5/5 (1) Perang Melawan Penjajahan Kolonial Hindia-Belanda

Perang Melawan Penjajahan Kolonial Hindia-Belanda – Indonesia merupakan negara yang pernah dijajah oleh beberapa negara. Salah satu negara yang paling lama menjajah Indonesia adalah Belanda, yaitu selama kurang lebih 350 tahun. Selama penjajahan terjadi, tentu saja banyak pertempuran yang terjadi untuk memerangi penjajah dan mencapai Indonesia merdeka. Inilah beberapa perang sebagai upaya melawan penjajahan kolonial Hindia-Belanda yang tentu saja bermanfaat untuk disimak.

Pertempuran Tondano I

Sebelum Belanda datang, bangsa Spanyol telah menjalin hubungan dagang yang baik dengan masyarakat Minahasa.  Kemudian, datanglah Belanda pada abad ke-17 dan menganggu hubungan tadi. Hal ini dilakukan dengan memberikan pengaruh di Ternate. Akhirnya gubernur Belanda, Simon Cos tidak lagi menjalin hubungan dengan Spanyol.

Guburnur kala itu, bertugas memberikan pengawasan di wilayah pantai timur, dengan demikian baik pedagang Minahasa maupun Spanyol tersingkir. Pihak Belanda melakukan pemaksaan, sehingga beras milik pedagang asal Minahasa dijual kepada pihaknya. Namun, masyarakat Minahasa tidak mau melakukannya, sehingga pecahlah peperangan. Belanda melakukan segala upaya demi mengalahkan Minahasa.

Upaya tersebut dilakukan dengan membangun bendungan di sungai Temberen. Dengan demikian, air menjadi meluap dan kebanjiran terjadi hingga ke rumah penduduk. Akibat adanya musibah ini, maka masyarakat Minahasa migrasi ke danau Tondano menggunakan rumah apung. Namun, pihak Belanda kembali melakukan pengepungan di Tondano.

Akibat adanya pengepungan tersebut, Simon Cos sebagai wakil Belanda memberikan ultimatum sebagai berikut.

  1. Masyarakat Tondano wajib memberikan ganti rugi berupa penyerahan budak, 50 hingga 60 orang karena meluapnya sungai, padi menjadi rusak.
  2. Pemberontak asal Tondano wajib untuk diberikan ke pihak Belanda.

Namun, ultimatum tersebut tidak dipatuhi oleh masyarakat Tondano. Oleh karena itu, Belanda mundur menuju Manado.

Ketika Belanda tidak lagi berada di Tondano, justru tidak ada yang membeli hasil pertanian. Sehingga, akhirnya diputuskan untuk membujuk pihak Belanda agar membeli. Dengan demikian, perang berakhir dan hubungan dagang berlangsung.

Pertempuran Tondano II

Peperangan terjadi di sekitar abad ke XIX. Pertempuran pecah karena gubernus Daendels (pihak Belanda), diberikan mandat untuk mempertahankan wilayah Jawa dari serangan Inggris. Belanda juga ikut berperan dalam peristiwa perekrutmen bagi para tenaga dari pribumi dalam hal membantu pihak Belanda melawan Inggris.

Pihak Belanda hanya memilih suku pribumi yang mempunyai keberanian dalam hal berperang. Suku-suku tersebut diantaranya Madura, Minahasa, dan Dayak. Target pengumpulan pasukan sebanyak 2000. Namun, penduduk pribumi tidak setuju dengan adanya hal ini. Sehingga, menimbulkan peperangan, antara pihak penduduk Minahasa dengan Belanda.

Pemimpin Minahasa yang terkenal kala itu bernama Ukung Lonto. Perlawanan yang dilakukan selain menolak usulan tersebut yaitu tidak menerima pemberian beras yang diberikan secara gratis. Dengan demikian, meletuslah perang Tondano II, yakni 23 Oktober tahun 1808.

Pihak Belanda kembali melakukan taktik sama seperti sebelumnya, yaitu membangun bendungan di sungai Temberan. Selain itu, dibentuklah pasukan dengan dua titik serangan yang berbeda, pasukan I di Tondano, sedangkan pasukan II di Minawanua. Pasukan I mendapatkan keberhasilan dengan menghancurkan pertahanan dari penduduk Minahasa di wilayah Minawarna. Meskipun serangan dilakukan pada malam hari, namun penduduk Minahasa pantang menyerah, sehingga Belanda juga menjadi kewalahan.

Meletuslah perang pada 24 Oktober tahun 1808. Serangan dari  Belanda terus menerus dilakukan hingga kehidupan di Minahasa seperti menghilang. Serangan balik dilakukan oleh pihak Minahasa, sehingga Belanda pun mengalami kekalahan. Bahkan, senjata makan tuan pun terjadi, sungai yang telanjur dibendung justru meluap, sehingga pihak Belanda juga kewalahan. Perang ini berakhir pada tahun 1809.

Itulah beberapa perang untuk melawan penjajah Belanda.

Berikan Bintang Untuk Penulis

%d blogger menyukai ini: