan kewajiban secara seimbang, tidak memihak, dan tidak merugikan pihak mana pun. Adil dapat berarti tidak berat sebelah serta berarti sepatutnya, tidak sewenang-wenang.

Jamil Shaliba, penulis kamus Filsafat Arab, mengatakan bahwa, menurut bahasa adil berarti al-Istiqamah yang berarti tetap pada pendirian, sedangkan dalam syari’at adil berarti tetap dalam pendirian dalam mengikuti jalan yang benar serta menjauhi perbuatan yang dilarang serta kemampuan akal dalam menundukkan hawa nafsu. Sebagaimana firman di bawah ini.

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan  Allah  melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil  pelajaran.  (QS. an-NaZl [16] : 90)

Bentuk-Bentuk Adil

  1. Adil terhadap Allah, artinya menempatkan Allah pada tempatnya yang benar, yakni sebagai makhluk Allah dengan teguh melaksanakan apa yang diwajibkan kepada kita, Sehingga benar-benar Allah sebagai Tuhan Kita.
  2. Adil terhadap diri sendiri, yaitu menempatkan diri pribadi pada tempat yang baik dan Untuk itu kita harus teguh, kukuh menempatkan diri kita agar tetap terjaga dan terpelihara dalam kebaikan dan keselamatan. Untuk mewujudkan hal tersebut kita harus memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani serta menghindari segala perbuatan yang dapat mencelakakan diri.
  3. Adil terhadap orang lain, yakni menempatkan orang lain pada tempatnya yang sesuai, layak, dan Kita harus memberikan hak orang lain dengan jujur dan benar tidak mengurangi sedikitpun hak yang harus diterimanya.
  4. Adil terhadap makhluk lain, artinya dapat menempatkan makhluk lain pada tempatnya yang sesuai, misalnya adil kepada binatang, harus menempatkannya pada tempat yang layak menurut kebiasaan binatang tersebut.

Kedudukan dan Keutamaan Adil

  1. Terciptanya rasa aman dan tentram karena semua telah merasa diperlakukan dengan adil
  2. Membentuk pribadi yang melaksanakan kewajiban dengan baik
  3. Menciptakan kerukunan dan kedamaian
  4. Alangkahbahagianyaapabila keadilan bisa ditegakkan demi masyarakat, bangsa dan negara, agar masyarakat merasa tentram dan damai lahir dan batin.
  5. Begitu mulianya orang yang berbuat adil sehingga Allah tidak akan menolak doanya. Demikian pula Allah sangat mengasihi orang yang dizalimi (tidak diperlakukan secara adil) sehingga Allah tidak akan menolak doanya.

Berikan Bintang Untuk Penulis

%d blogger menyukai ini: