5/5 (1) Bahasa, Dialek, dan Tradisi Lisan di Indonesia

Bahasa, Dialek, dan Tradisi Lisan di Indonesia – Bertemu lagi bareng kita, budisyaqier.com yang senantiasa membahas mengenai segala ilmu pengetahuan yang pastinya perlu kalian ketahui. Dan kali ini budisyaqier.com berkesempatan untuk membahas Bahasa, Dialek, dan Tradisi Lisan di Indonesia. Mari langsung saja simak baik-baik ulasan di bawah.

Pada artikel yang sebelumnya telah dibahas perbedaan pengertian bahasa serta dialek. Berdasarkan sudut pandang politik, bahasa bisa didefinisikan sebagai sistem komunikasi verbal yang secara sah telah di terima sebagai bentuk bahasa nasional, sedangkan dialek tidak memperoleh kedudukan yang spesial sebagai bahasa baku di antara dialek-dialek lainnya di suatu negara.
Di dalam masyarakat terdapat beraneka ragam bahasa dan dialek. Berdasarkan stratifikasi atau tingkatan lingkungan sosial budayanya terdapat jenis bahasa baku, bahasa sehari-hari, slang, cant, serta jargon. Selain itu, terdapat pembagian bahasa berdasarkan pada aspek tempat atau geografis suatu bahasa.

Baca Juga : Rumpun Bahasa di Indonesia

Sebuah ragam bahasa yang dipakai di suatu wilayah tertentu lambat laun akan melahirkan suatu variasi bahasa yang berbeda-beda lafal, tata bahasa, serta tata berarti dengan bahasa lainnya. Menurut beberapa ahli linguistik perbedaan dialek dapat dibagi menjadi lima jenis, diantaranya seperti berikut.

  1. Perbedaan fonetik atau Perbedaan fonetik adalah perbedaan tata bunyi vokal atau konsonan suatu bahasa. Perbedaan tata bunyi tersebut menyebabkan pemakai suatu dialek atau bahasa tidak menyadari adanya perbedaan tersebut. Misalnya, tata bunyi kata cerme yang berarti buah cerme dalam bahasa Sunda, ada or- ang yang mengucapkan careme atau cereme.
  2. Perbedaan semantik, yaitu terciptanya kata-kata baru berdasarkan perubahan fonologi, pergeseran bentuk, dan makna Berdasarkan jenisnya, perbedaan semantik suatu bahasa dibagi menjadi dua jenis, antara lain sebagai berikut.
    1. Pemberian nama yang berbeda untuk sebuah istilah yang sama di suatu Misalnya, dalam bahasa Sunda, perbedaan kata turi dan tury untuk menyebut kata pohon turi, serta balingbing atau calingcing untuk menyebut pohon belimbing. Perubahan semantik tersebut dikenal dengan istilah sinonim atau padan kata.
    2. Pemberian nama yang sama untuk sebuah istilah yang berbeda di suatu daerah. Misalnya, istilah meri untuk menyebut nama itik dan anak itik dalam bahasa Sunda. Perubahan semantik tersebut dikenal dengan istilah homonim.
  3. Perbedaan onomasiologis, yaitu perbedaan istilah di beberapa Misalnya, istilah menghadiri kenduri di beberapa daerah pemakai bahasa Sunda tertentu ada yang disebut ondangan, kondangan, atau kaondangan, sedangkan di beberapa tempat lainnya disebut nyambungan. Perbedaan ini disebabkan adanya tanggapan atau penafsiran yang berbeda mengenai kehadiran seseorang di tempat kenduri tersebut. Istilah kondangan, ondangan, dan kaondangan didasarkan kepada penafsiran bahwa kehadiran sese- orang pada acara tersebut adalah karena diundang oleh pemilik rumah, sedangkan istilah nyambungan didasarkan kepada penafsiran bahwa kehadiran seseorang dalam sebuah acara kenduri adalah karena adanya keinginan untuk menyumbang barang kepada orang yang mengadakan acara kenduri

Baca Juga : Perkembangan Bahasa dan Dialek

  1. Perbedaan semasiologis, yaitu pemberian nama yang sama untuk beberapa konsep yang berbeda. Misalnya, pengucapan frase-frase rambutan Aceh,pencak Cikalong, dan orang yang berhaluan kiri yang hanya diucapkan sebagai Aceh, cikalong, atau kiri saja. Padahal apabila dijabarkan istilah Aceh mempunyai lima buah makna, yaitu nama suku bangsa, nama daerah, nama kebudayaan, nama bahasa, dan nama sejenis rambutan.
  2. Perbedaan morfologis, yaitu perbedaan sistem tata bentuk.

Berikan Bintang Untuk Penulis

%d blogger menyukai ini: