Biografi Usman bin Affan

BIOGRAFI USMAN BIN AFFAN – Bertemu lagi bareng kita, budisyaqier.com yang senantiasa membahas mengenai segala ilmu pengetahuan yang pastinya perlu kalian ketahui. Dan kali ini budisyaqier.com berkesempatan untuk membahas BIOGRAFI USMAN BIN AFFAN. Mari langsung saja simak baik-baik ulasan di bawah.

Biografi

Usman bin Affan lahir pada 574 M golongan Bani Umayyah. Nama beliau ra. adalah ’Usman bin ’Affan bin al-’Ash bin Umayyah bin Abdus Syams bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib, al-Quraisyi al-Umawi al- Makki. Nama ibunya adalah Arwa binti Kuriz bin Rabiah.

Usman bin Affan berasal dari suku Umayyah bin Abdu Syams bin Abdu Manaf. Adalah sahabat Nabi Rasulullah Saw., yang termasuk Khulafaur Rasyidin yang ke-3. Usman adalah seorang saudagar yang kaya tetapi sangatlah dermawan. Ia juga berjasa dalam hal membukukan Al-Quran. Usman bin Affan adalah khalifah ketiga yang memerintah dari tahun 644 (umur 69/70 tahun) hingga 656 (selama 11/12 tahun). Selain itu sahabat Nabi yang satu ini memiliki sifat yang sangat pemalu dikenal sebagai pedagang kaya raya dan ekonom yang handal namun sangat dermawan. Banyak bantuan ekonomi yang diberikan kepada umat Islam di awal dakwah Islam.

Usman bin Affan menikah dengan Ruqayyah puteri Rasulullah Saw., yang meninggal saat sebelum Perang Badar terjadi, sehingga ’Usman bin Affan tidak ikut perang Badar ini karena merawat Ruqayyah (namun ’Usman ra. tetap mendapat pahala Perang Badar). Kemudian Rasulullah Saw., menikahkan puteri beliau yang lain yakni Ummu Kultsum, dari peristiwa ini sehingga ’Usman bin Affan mendapat gelar Dzunnurain yang berarti yang memiliki dua cahaya.

Usman bin Affan masuk Islam atas ajakan Abu Bakar dan termasuk golongan As-Sabiqun Awwalun (golongan pertama yang masuk Islam). Rasulullah Saw., sendiri menggambarkan Usman bin Affan sebagai pribadi yang paling jujur dan rendah hati di antara kaum Muslimin.

Pada saat seruan hijrah pertama oleh Rasulullah Saw., ke Habbasyiah karena meningkatnya tekanan kaum Quraisy terhadap umat Islam, Usman bin Affan bersama istri dan kaum Muslimin lainnya memenuhi seruan tersebut dan hijrah ke Habasyiah hingga tekanan dari kaum Quraisy reda. Tak lama tinggal di Mekkah, Usman bin Affan mengikuti Rasulullah Saw., untuk hijrah ke Madinah. Pada peristiwa Hudaibiyah, Usman dikirim untuk menemui Abu Sufyan di Mekkah. Usman bin Affan diperintahkan Nabi untuk menegaskan bahwa rombongan dari Madinah hanya akan beribadah di Ka’bah,  lalu segera kembali ke Madinah, bukan untuk memerangi penduduk Mekkah.

Pada saat Perang Dzatirriqa dan Perang Ghatfahan berkecamuk, di mana Rasulullah Saw., memimpin perang, Usman bin Affan dipercaya menjabat walikota Madinah. Saat Perang Tabuk, Usman mendermakan 1000 ekor unta dan 70 ekor kuda, ditambah 1000 Dirham sumbangan pribadi untuk perang Tabuk, nilainya sama dengan sepertiga biaya perang tersebut. Usman bin Affan juga menunjukkan kedermawanannya tatkala membeli mata air yang bernama Rummah dari seorang lelaki suku Ghifar seharga 35.000 Dirham. Mata air itu ia wakafkan untuk kepentingan rakyat umum. Pada masa pemerintahan Abu Bakar, Usman bin Affan juga pernah memberikan gandum yang diangkut dengan 1000 unta untuk membantu kaum miskin yang menderita di musim kering.

Menjadi Khalifah

Setelah Umar bin Khattab wafat, diadakanlah musyawarah untuk memilih khalifah selanjutnya. Ada enam orang kandidat khalifah yang diusulkan yaitu Ali bin Abi Thalib, Usman bin Affan,Abdul Rahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqas, Zubair bin Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah. Selanjutnya Abdul Rahman bin Auff, Sa’ad bin Abi Waqas, Zubair bin Awwam, dan Thalhah bin Ubaidillah mengundurkan diri sehingga calonnya hanya Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib yang tertinggal. Suara masyarakat pada saat itu cenderung memilih Usman bin Affan menjadi khalifah ketiga. Maka diangkatlah Usman yang berumur 70 tahun menjadi khalifah ketiga dan yang tertua, serta yang pertama dipilih dari beberapa calon. Peristiwa ini terjadi pada bulan Muharram 24 H. Usman menjadi khalifah di saat pemerintah Islam telah betul-betul mapan dan terstruktur. Jadi, Usman bin Affan menjabat sebagai khalifah berdasarkan kesepakatan ahli Syura.

Selama masa jabatannya, Usman bin Affan banyak mengganti  gubernur  wilayah yang tidak cocok atau kurang cakap dan menggantikaannya dengan orang-orang yang lebih kredibel. Namun hal ini banyak membuat sakit hati pejabat yang diturunkan sehingga mereka bersekongkol untuk membunuh khalifah. Usman bin Affan mengangkat para kerabatnya dari bani Umaiyyah menduduki berbagai jabatan. Kebijakan ini mengakibatkan dipecatnya sejumlah sahabat dari berbagai jabatan mereka dan digantikan orang yang diutamakan dari kerabatnya.

Di tahun 25 Hijriah, Usman bin Affan memecat Sa’ad bin Abi Waqqash dari jabatan gubernur Kufah dan sebagai gantinya diangkatlah Walid bin Uqbah bin Abi Mu’ith (seorang shahabat dan saudara seibu dengan Usman bin Affan). Inilah sebab pertama dituduhnya Usman bin Affan melakukan nepotisme.

Kebijakan ini mengakibatkan rasa tidak senang banyak orang terhadap Usman bin Affan. Hal inilah yang dijadikan pemicu dan sandaran orang Yahudi yaitu Abdullah bin Saba’ dan teman-temannya untuk membangkitkan fitnah.

Ibnu Katsir meriwayatkan bahwa penduduk Kufah umumnya melakukan pemberontakan dan konspirasi terhadap Sa’id bin ‘Ash, pemimpin Kufah. Mereka kemudian mengirim utusan kepada Usman bin Affan  guna  menggugat  kebijakannya dan alasan pemecatan sejumlah orang dari bani Umayyah. Dalam pertemuan ini, utusan tersebut berbicara kepada Usman bin Affan dengan bahasa yang kasar sekali sehingga membuat dadanya sesak. Beliau lalu memanggil semua pimpinan pasukan untuk dimintai pendapatnya.

Akhirnya, berkumpullah di hadapannya, Mu’awiyah bin Abu Sufyan (pemimpin negeri Syam), Amr bin al-Ash (pemimpin negeri Mesir), Abduliah bin Sa’ad bin Abi Sarh (pemimpin negeri Maghrib), Sa’id bin ‘Ash (pemimpin negeri Kufah), dan  Abdullah bin Amir (pemimpin negeri Bashrah). Kepada mereka, Usman bin Affan meminta pandangan mengenai peristiwa yang terjadi dan perpecahan yang muncul, masing-masing dari mereka kemudian mengemukakan pendapat dan pandangannya. Setelah mendengar berbagai pandangan dan mendiskusikannya, akhirnya Usman bin Affan memutuskan untuk tidak melakukan penggantian para gubernur dan pembantunya.

Prestasi Besar

Pembebasan dan Perluasan Wilayah

Pada periode ini, seluruh Khurasan berhasil ditaklukkan. Demikian pula Afrika sampai Andalusia. Negeri-negeri Khurasan ditaklukkan pada tahun ke-30 Hijriah sehingga banyak terkumpul infaq penghasilan dan harta dari berbagai penjuru. Allah memberikan karunia yang melimpah dari semua negeri kepada kaum Muslimin.

Pada ttahun 32 Hijriah, Abbas bin Abdul Muththalib, Abdurrahman bin Auf, Abdullah bin Mas’ud, dan Abu Darda’ wafat. Orang -orang yang pernah menjabat sebagai hakim negeri Syam sampai saat itu ialah Mu’awiyah, Abu Dzar bin Jundab bin Junadah al- Ghiffari, dan Zaid bin Abdullah. Pada tahun ke-33 Hijriah, Abdullah bin Mas’ud bin Abi Sarh menyerbu Habasyah.

Pembukuan atau Kodifikasi Al Quran

Jasanya yang paling besar adalah saat mengeluarkan kebijakan untuk mengumpulkan Al Quran dalam satu mushaf. Pada masa pemerintahan Usman bin Affan terjadi perluasan wilayah Islam di luar Jazirah Arab sehingga menyebabkan umat Islam bukan hanya terdiri dari bangsa Arab saja (‘Ajamy). Kondisi ini tentunya memiliki dampak positif dan negatif. Salah satu dampaknya adalah ketika mereka membaca Al-Quran, karena bahasa asli mereka bukan bahasa Arab. Fenomena ini ditangkap dan ditanggapi secara cerdas oleh salah seorang sahabat yang juga sebagai panglima perang pasukan Muslim yang bernama Hudzaifah bin Al-Yaman.

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Anas r.a. bahwa suatu saat Hudzaifah yang pada waktu itu memimpin pasukan muslim untuk wilayah Syam (sekarang Syiria) mendapat misi untuk menaklukkan Armenia, Azerbaijan dan Irak menghadap Usman bin Affan dan menyampaikan kepadanya atas realitas yang terjadi di mana terdapat perbedaan bacaan Al Quran yang mengarah kepada perselisihan. Ia berkata : “Wahai Usman, cobalah lihat rakyatmu, mereka berselisih gara-gara bacaan Al-Quran, jangan sampai mereka terus menerus berselisih sehingga menyerupai kaum Yahudi dan Nasrani “.

Lalu Usman bin Affan meminta Hafsah meminjamkan Mushaf yang dipegangnya untuk disalin oleh panitia yang telah dibentuk oleh Usman bin Affan yang anggotanya terdiri dari para sahabat di antaranya Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Sa’id bin al- ’Ash, Abdurrahman bin Al-Haris dan lain-lain.

Kodifikasi dan penyalinan kembali Mushaf Al-Quran ini terjadi pada tahun 25 H, Usman bin Affan berpesan apabila terjadi perbedaan dalam pelafalan agar mengacu pada logat bahasa suku Quraisy karena Al-Quran diturunkan dengan gaya bahasa mereka. Setelah panitia selesai menyalin mushaf, mushaf Abu bakar dikembalikan lagi kepada Hafsah. Selanjutnya Usman bin Affan memerintahkan untuk membakar setiap naskah- naskah dan manuskrip Al-Quran selain mushaf hasil salinannya yang berjumlah 6 Mushaf.

Mushaf hasil salinan tersebut dikirimkan ke kota-kota besar yaitu Kufah, Basrah, Mesir, Syam dan Yaman. Usman menyimpan satu mushaf untuk ia simpan di Madinah yang belakangan dikenal sebagai mushaf Al-Imam. Tindakan Usman bin Affan untuk menyalin dan menyatukan mushaf berhasil meredam perselisihan di kalangan umat Islam sehingga ia menuai pujian dari umat Islam baik dari dulu sampai sekarang sebagaimana khalifah pendahulunya Abu Bakar yang telah berjasa mengumpulkan Al Quran. Adapun tulisan yang dipakai oleh panitia yang dibentuk Usman untuk menyalin Mushaf adalah berpegang pada Rasm Al-Anbaṭ tanpa harakat atau Syakl (tanda baca) dan Nuqath (titik sebagai pembeda huruf).

Perluasan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi

Usman bin Affan adalah khalifah kali pertama yang melakukan perluasan Masjid al- Haram (Mekkah) dan masjid Nabawi (Madinah) karena semakin ramai umat Islam yang menjalankan ibadah Haji.

Pada tahun 26 Hijriah, Usman bin Affan melakukan perluasan Masjidil Haram dengan membeli sejumlah tempat dari para  pemiliknya  lalu  disatukan  dengan  masjid. Tahun 29 Hijriah, negeri-negeri lain berhasil ditaklukkan. Pada tahun ini, Usman bin Affan memperluas masjid Madinah dan membangunnya dengan batu-batu berukir. Ia membuat tiangnya dari batu dan atapnya dari kayu.

Pembentukan Angkatan Laut

Ide atau gagasan untuk membuat sebuah armada laut Islam sebenarnya telah ada sejak masa kekhalifahan Umar bin khattab namun beliau menolaknya lantaran khawatir akan membebani kaum Muslimin pada saat itu. Setelah kekhalifahan berpindah tangan pada Usman bin Affan maka gagasan itu diangkat kembali ke permukaan dan berhasil menjadi kesepakatan bahwa kaum muslimin memang harus ada yang mengarungi lautan meskipn khalifah mengajukan syarat untuk tidak memaksa seorangpun kecuali dengan sukarela. Berkat armada laut ini wilayah Islam bertambah luas setelah menaklukkan  pulau Cyprus meski harus melewati peperangan yang melelahkan.

Usman bin Affan juga mencetuskan ide polisi keamanan bagi rakyatnya; membuat bangunan khusus untuk mahkamah dan mengadili perkara yang sebelumnya dilakukan   di masjid; membangun pertanian, menaklukan Syiria, Afrika Utara, Persia, Khurasan, Palestina, Siprus, Rodhes, dan juga membentuk angkatan laut yang kuat.

Sebab Timbulnya Pemberontakan

Usman bin Affan berasal dari keluarga Umayyah, suatu keluarga yang besar. Banyak anggota keluarga ini yang mempunyai kedudukan tinggi dalam kehidupan bangsa Arab sebelum dan pada masa Islam. Usman adalah seorang yang kaya raya lagi pemurah dan berkehidupan makmur. Kekayaannya cukup untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan ada pula yang dapat diberikannya kepada fakir miskin.

Kekayaan pribadinya habis digunakan untuk keperluan derma. Perasaan suka memberi yang tiada batas ini masih bersemi didalam jiwanya. Ketika inilah beliau mendapat kecaman dalam mempergunakan uang Baitul Mal. Harta Baitul Mal itu dipakai untuk pribadinya dan ada pula yang diberikannya untuk kaum kerabatnya. Seakan-akan beliau tidak sadar bahwa harta Baitul Mal itu adalah kepunyaan kaum Muslimin.

Keadaan yang buruk ini tidak hendak dibiarkan demikian saja. Negara yang lemah terhuyung-huyung itu tidak dibiarkan jatuh terjerembab. Dan menyingsing fajar tahun yang ketujuh dari pemerintah Usman, maka bangkitlah para sahabat terkemuka untuk memberi nasihat kepada khalifah yang telah tua itu, supaya beristirahat atau mengundurkan diri. Tetapi Usman bin Affan salah terima dan menjawab. “Kenapa Aku akan menanggalkan pakaian yang telah dipakaikan kepada  Tuhan-Ku”.  Akibat  hal  ini,  kebencian  rakyat tak dapat dihentikan lagi. Meletus dari simpanan hati mereka, mengakibatkan menjadi kegentingan dan pemberontakan-pemberontakan. Banyak kaum Muslimin yang telah meninggalkan Usman bin Affan. Hilanglah kawan-kawannya dan orang-orang yang menjadi tempat menumpahkan kepercayaannya, kecuali kaum kerabatnya.

Akhirnya mencetuslah pemberontakan di Kufah, Basrah dan Mesir. Segala perasaan yang tersimpan di dalam hati, mereka keluarkan dan mereka teriak-teriakkan. Beberapa orang pembesar yang berdiri di belakang pemberontak  ikut  mengecam  tindakan  Usman. Tampillah Abdullah bin Saba’ seorang yang mengaku Islam dari orang Yahudi. Ia dapat merangkul dari beberapa sahabat. Pikiran dan sahabat-sahabat besar itu dapat dipergunakan untuk memperkuat hujatannya. Para sahabat tersebut antara lain ialah Abu Zar Al-Ghifari, Ammar bin Yasir dan Abdullah bin Mas’ud

Sesungguhnya pemberontakan yang dilakukan Abdullah bin Saba’ itu bukan dengan maksud untuk memperbaiki keadaan yang telah buruk dan rusak. Sebagai seorang Yahudi dia memasuki agama Islam tidak dengan jujur dan sepenuh hati. Ia tidak menginginkan adanya kebaikan-kebaikan dalam Islam dan kaum Muslimin. Sudah lama ia mencari kesempatan hendak mengadakan hura-hura. Sekarang kesempatan itu terbuka dan telah  di tangannya pula akan dipergunakan sebaik-baiknya. Sesungguhnya setiap orang dapat berbuat salah dan khilaf. Karena kedua sifat itu tidak dapat dihindari oleh setiap orang. Kesalahan dan kekhilafan itu pasti akan dapat diperbaiki bilamana ada kemauan dan maksud baik untuk itu. Tetapi Abdullah bin Saba’tidak bermaksud untuk memperbaikinya. Hatinya gembira menemui kesalahan-kesalahan Usman bin Affan.

Kesempatan yang dipergunakan Abdullah bin Saba’ ini berhasil. Pertama-tama dihidupkan suatu aliran dan dipropagandakan sehingga banyak mendapat pengikut terutama kepada pencinta Ali bin Abi Thalib yang selama ini ditekan oleh keluarga Umayyah. Aliran yang dipropaganda itu, ialah aliran yang terkenal dalam sejarah dengan sebutan “Mazhab Wishayah”. Dinyatakan bahwa ada wasiat dari Rasulullah Saw., untuk menjadikan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah sesudah beliau wafat. Sebab sudah biasanya Nabi mengadakan wasiat serupa itu menentukan khalifah dibelakangnya.

Abdullah bin Saba’ bekerja membangkitkan keraguan dan dikumpulkan pengikutnya, begitu juga orang yang membenci Usman. Kemudian orang yang memberontak itu menyerbu Madinah. Hanya beberapa orang pemuda Islam yang tampil mempertaruhkan dirinya, berdiri di muka pintu Usman bin Affan untuk melindungi dan membela beliau, tetapi pemuda itu tiada berdaya menghalang pemberontak. Pemberontak menerobos masuk dengan memanjat rumah Khalifah dan menyerang beliau yang sedang membaca al- Qur’an, lalu mereka bunuh. Istri beliau yang berusaha menghambat serangan kaum pemberontak, jari tangannya putus akibat terkena pukulan kaum pemberontak.

Wafat

Khalifah Usman kemudian dikepung oleh pemberontak selama 40 hari dimulai dari bulan Ramadhan hingga Dzulhijah. Beliau diberi dua ultimatum  oleh  pemberontak, yaitu mengundurkan diri atau dibunuh. Meski Usman mempunyai kekuatan untuk menyingkirkan pemberontak, namun ia berprinsip untuk tidak menumpahkan darah umat Islam. Usman akhirnya wafat sebagai syahid pada bulan Dzulhijah 35 H ketika para pemberontak berhasil memasuki rumahnya dan membunuh Usman saat sedang membaca Al-Quran. Persis seperti apa yang disampaikan Rasullullah Saw. Perihal  kematian  Usman yang syahid nantinya. Peristiwa pembunuhan Usman berawal dari pengepungan rumah Usman oleh para pemberontak selama 40 hari. Usman wafat pada hari Jumat 18 Dzulhijjah35 H. ia dimakamkan di kuburan Baqi di Madinah.